Dalam perjamuan kudus ada perkataan yang paling saya hapal
karena semua pendeta yang memimpin perjamuan kudus di gereja saya selalu
mengatakannya. Perkataan itu kurang lebih berkata demikian, “Marilah, karena
segala sesuatunya telah tersedia.” Waktu itu saya tidak mengerti betapa dalam
dan dahsyatnya perkataan itu. Sesungguhnya hal itulah yang Allah Bapa sudah
kerjakan bagi manusia, baik bagi mereka yang sudah lahir baru maupun yang belum.
Tuhan
berfirman dalam Efesus 1:3-5, Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus
Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan
kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.
Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum
dunia dijadikan, supaya
kita kudus dan tak bercacat di hadapanNya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita
dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anakNya, sesuai dengan
kerelaan kehendakNya...
Kata
“karunia” itu adalah sebuah istilah perjanjian.
Sewaktu kita menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dalam kehidupan kita,
berarti kita menerima perjanjian keselamatan yang Allah Bapa telah materaikan
dengan darah Yesus. Kata
“karunia” mengandung arti, antara lain: pemberian yang baik, sempurna, dan
membawa pertambahan atau kemakmuran kepada yang menerimanya. Kata karunia sama
sekali tidak mengandung arti yang buruk atau pun negatif.
Kita khan tidak pernah mendengar seseorang berkata, “Wah, kasihan anak
itu “dikaruniai” banyak hutang oleh mendiang orang tuanya.”
Kalaupun ada, perkataan itu merupakan sindiran yang tajam dan pedas
sekali.
Kita
memasuki sebuah perjanjian karena kita ingin mendapatkan yang lebih baik dari
pada yang bisa kita peroleh sendiri. Contohnya, kita menandatangani perjanjian
kerja dengan sebuah perusahaan karena hal itu saling menguntungkan. Kita menyetujui terjalinnya perjanjian dengan perusahaan itu
karena kita melihat bahwa perjanjian itu dapat membawa kita kepada kondisi
keuangan yang lebih baik. Contoh
lain, cincin pernikahan menandakan terbentuknya perjanjian pernikahan dimana
kehidupan kedua belah mempelai akan lebih baik dari pada jika mereka
menjalaninya sendirian.
Dalam setiap
jenis perjanjian, semua pihak yang terlibat harus melakukan kewajiban
masing-masing untuk menerima hak/keuntungan yang sepantasnya.
Jika salah satu pihak tidak melakukan kewajibannya maka pihak yang lain
akan dirugikan. Demikian juga
halnya dengan perjanjian kita dengan Allah Bapa.
Kita punya kewajiban terhadap Allah Bapa dan begitu juga Allah Bapa
terhadap kita. Satu hal yang perlu
kita ingat bahwa Dia yang berjanji adalah setia (baca 1 Tes. 5:24; 2 Ptr. 3:9; 2
Tes. 3:3; 2 Tim. 2:13; Ibr. 10:23; Ibr. 11:11; 1 Ptr. 4:19; 1 Yoh. 1:9).
Dari
Kejadian hingga Wahyu, tertulis jelas bahwa Tuhan yang kita sembah dalam nama
Yesus Kristus adalah Tuhan yang setia. Dia
adalah Tuhan yang tidak pernah lalai melakukan bagianNya.
Kalau Dia selalu melakukan bagianNya, berarti seharusnya kita selalu
menerima hak kita. Tetapi mengapa seringkali kita masih tidak menerima dari
Tuhan? Meskipun kita telah
melakukan segala yang kita tahu (pengakuan iman, doa syafaat, puasa, doa semalam
suntuk, dsb.), tapi tetap saja kita tidak menerima seperti yang Alkitab katakan
bisa kita terima. Yang menganggur
tetap menganggur, yang miskin tetap miskin, yang berpenyakit tidak sembuh, yang
berhutang makin banyak hutangnya.
