Perhatikan anak-anak kecil dengan baik: bagaimana mereka berlaku dan berbicara. Perhatikan bagaimana mereka meniru orang tua mereka yang tercinta. Seorang anak perempuan senang memakai kosmetik ibunya, sepatu ibunya, dan baju ibunya. Seorang anak lelaki biasanya suka berpura-pura bahwa ia sudah besar dan berbicara seperti ayahnya, atau menirukan cara ayahnya mengemudi.
Tuhan berkata bahwa kita harus meniruNya sebagaimana anak-anak kekasih meniru ayah mereka (lihat Efesus 5:1). Kata dari bahasa Yunini yang diterjemahkan sebagai “meniru” adalah mimeomai yang berarti “seseorang peniru, seorang aktor.” Kata kerja ini selalu digunakan dalam nasihat, dan biasanya dalam konotasi waktu sekarang dan berkesinambungan (continuous tense dalam bahasa Inggris), sesuatu kebiasaan atau latihan yang konstan [Vine’s Complete Expository Dictionary of Old and New Testament Words, 1996]. Dengan penjelasan tersebut, “meniru Tuhan” jadi berkaitan erat dengan pembaharuan pikiran (lihat Roma 12:2 dan Efesus 4:23).
Produser film dari Hollywood selalu bersedia membayar dengan harga yang tinggi untuk aktor dan aktris yang memainkan perannya dengan sangat serius. Dan saat mereka sedang beraksi, kita berpikir mereka sungguh-sungguh seperti karakter yang mereka mainkan.
Kebanyakan aktor dan aktris selalu berkata bahwa mereka merenungkan karakter film dan skenarionya. Dalam beberapa kasus mereka juga melakukan pengamatan dari dekat terhadap karakter atau situasi yang harus mereka mainkan. Dalam film-film yang berdasarkan kisah nyata, wawancara mendalam dengan orang-orang yang terlibat dalam kisah sebenarnya biasanya juga dilakukan oleh aktor dan aktris. Disamping itu semua, mereka harus menghabiskan cukup banyak waktu dalam latihan dengan menggunakan hasil dari renungan, pengamatan dan wawancara mereka sampai mereka menguasai peran mereka tersebut.
Semua usaha ini dilakukan agar mereka dapat memainkan peran itu dengan baik seolah-olah mereka sendiri yang mengalami situasi itu. Ada peran yang mengharuskan seorang aktor atau aktris mengalami perubahan fisik (timbangan turun/naik, bentuk otot, potong/panjangkan rambut, dsb.). Itu berarti mereka harus menyangkal daging mereka meskipun mereka tidak menyukainya, akan tetapi mereka tetap melakukannya.
Akan tetapi, apakah secara rohani kita tidak salah jika kita meniru Tuhan? Banyak orang Kristen tersentak dengan pemikiran bahwa mereka harus berbicara dan berlaku seperti Tuhan. Agama telah mengajarkan bahwa tidak mungkin manusia, makhluk ciptaan, dapat berbicara dan berlaku seperti Tuhan, Sang Pencipta.
Lihat apa kata Tuhan berikut ini:
“Oleh karena itu jadilah penurut-penurut Allah [meniruNya dan mengikut teladanNya], sebagaimana anak-anak kekasih [meniru ayah mereka]” (Efesus 5:1, The Amplified Bible).
“Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup” (I Yohanes 2:6).
“…karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini” (1 Yohanes 4:17).
Ayat-ayat tersebut di atas harus meniadakan perdebatan apakah benar atau salah bagi kita untuk berlaku dan berbicara seperti Tuhan. Beberapa orang mungkin berkata, “Saudari Maggy, bukan Yesus yang mengatakan semua itu tetapi para Rasul.” Baik, mari kita lihat apa yang Yesus katakan tentang menjadi penurut Tuhan.
