Sebelum kita lahir baru (menerima dan mengaku Yesus adalah Tuhan) kita adalah orang-orang asing yang tidak mengenal perjanjian dengan Tuhan. “Bahwa waktu itu kamu TANPA KRISTUS,...tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia” (Ef. 2:12).
Kemudian setelah kita lahir baru, “Tetapi sekarang DI DALAM KRISTUS YESUS kamu, yang dahulu “jauh”, sudah menjadi “dekat” oleh darah Kristus... Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah” (Ef. 2:13,19).
Oleh darah Kristus, kita telah diangkat menjadi anggota keluarga Tuhan dan diperdamaikan dengan Allah Bapa. Ditambah lagi, di dalam Kristus kita mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan serta berpengharapan. Ada juga keuntungan yang lain dari kelahiran baru, Roh Kudus bersaksi bersama-sama dengan roh kita bahwa kita adalah anak-anak Tuhan sehingga kita bisa memanggil Tuhan, “Abba, Bapa” (Rom. 8:15-16).
Terlalu banyak orang Kristen yang masih melihat dirinya tidak layak menjadi anak Tuhan. Biasanya mereka berpendapat begitu karena mereka melihat apa yang mereka pernah lakukan, apa yang bisa mereka lakukan, dan apa yang menurut mereka pantas di mata Tuhan.
Sayangnya, mereka tidak pernah berpikir bahwa Tuhan tidak pernah memberikan apapun kepada kita karena apa yang kita dapat perbuat bagiNya. Tahukah anda bahwa apapun yang kita lakukan tidak akan membuat kasih Tuhan kepada kita bertambah besar maupun berkurang? Karena Tuhan adalah kasih (1 Yoh. 4:8,16). Tahukah anda bahwa kegiatan rohani apapun tidak akan membuat kita benar di mata Tuhan kecuali dengan darah Kristus?
“Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi, yaitu kebenaran Allah dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan. Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan OLEH KASIH KARUNIA TELAH DIBENARKAN DENGAN CUMA-CUMA KARENA PENEBUSAN DALAM KRISTUS YESUS. Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darahNya... MaksudNya ialah untuk menunjukkan keadilanNya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus. Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! BERDASARKAN PERBUATAN? Tidak, melainkan BERDASARKAN IMAN (Rom. 3:21-27).
Jadi, saya sarankan anda saat ini juga terima kebenaran rohani ini. Kalau anda telah lahir baru, berarti anda secara rohani adalah anak Allah. Terima hal ini dengan iman. [Nah, kalau anda belum lahir baru, sebaiknya anda kembali ke halaman undangan dari situs ini dan ikuti doa yang tertulis di situ.]
Kalau kita sudah lahir baru dan menjadi anak-anak Tuhan, lalu apa gunanya? Apakah hal itu hanya berguna kalau kita sudah meninggal dan kita masuk surga? Tidak, sama sekali tidak! Jangan mau ditipu Iblis. Bukan itu saja keuntungannya menerima Yesus sebagai Juruselamat dan menjadikanNya Tuhan. Ingat apa yang Yesus katakan di Yohanes 10:10, “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” Yesus datang agar supaya kita bisa hidup dalam kelimpahan. Yang Yesus maksudkan di ayat itu bukanlah kehidupan yang berkelimpahan hutang, kemiskinan, penyakit, dan kegagalan. Yang dimaksudkan Yesus adalah kita berkelimpahan dalam segala hal yang baik dan sempurna, karena Allah Bapa hanya memberikan yang baik dan sempurna (baca Yak. 1:17).
Mari kita lihat apa gunanya kita lahir baru dan menjadi anak Tuhan. Mari kita lihat apa gunanya kita bisa memanggil Tuhan Allah, “Abba, Bapa”.