Banyak orang
yang gagal menerima dari Tuhan dan mereka langsung menjadi ahli dalam berdalih
(bahasa Jakartanya adalah ngeles). Ada
yang langsung berpaling ke iblis serta menudingnya sambil mengutip Yohanes
10:10, Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan...
Betul iblis adalah pencuri...dan kalau dia berhasil mencuri dari kita
berarti dia sudah melakukan tugasnya dengan baik—angka 100 untuknya.
Salah siapakah kalau pencuri bisa berhasil mencuri?
Pastinya bukan salah si pencuri. Iblis
sungguh adalah pencuri!!! Tidak ada
gunanya kita berdiri dan menuding iblis terus-terusan setiap kali kita gagal
menerima hak kita. Kita tidak bisa
mengharapkan iblis untuk bertobat dan tidak mencuri lagi.
Tahukah anda bahwa itu adalah pekerjaan yang sangat sia-sia?
Dia iblis dan neraka adalah bagiannya.
Kita bisa menuding dan memaki iblis karena mencuri sampai tenggorokan
kita kering pun, dia akan tetap mencari kesempatan untuk mencuri lagi dari kita
(baca kembali Yoh. 10:10). Jadi
yang perlu kita kerjakan adalah berjaga-jaga dalam roh, yaitu mencari tahu apa
yang harus kita kerjakan agar iblis tidak bisa mencuri lagi dari kita.
Ada
lagi yang begitu gagal langsung mengutip Pengkhotbah 3:1, Untuk segala
sesuatu ada masanya... Sudah ditawari pekerjaan kemudian tiba-tiba
dibatalkan lalu kita berdalih, “Mungkin belum saatnya aku mendapatkan
pekerjaan. Khan segala sesuatunya
ada masanya kata Tuhan.” Tahukah anda bahwa alasan ini sangat “basi.” Alasan ini hanya lumrah dipakai oleh orang yang pasrah, alias
orang yang berpedoman “kerja oke, nganggur juga oke asal dekat dengan
Tuhan.” Kalau kita sudah
menganggur selama enam bulan, berarti sekarang adalah waktunya untuk kita
bekerja. Tuhan tidak pernah menahan
kita untuk tidak bekerja hanya agar kita bisa “bersekutu dengan dia” atau
“mengenal dia.”
Tidak
banyak orang, yang gagal menerima, yang mau datang ke Tuhan dan bertanya
“Mengapa aku tidak menerima yang seharusnya aku bisa terima?
Adakah yang harus kulakukan tetapi tidak kulakukan, Tuhan?”
Tidak banyak orang datang ke Tuhan dengan hati yang ingin diajar.
Sayang sekali!! Padahal “paket” Perjanjian dengan Allah Bapa itu
disertai dengan Pembimbing yang bertugas 24 jam dan tinggal di dalam hati kita,
yaitu Roh Kudus. Tetapi apabila
Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh
kebenaran, sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diriNya sendiri, tetapi segala
sesuatu yang didengarNya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan
datang (Yoh. 16:13). ...tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan
diutus oleh Bapa dalam namaKu, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu
kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu
(Yoh. 14:26). Kemudian Tuhan juga
menganjurkan kita untuk bertanya kepada Roh Kudus jika kita tidak mengerti akan
hal-hal rohani (baca Yak. 1:5).
“Jadi,
kalau Tuhan selalu mengerjakan bagianNya, mengapa aku kok kadang-kadang terima
janji Tuhan kadang-kadang tidak?” Pasti
pertanyaan ini ada di dalam hati anda. Pertanyaan
yang sama pun timbul di hati saya ketika saya mengetahui bahwa Tuhan tidak
pernah lalai melakukan bagianNya dan selalu memberi tepat pada waktuNya.
Ibaratnya
Allah Bapa itu stasiun pusat televisi. Kita
adalah pemilik TV yang menerima gelombang siaran.
Kalau TV kita tidak menangkap gambar ataupun suara dengan jelas, kita
pastinya tidak akan menelepon stasiun TV tersebut lalu menyalahkan mereka karena
tidak mengirimkan signal yang jelas. Kalau
TV kita tidak menangkap gambar ataupun suara dengan jelas dari sebuah stasiun
TV, maka yang kita kerjakan adalah menyesuaikan saluran gelombang TV kita agar
dapat menangkap dengan jelas (alias tuning).
