Berjalan Dalam Kasih 

Oleh Maggy Horhoruw
“Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah [tiru dan ikuti teladanNya], seperti anak-anak yang kekasih [meniru ayah mereka]” (Efesus 5:1, The Amplified Bible).

Anak-anak yang kekasih pasti meniru ayah mereka. Ini adalah fakta kehidupan yang kita akan temui di setiap kebudayaan, etnik, suku, dan ras. Secara natural kita selalu membalas budi. Kita memberi kemudahan kepada mereka yang pernah memberi kemudahan kepada kita. Kita membantu mereka yang membantu kita. Dan 1 Yohanes 4:19 berkata, “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.”

Perilaku membalas budi itu adalah sangat baik. Sebagai mahluk social, kita diharapkan untuk berlaku begitu. Kita akan dipandang tidak sopan atau kasar jika kita tidak membalas budi. Saya percaya setiap anak Tuhan telah berhasil melakukan hal ini. Saya tidak meragukan hal ini. Akan tetapi, Tuhan mengharapkan kita untuk meniruNya – mengikuti teladanNya.

Saya dengan bangga menyatakan bahwa saya adalah anak Tuhan. Saya mengaku bahwa saya lahir baru dari Tuhan. Saya mencari dahulu kerajaanNya dan kebenarannya agar Ia dapat menambahkan segala sesuatu ke dalam hidup saya – dan Ia melakukannya. Saya menjadikan FirmanNya sebagai aspek penentu dalam kehidupan pribadi, keuangan, social, professional, dan pelayanan saya. Saya meniruNya dalam segala area kehidupan saya. Tetapi, saya sering mendapatkan diri saya jatuh bangun meniru teladanNya dalam kasih.

Kasih Tuhan yang tidak rasional dan tanpa syarat

Tahukah anda bahwa Tuhan mengasihi anda dan saya dengan kasih yang tidak rasional dan tanpa syarat? KasihNya tidak rasional karena rasio kita, intelek kita tidak bisa menyerap dan tidak mengerti hal itu. Periksa ayat-ayat berikut ini.

Apakah anda pernah mempelajari 1 Korintus 13 dan 1 Yohanes? Apakah anda pernah menghabiskan waktu yang berkualitas untuk merenungkan ayat di mana Yesus berkata, “Janganlah kamu melawan orang jahat [yang menyakitimu]; melainkan siapapun yang menampar rahang atau pipi kananmu, berilah juga kepadanya yang satunya” (Mat. 5:39, The Amplified Bible).

Lalu Ia melanjutkan, “Dan kepada orang yang hendakmengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil” (Mat. 5:40-41). Ia juga berkata, “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat. 5:44).

Terlalu banyak yang dituntut dari kita, khan? Yesus tidak berhenti di situ. Ia melanjutkan dengan berkata, “Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian?” (Mat. 5:46-47). Setelah mengkritik perilaku natural kita untuk membalas budi, Yesus juga berani-beraninya mengharapkan kita untuk menjadi sempurna dalam kasih sama seperti Bapa surgawi (baca Mat. 5:48).

KasihNya tidak bersyarat karena Alkitab berkata, “Akan tetapi Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Rm. 5:8). Mau bagaimana lagi? KasihNya sangat indah! Bayangkan ini, saya berbuat dosa semaunya dan Ia mengasihi saya sama seperti sekarang Ia mengasihi saya saat saya melayaniNya. Ia tidak menunggu sampai saya bertobat dan berjalan lurus. Ia mengambil langkah pertama untuk mengasihi dan mengampuni saya. Wow! Sekarang, bagaimana mungkin saya tidak mengasihi Tuhan semacam itu? Kalau anda menerima pewahyuan mengenai kasihNya kepadamu, tidak mungkin anda ingin berbuat dosa dan menentang kehendakNya.

Definisi Tuhan Mengenai Kasih

Apa itu kasih ilahi? 1 Korintus 13 mengatakan demikian, “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.”

Jika kita dengan cermat mempelajari karakter kasih Tuhan seperti tertulis di atas, kita akan tahu bahwa karakter-karakter tersebut menyatakan siapa Tuhan karena “Allah itu kasih” (1 Yoh. 4:16). Kalau Tuhan itu kasih, maka apapun yang Ia kerjakan pastinya adalah tindakan kasih. Yesus berkata bahwa Ia hanya melakukan apa yang Ia lihat Bapa kerjakan (baca Yoh. 8:38) dan oleh karena itu apa yang Yesus ajarkan berarti kasih karena “Allah itu kasih.”

Akan tetapi, kalau anda membaca cerita-cerita tentang Yesus dalam Matius, Markus, Lukas dan Yohanes, Yesus tidak terlalu sabar dan murah hati kepada orang Farisi dan Saduki begitu juga kepada orang banyak yang mengikutiNya serta murid-muridNya. Yohanes 6:60-67 menceritakan banyak muridNya yang meninggalkanNya karena perkataanNya yang keras. Ia bahwa menanyakan kepada kedua belas murid pertamaNya kalau mereka juga mau meninggalkanNya. Ini yang saya suka dari Yesus; Ia tidak basa basi dalam mengekspresikan diriNya.

Yesus langsung mengatakan kebenaran tanpa melihat apakah orang siap mental untuk mendengarnya atau tidak. Karena Ia melayani seperti apa yang Ia lihat Bapa kerjakan, berarti Bapa melalui Roh Kudus tidak pernah menunggu sampai kita siap mental untuk mendengar kebenaran tentang diri kita sendiri.