Akolotheõ, kata Yunani yang paling sering digunakan Yesus saat Ia memanggil keduabelas murid untuk “mengikuti”Nya. Vine’s Complete Expository Dictionary of Old and New Testament Words (1996) berkata bahwa kata ini digunakan secara kilasan sebagai “pemuridan.”
Banyak orang tidak bisa mengaitkan kata “pemuridan” dengan Kekristenan. Akan tetapi, waktu mereka mendengar kata itu dihubungkan dengan aliran Hare-Krishna atau ilmu hitam, maka tiba-tiba menjadi masuk akal dan dapat diterima. Orang bisa menerima para pengikut Hare-Krishna yang berlaku dan berbicara seperti guru mereka. Tetapi kalau hal itu dilakukan oleh orang Kristen, semuanya menjadi tidak bisa diterima. Iblis telah membelokkan kebenaran sedemikian rupa sehingga kebanyakan orang Kristen menolak untuk meniru Tuhan karena mereka berpikir itu hujatan bagi Tuhan.
Tentu saja TIDAK! inilah saatnya kita mencari pengertian yang sebenarnya tentang hal ini agar kita dapat mencampakkan tipuan iblis dan dengan bebas meniru Tuhan sampai kita menjadi sama serupa denganNya.
Jadi, mari kita anggap diri kita sebagai peniru-peniru (aktor dan aktris) dari Kerajaan Allah. Sewaktu kita menerim Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan kita, alias lahir baru, kita secara rohani mengambil komitmen mengikuti kelas akting dalam Kerajaan Allah. Sewaktu kita lahir baru, Tuhan memberikan kepada kita seorang Instruktur, yaitu Roh Kudus, untuk tinggal di dalam kita dan membimbing kita dalam semua jalan kita agar kita dapat hidup seperti Yesus. tuhan juga telah memberikan kepada kita Naskah (yaitu Alkitab) yang paling sempurna dimana kita dapat menemukan segalanya tentang Yesus – karakterNya, cara Dia bereaksi dalam situasi kehidupan, apa yang Dia katakan, dll.
Sekarang, Roh Kudus ialah INSTRUKTUR TERBAIK yang bisa kita dapatkan kalau kita mau meniru Tuhan. Roh Kudus ada bersama Tuhan waktu dunia diciptakan (lihat Kejadian 1:2). Roh Kudus akan mengajar, membimbing, mengingatkan kita apa yang harus dikatakan dan Ia akan menunjukkan kepada kita hal-hal yang akan datang” (lihat Yohanes 14:26; 16:13). Disamping itu, Ia akan memberikan kepada kita rahasia-rahasia tentang Yesus (lihat 1 Korintus 2:10-11).
Nah, instruktur semacam itu tidak akan pernah kita temukan di alam natural. Maksud saya begini, pikirkan seorang instruktur yang akan tinggal bersama kita dan tidak memanfaatkan kita, yang tidak akan putus asa menghadapi kita meskipun waktunya tidak terhingga dan tidak dibayar, yang akan memberikan semua rahasia untuk sukses – ini hanya sebagian kualitas dari Roh Kudus. Saya percaya TIDAK SEORANGPUN di dunia yang akan melakukannya seperti Roh Kudus. Yang perlu kita lakukan dalam hal kita sebagai peniru Tuhan hanyalah menuruti dan menaati Firman Tuhan yang tertulis dan Roh KudusNya.
Menurut dan
taat adalah hal-hal yang tersulit
untuk dilakukan oleh banyak orang Kristen. Mengapa? Karena mereka
berpikir begitu. Seperti Amsal 23:7 katakan, “Seperti yang ia pikirkan
dalam hatinya, seperti itulah ia sebenarnya” (King
James Versioni). Anda ingat keduabelas pengintai yang dikirim Musa ke
Kanaan? Mereka yang memberikan laporan buruk berkata kepada Musa dan umat
Israel: “Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak
yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti
belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami” (Bilangan 13:33).