Seorang anak biasanya tidak perlu bekerja keras agar orang tuanya mau memberi dia makan atau membayar uang sekolahnya. Seorang anak wajarnya bisa datang kepada orang tuanya dan meminta kebutuhannya dipenuhi. Seorang anak bahkan tidak perlu memohon kepada orang tuanya untuk membayar uang sekolah. Orang tua yang normal biasanya telah memikirkan apa yang dibutuhkan anak-anaknya dan mereka akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan itu. Orang tua yang miskin sekalipun akan bekerja keras agar kebutuhan anak-anaknya dapat terpenuhi. Hanya keluarga yang sangat, sangat miskin yang mengharuskan anak-anaknya untuk bekerja agar seluruh keluarga bisa makan sesuap nasi. Meskipun demikian, hati orang tua itu pun pastinya tidak tega untuk melihat anak-anaknya bekerja. Kalau ada orang tua yang tega melihat anak-anaknya harus bekerja untuk membiayai sekolah mereka, saya pribadi berpendapat bahwa orang tua itu tidak normal dan jangan anda tiru!
Orang tua akan bersuka cita kalau mereka bisa memberikan yang terbaik kepada anak-anaknya. Lihat saja cara kita mendidik anak-anak kita. Apapun yang tidak kita miliki di masa kecil, kita berikan kepada anak-anak kita. Apapun keinginan masa kecil kita yang tidak terpenuhi, sekarang kita wujudkan di dalam kehidupan anak-anak kita.
Yesus berkata begini mengenai hati orang tua terhadap anak-anaknya: “Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya” (Mat. 7:9-11).
Sebagai anak-anak Tuhan, kita perlu bersikap sebagai anak dan bukan bersikap sebagai hamba. Seorang hamba akan menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan perkataan tuannya meskipun dengan hati terpaksa. Akan tetapi seorang anak akan mendekati bapanya, bersekutu, mendengarkan perkataan bapanya serta menurutinya dengan penuh rasa hormat dan kasih. Seorang hamba tidak akan mewarisi apapun dari tuannya akan tetapi seorang anak yang dikasihi akan mewarisi segala yang dimiliki oleh sang bapa. Seorang hamba bekerja keras untuk menyenangkan hati tuannya agar tuannya berkenan dan memberikan upah yang pantas. Akan tetapi seorang anak sudah memiliki segala yang dimiliki bapanya dan yang perlu dilakukan oleh sang anak adalah meminta kepada bapanya apa yang ia inginkan.
Menurut saya perumpamaan mengenai anak yang hilang di Lukas 15:11-32 adalah contoh yang paling tepat untuk kebanyakan orang Kristen masa kini. Dalam perumpamaan ini, sang bapa adalah gambaran dari Allah Bapa. Kita lihat karakter dan sikap dari kedua anak lelaki itu.
Anak yang bungsu tahu bahwa segala yang ayahnya miliki akan jatuh ke tangannya, jadi ia dengan berani datang ke bapanya dan meminta bagian warisannya. Karena ia berani meminta, ia mendapatkan bagiannya. Akan tetapi karena karakter anak itu belum matang terbentuk dan ia belum bijaksana, maka kemakmuran yang ia terima membawanya kepada kehancuran. Lalu dalam kemiskinannya ia teringat bagaimana enaknya kehidupan hamba-hamba ayahnya yang makanannya terjamin. Karena dosanya, ia tidak berani lagi menempatkan dirinya sebagai anak di hadapan bapanya. “Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa” (Luk. 15:18-19). Inilah sikap kebanyakan orang Kristen kalau mereka telah berbuat salah. Mereka langsung menyebut diri mereka tidak layak lagi melayani Tuhan, tidak layak lagi disebut anak Tuhan. Akan tetapi lihatlah apa yang sang bapa kerjakan. Begitu melihat anak bungsunya dari jauh, ia langsung berlari menjemput anaknya serta memeluk dan menciumnya. Perkataan anaknya yang merendahkan dirinya sendiri tidak ditanggapi oleh sang bapa. Ia malah sibuk memerintahkan para hambanya untuk mengadakan pesta untuk menyambut kepulangan anaknya (Luk. 15:20-24).
Sekarang kita lihat tanggapan dari anak yang sulung. Ia bukannya bersukacita karena adiknya yang hilang kembali dengan selamat, eh...dia malah iri hati. Ia iri hati dan marah, lalu ia ngambek dan tidak mau masuk ke dalam rumah untuk bergabung sehingga sang bapa harus keluar untuk berbicara dengannya. (baca Luk. 15: 25-28). Lalu mulailah ia berperkara dengan bapanya, “Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia” (Luk. 15:29-30).