Kalau itu pun tidak menghasilkan gambar dan suara yang diinginkan, maka
kita akan memeriksa antene TV kita (misalnya letaknya kurang tinggi, atau
terhalang oleh gedung tinggi sebelah rumah kita).
Saya pernah
jalan-jalan melintasi daerah propinsi Sumbar dari perbatasan propinsi Jambi.
Daerah yang saya dan rombongan lalui adalah daerah pegunungan yang cukup
tinggi sehingga udaranya sejuk sekali. Yang
saya herankan adalah rumah-rumah penduduk setempat hanyalah rumah panggung
sederhana yang terbuat dari kayu, akan tetapi hampir setiap rumah memiliki
parabola. Kemudian saya mendapatkan informasi bahwa mereka harus memiliki
parabola jika mereka mau menonton acara TV selain siaran TVRI.
Alasannya mengapa mereka tidak dapat menggunakan antene TV yang biasa
adalah karena mereka tinggal di balik pegunungan yang cukup tinggi sehingga
siaran TV dari stasiun-stasiun swasta tidak dapat tertangkap dengan jelas.
Matius 6:33
berkata, Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya
itu akan ditambahkan kepadamu. Allah
Bapa, dapat kita ibaratkan sebagai stasiun pusat TV, selalu menyiarkan
berkat-berkatNya kepada kita dengan baik, sempurna, dan tepat waktu.
Oleh karena itu jika kita tidak dapat menangkap berkat-berkatNya
dengan baik, sempurna dan tepat waktu, berarti yang perlu diperbaiki (tuning)
adalah diri kita. Hati kita perlu
penyesuaian (tuning) agar dapat menangkap siaran Kerajaan Allah yang
tepat agar apapun yang kita terima dari Kerajaan Allah selalu yang baik,
sempurna dan tepat waktu. Seringkali
kita tidak mau terlalu repot-repot menyesuaikan diri.
Banyak dari kita yang cukup puas hanya dengan sekedar mendapatkan suara
saja tanpa gambar, atau gambar tanpa suara, atau gambar yang samar-samar, atau
gambar yang dobel. Ada beberapa dari kita yang terhalang oleh “pegunungan
masalah” sehingga harus bekerja lebih keras dari yang lain untuk mendapatkan
kebenaran itu agar bisa keluar dari masalah itu.
Jangan
cukup puas dengan apa yang anda miliki saat ini, apakah hal itu sudah cukup baik
bagi standar manusia maupun belum cukup baik.
Yang saya yakin, apapun yang anda sudah miliki saat ini pastinya belum
yang paling baik dan paling sempurna yang anda bisa terima dariNya.
Kita menyembah Tuhan yang empunya alam semesta.
Jika anda sudah memiliki pekerjaan yang baik, terus perbaharui pikiran
anda dan belajar percaya untuk kenaikan jabatan yang supranatural.
Jika anda sudah bisa kontrak rumah dan tidak pernah menunggak, jangan
berhenti di situ. Belajar percaya
bahwa Tuhan dapat memberikan anda rumah sendiri.
Kalau anda sudah menerima kesembuhan ilahi, kembangkan iman anda dan
percaya bahwa anda tidak perlu sakit apapun lagi seumur hidup anda.
Apakah
saya mengajarkan anda untuk menjadi tidak pernah puas dan tidak bersyukur atas
apa yang dimiliki? Sama sekali
tidak! Saya hanya mengundang anda untuk lebih lagi mencari
kebenarannya agar Tuhan dapat menambahkan kedalam kehidupanmu segala sesuatu
yang anda perlukan untuk hidup penuh dengan damai sejahtera di bumi ini seperti
di surga. Saya hanya mengundang
anda untuk terus menerus menggali hikmat Tuhan agar anda dapat menerima yang
lebih dari apa yang anda pikirkan dan doakan seperti yang Dia janjikan di Efesus
3:20.