Aduh! Tidak heran perasaan saya sakit kalau Tuhan menegur saya. Akan tetapi, sekarang saya tahu bahwa perasaan saya tidak ada hubungannya dengan Firman Tuhan. Perasaan saya harusnya tidak masuk dalam hitungan untuk menaati FirmanNya. Saya mengikuti Tuhan dengan roh saya dengan pimpinan Roh Kudus. Perasaan saya tidak ada artinya dalam hidup saya. Saya anjurkan kita semua mengucap syukur kepada Tuhan jika kita dihardik oleh FirmanNya atau hambaNya. Itu berarti kita belum terlalu jauh dariNya sehingga kita masih bisa mendengarNya. Itu adalah cara Tuhan menunjukkan kasihNya kepada anda dan saya. Puji Tuhan!

Mengasihi Seperti Tuhan Mengasihi

Apakah benar Yesus menuntut terlalu banyak dari kita untuk mengasihi seperti yang Ia perintahkan kepada kita? Ia berkata, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi”  (Mat. 22:37-40).

Apakah anda berpikir Tuhan akan meminta kita melakukan sesuatu yang tidak mampu kita lakukan? Mungkinkah kita mengasihi seperti Tuhan mengasihi? Tentu saja mungkin! Kita telah diperlengkapi untuk mengasihi seperti Tuhan mengasihi.

Monyet menghasilkan anak-anak monyet. Itu adalah hukum reproduksi natural. Sepasang manusia menginginkan seorang bayi manusia. Saya belum pernah bertemu dengan sepasang suami istri yang menginginkan seekor anak anjing yang lucu dari system reproduksi natural mereka. Anda pernah bertemu dengan orang semacam itu?

Alkitab berkata bahwa Tuhan itu kasih (1 Joh. 4:16). Kalau kita percaya Yesus adalah Kristus, kita lahir dari Tuhan (1 Yoh. 5:1). Jadi, kalau Tuhan itu kasih dan kita dilahirkan dari Tuhan berarti kita adalah anak-anak kasih. Betul kan? Kalau kita adalah kasih, tentu saja kita bisa mengasihi karena kodrat ilahi kita adalah untuk mengasihi. Kita memiliki semua potensi untuk mengasihi seperti Tuhan mengasihi. Kita hanya perlu mengembangkannya dan bertumbuh dalamnya.

Seorang anak manusia harus diajar untuk berlaku seperti seorang manusia. Itu alasannya orang tua mengajar anak-anaknya untuk minum, makan, berbicara, menggosok gigi, bermain dengan teman, dsb. Meskipun anak-anak mereka memiliki potensi untuk menjadi manusia, mereka tetap harus diajar untuk mengembangkannya dan bertumbuh dalamnya. Anak-anak selalu meniru orang tua karena itulah cara mereka diajar dan dilatih. Apakah anda menyukai orang tuamu atau tidak, anda selalu akan menjadi seperti salah satu dari orang tuamu. Mengapa? Karena anda tidak tahu berlaku yang lebih baik, kecuali anda melihat teladan lainnya maka mungkin anda akan bertumbuh berbeda. Ini sebabnya keluarga retak selalu menghasilkan keluarga retak lainnya.

Tuhan mengetahui siklus kehidupan ini dengan baik karena Ia pernah menjadi manusia melalui Yesus. Itu sebabnya Ia menyuruh kita memandangNya dan meniruNya (baca Ef. 5:1) karena Ia menjadi BAPA KITA sewaktu kita lahir baru. Sebagai anak-anakNya, kita diharapkan untuk mengikuti dan meniru teladanNya. Yesus berkata bahwa jika kita melihatNya, kita melihat Bapa yang mengirimNya (baca Yoh. 12:45).

Mungkin bagi kita, orang percaya yang lahir baru, untuk mengasihi seperti Tuhan mengaishi. Roh Kudus telah menyebarkan kasih Tuhan di hati kita (baca Rom. 5:5). Itu berarti kita tidak perlu berdoa agar Tuhan mencurahkan kasihNya kepada kita agar kita bisa mengasihi seperti Dia mengasihi. Itu juga berarti kasih kita kepada orang lain berasal dari dalam hati kita dan tidak tergantung kepada situasi eksternal. Kalau kasih kita bagi orang lain tidak tergantung kepada perbuatan mereka, berarti kita mengasihi orang dengan iman!!!

“Itu tidak mungkin, Maggy.” Tentu saja mungkin! Ingat: anda dilahirkan kembali dari Tuhan, Tuhan itu kasih, dan itu berarti anda adalah anak kasih. Anak kasih selalu cenderung untuk bertindak seperti kasih (sama seperti bayi monyet selalu cenderung bertindak seperti monyet). Anda memiliki buku panduan kasih yang sempurna, Alkitab. Anda memiliki contoh yang sempurna sebagai teladan, Tuhan Yesus. Anda memiliki Guru kasih yang siap panggil selama 24 jam, Roh Kudus. Anda diperlengkapi dengan kuasa yang sempurna untuk mengasihi, Urapan Yesus. Ya, anda sangat mampu untuk mengasihi seperti Tuhan mengasihi! Jadi, mari kita kembangkan kemampuan mengasihi kita agar kita menjadi sama terampilnya seperti Yesus berjalan dalam kasih.