Inilah yang terjadi dengan orang Kristen jaman sekarang. Misalnya, kita membaca perintah Tuhan untuk mengampuni kesalahan orang lain agar kita dapat menerima pengampunan dari Tuhan (lihat Markus 11:25). Bukannya menurut dan taat kepada Roh Kudus untuk mengampuni seseorang yang menyakiti kita, kita menghujani Roh Kudus dengan selusin alasan mengapa kita belum bisa melakukannya. Anda lihat yang terjadi di sini? Kita pikir kita tidak bisa karena luka hati yang disebabkan oleh orang itu kepada kita. Kalau kita berpikir kita tidak bisa, maka kita tidak mampu melakukannya.
Contoh lain. Kita membaca bahwa kalau kita menginginkan sesuatu, kita harus berdoa, percaya kita telah menerima, maka kita akan mendapatkannya (lihat Markus 11:24). Akan tetapi, ini yang banyak orang lakukan. Saat kita memiliki sebuah keinginan, kita berdoa dan berdoa dan berdoa tanpa percaya kita menerimanya. Baca lagi ayat itu, “Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” Anda lihat itu? Kita harus percaya bahwa kita telah menerima keinginan kita itu sewaktu kita berdoa, tetapi kita pikir kita harus percaya setelah kita berdoa.
Pikiran natural kita perlu dilatih untuk menuruti dan menaati Firman dan Roh Kudus. Sama halnya dengan seorang pemain film yang mengenakan pikiran dan sikap dari karakter yang ia mainkan, orang Kristen juga harus melakukan hal yang sama. “Biarlah pikiran ini ada di dalammu, sebagaimana ada di dalam Kristus Yesus” (Filipi 2:5, King James Version).
Mari kita jalani proses ini langkah demi langkah. Kita berada di kelas akting dengan Naskah (Alkitab) di tangan kita. Setelah membaca Naskah, kita merenungkannya – membayangkan diri kita dalam situasi itu agar kita dapat mengerti segala yang terlibat: emosi, intonasi suara, ekspresi muka, dsb. Kemudian kita latihan. Dengan pengertian mengenai situasi itu, kita melatih dialog kita, intonasi, gerakan tubuh dan ekspresi muka. Tentu saja, kalau ini akting kita yang pertama kali maka mungkin kita belum lancar. Tetapi semakin sering kita latihan, semakin sempurna kita melakukannya.
Sewaktu kita bertekun dalam ketaatan kita kepada Firman Tuhan dan Roh Kudus, itu berarti kita akan berlatih terus menerus berlaku seperti Tuhan dan memperkatakan Firman Tuhan. Sewaktu kita mendisiplinkan diri kita untuk berlaku dan berbicara dengan cara tertentu, maka selang beberapa waktu perilaku dan cara bicara itu akan menjadi sesuatu yang natural bagi kita. Jadi waktu iman kita dicobai atau diuji, kita akan segera berlaku dan berbicara seperti Tuhan.
Anda tahu?
Seorang aktor tidak disebut baik hanya karena ia mengaku demikian. Ia juga
tidak disebut baik hanya karena ia sangat baik selama latihan. Seorang
aktor disebut baik kalau ia teruji. Setiap kali sang sutradara berteriak
“Action!” – dalam kehidupan iman kita menyebutnya ujian iman – ia
bermain baik tanpa cacat.
Tuhan berkata bahwa jikalau kita setia dalam perkara kecil, maka kita akan diberi yang lebih lagi (lihat Matius 25:21,23; Markus 4:24). Dalam hal ini, apa yang kita lakukan SEKARANG dengan pengetahuan dan pengertian akan Firman Tuhan yang sudah disingkapkan oleh Roh Kudus kepada kita, akan menentukan seberapa jauh kita dapat berjalan dengan Tuhan. Jikalau kita dengan tekun dan setia melakukan Firman, maka semakin banyak pengetahuan dan pewahyuan akan Firman Tuhan yang diberikan, ditambah lagi dengan upah kita (lihat Ibrani 11:6).