Terpujilah
Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan
kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Sebab di dalam Dia Allah
telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat
di hadapanNya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus
Kristus untuk menjadi anak-anakNya, sesuai dengan kerelaan kehendakNya...
(Efesus 1:3-5).
FirmanNya
berkata bahwa Dia telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani.
Karena Dia mengaruniakannya kepada kita, berarti segala berkat rohani itu
akan membuat kita makmur dan tidak kekurangan apapun.
Dimana kita seharusnya hidup makmur dan tidak kekurangan sama sekali?
Di bumi tentu saja. Anda
ingat kalimat dalam doa Bapa Kami yang berkata, “Jadilah kehendakMu di bumi
seperti di surga”? Yesus
mengajarkan agar kita berdoa supaya kehendak Bapa terjadi di bumi seperti halnya
yang terjadi di surga. Kalau anda
mengatakan bahwa hanya di surga kita bisa hidup makmur dan tidak kekurangan
apapun, berarti seharusnya kita juga hidup seperti itu di bumi ini.
Kalau tidak, berarti Yesus salah mengajarkan doa kepada kita...dan tentu
saja Yesus tidak mungkin salah, bukan?!
Disamping
itu, segala berkat rohani itu sudah dikaruniakan kepada kita sebelum dunia
dijadikan. Dahsyat sekali Bayangkan,
sebelum dunia terbentuk Allah Bapa telah menentukan bagi kita untuk memiliki
segalanya. “Tetapi itu khan
berkat rohani, bukan materi.” Pasti
anda bertanya demikian di dalam hati. Tentu saja awalnya rohani.
Tuhan saja menciptakan dunia dengan hal yang rohani, yaitu firmanNya
(Ibr. 11:3). Tetapi hasilnya adalah
materi, bukan?
Sekarang
mari kita lihat Adam. Tuhan tidak pernah mengajarkan Adam untuk bercocok tanam.
Tuhan khan tidak memberikan sebuah cangkul dan sebakul benih kepada Adam
agar Adam bisa bercocok tanam di taman itu.
Tuhan membuat taman itu indah dan penuh dengan hal-hal yang baik, bahkan
ada sistim irigasi sehingga Adam tidak perlu berlelah-lelah menyirami taman itu
(baca Kej. 2:10). Segala yang ada
di Taman Firdaus itu diberikan oleh Tuhan kepada Adam untuk mengusahakan dan
memeliharanya (Kej. 2:15). Adam
dikaruniai sebuah taman dan dijadikan pemilik serta manajer taman itu.
Kalau itu adalah rencana awal Tuhan bagi Adam, berarti itu juga masih
tetap rencanaNya bagi kita semua—yaitu menjadi pemilik dan manajer bumi ini.
Tuhan mau manusia ciptaanNya berkuasa atas seluruh bumi (Kej. 1:26).
Anda harus tahu bahwa taman Firdaus itu bukan di surga melainkan di bumi.
Pastinya di surga tidak ada larangan sama sekali bukan?
Saya yakin bahkan tulisan “Dosa dilarang masuk” pun juga tidak ada di
pintu surga.
Kalau
kita lihat kembali bagaimana Tuhan menyediakan segalanya untuk Adam nikmati dan
kelola, berarti seperti itulah kita seharusnya menikmati hidup di dunia ini.
Di taman Firdaus Adam memerintah dengan perkataannya. Setiap makhluk
diberi nama oleh Adam, bahkan kata “perempuan” adalah hasil kreasi Adam
(Kej. 2:23)—Tuhan sama sekali tidak campur tangan dalam pengelolaan taman itu.
Tuhan membiarkan Adam bebas berkreasi dengan perkataannya.
Bahkan Adam tidak perlu berkonsultasi dengan Tuhan mengenai nama yang
akan dia berikan kepada ciptaan Tuhan lainnya dan juga kepada pasangan hidupnya. Kebebasan berkreasi dan berkuasa dengan perkataan itulah yang
sekarang ini kita miliki.
Kuasa
untuk mencipta dan menaklukkan dengan perkataan tetap ada pada diri kita (Ams.
18:21). Dimana Tuhan sewaktu
perempuan itu dicobai iblis? Ya
tentu saja di taman itu dan matanya pasti tidak buta untuk melihat apa yang akan
terjadi. Lalu mengapa Tuhan tidak langsung membuat perempuan itu buta
atau membuat mulut Adam terkunci sehingga tidak bisa memakan buah terlarang itu?
Tuhan sangat menghargai manusia ciptaanNya yang Dia ciptakan serupa dan
segambar dengan diriNya. Manusia
diberi kebebasan berkehendak dan manusia harus menentukan pilihan untuk taat
kepadaNya. Tuhan tidak bisa memaksa
Adam untuk menaatiNya, meskipun Dia tahu akibatnya adalah kematian rohani bagi
Adam dan istrinya. Kalau saja Adam
saat itu memperkatakan apa yang Tuhan perintahkan kepadanya mengenai buah dari
pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, saya jamin istrinya tidak
akan makan buah itu. Adam juga bisa
mengusir iblis keluar dari taman itu dan pastinya iblis harus hengkang dari
tempat itu karena Adam menggunakan otoritasnya sebagai penguasa tempat itu.
Begitu
juga sikap Tuhan kepada kita saat ini. Matanya
selalu tertuju kepada kita. Dia
begitu mengasihi kita sehingga AnakNya yang tunggal dikorbankan untuk menanggung
segala dosa umat manusia agar manusia tidak perlu menanggung akibat dosa lagi.
Tetapi manusia tetap harus memilih untuk menerima keselamatan itu.
Tuhan tidak akan mencekoki kita dengan keselamatan.
Yesus mati dan bangkit kembali agar kita tidak perlu miskin, tidak perlu
hidup terlilit hutang, tidak perlu berpenyakitan, mandul, atau penuh kegagalan.
Semua hal yang baik dan sempurna sudah tersedia bagi kita untuk kita nikmati
(Ef. 1:3-5; Yak. 1:17; 1 Tim. 6:17). Tetapi
kita tetap harus mengambil keputusan untuk mau menerima semua yang baik dan
sempurna itu.
Banyak
orang yang berkata, “Siapa yang mau miskin? Ini khan di luar kemampuan aku?”
“Siapa sih yang mau sakit? Ini
khan memang penyakit orang tua seumur aku.”
Perkataan seperti itu menunjukkan bahwa kita memang kurang mengenal Tuhan
sehingga akibatnya kita bisa binasa (Hos. 4:6)—binasa keuangannya, atau binasa
keharmonisan keluarga, atau binasa tubuhnya. Cari tahu apa yang Tuhan sudah kerjakan di kayu salib bagi
anda. Cari tahu mengenai siapa kita
dalam Kristus. Kemudian renungkan semuanya itu dan kemudian perintahkan
berkat-berkat itu untuk datang kepada kita.
Kita perlu berlaku seperti Tuhan dengan memperkatakan berkat rohani itu
untuk terwujud ke dalam alam nyata (Rm. 4:17).
Ingat bahwa segala berkat rohani sudah diberikan kepada anda. Itu adalah milik anda dan kalau anda tidak mencari tahu apa yang menjadi milik anda, bagaimana anda bisa menikmatinya? Cari tahu dan ambil segala yang sudah menjadi milik anda. Saya sekarang sedang menikmati apa yang Tuhan sudah kerjakan di kayu salib. Kesehatan ilahi adalah milik saya dan sudah saya nikmati. Keuangan ilahi adalah milik saya dan sedang saya nikmati... inipun saya masih perlu perbaharui pikiran saya terus menerus agar saya dapat menerima lebih lagi dari Tuhan agar saya bisa memberi lebih banyak lagi pelayanan injil. Mari bergabung dengan saya, hidup dalam segala kelimpahan seperti yang Tuhan Yesus katakan (Yoh. 10:10).