Anda lihat itu? Kalau jaman sekarang, anak sulung ini bisa disamakan dengan pekerja pabrik yang menghadap bagian Personalia untuk menuntut bonus dan perlakuan adil dari pihak pengusaha. Lihat bagaimana anak sulung itu menyamakan dirinya sebagai hamba dengan berkata “Telah bertahun-tahun aku MELAYANI bapa....” Anak itu sungguh setia melayani bapanya dengan bekerja keras di ladang. Ia sungguh taat dan tidak pernah melanggar perintah bapanya. Akan tetapi ia tidak pernah bersikap seperti seorang anak.
Kalau anda baca Lukas 15:11-12, disitu tertulis bahwa sang bapa membagikan warisan kepada kedua anak lelakinya. Jadi, baik anak yang sulung maupun yang bungsu, keduanya mendapatkan bagian warisan masing-masing. Siapakah dari kedua anak itu yang bijaksana? Tidak seorang pun.
Anak yang bungsu bodoh dan tidak berhikmat sehingga tertipu setan dan kehilangan semua bagian warisannya. Sedangkan anak yang sulung, tidak kalah bodohnya dan tertipu setan sehingga ia tidak menikmati hidup berkelimpahan meskipun tinggal di tengah-tengah kelimpahan. “Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu” (Luk. 15:31).
Banyak orang Kristen yang sudah lahir baru dan menjadi anggota keluarga Tuhan (Ef. 2:19) akan tetapi tidak menikmati hidup sebagai anak-anak Tuhan. Segala yang Allah Bapa miliki telah dikaruniakan kepada Yesus. Kelahiran baru membuat kita menjadi anak dan ahli waris bersama dengan Kristus (Rom. 8:15-17, Gal. 4:6-7). Kita bisa memperoleh segala yang kita perlukan dan hidup dalam segala kelimpahan seperti yang dijanjikan Yesus di Yohanes 10:10.
Saya mengajak anda untuk berhenti bersikap dan berpikir seperti seorang hamba. Anda tidak perlu memikirkan apa yang anda bisa perbuat untuk Tuhan. Yang terlebih dahulu anda perlu lakukan adalah mencari tahu apa yang telah dikerjakan Allah Bapa melalui Yesus Kristus di kayu salib. Anda perlu tahu semua itu supaya anda tidak melakukan perkara-perkara yang sudah selesai dikerjakan oleh Yesus. Anda perlu tahu semua itu supaya anda tidak perlu berjuang untuk memperoleh hal-hal yang sebenarnya termasuk di dalam paket keselamatan kita (diantaranya adalah kemakmuran, kesehatan, keberhasilan, keberuntungan, damai sejahtera, sukacita). Itu sebabnya Yesus berkata, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat. 6:33). Yesus mau supaya kita, orang percaya, mencari tahu apa yang tersedia di dalam Kerajaan Allah agar kita bisa mengambil serta menikmatinya.
Anda harus berani meninggalkan semua kegiatan-kegiatan “rohani” yang tidak membuat manusia roh anda bertumbuh. Anda harus berani berhenti dari segala kegiatan agawamimu dan mencari tahu apa sesungguhnya yang sudah tersedia bagimu melalui imanmu kepada Kristus Yesus. Anda tidak perlu berhenti selama-lamanya, akan tetapi akan sangat berguna bagi kehidupanmu jika anda berhenti sejenak dari ritual atau kegiatan “rohani”mu, merenungkan firmanNya dan melakukan firmanNya agar anda bisa membuat jalan hidupmu berhasil (baca Yos. 1:8).
Banyak dari kita yang bermental hamba terhadap Allah Bapa. Mereka selalu sibuk memikirkan apa yang bisa mereka kerjakan untuk Tuhan, sama seperti anak sulung dari perumpamaan anak yang hilang di Lukas 15. Kalau saja anak yang sulung itu memiliki mental seorang anak, maka ia akan tahu bahwa bapanya telah memberikan segalanya kepadanya dan ia bisa memotong anak lembu tambun kapanpun ia mau. Mengapa anak itu sampai bisa tidak tahu akan warisannya? Karena ia terlalu sibuk memikirkan bagaimana ia bisa menyenangkan hati bapanya tanpa mencari tahu apa sesungguhnya kehendak bapanya. Ternyata bapanya tidak keberatan kalau si anak sulung itu bersukacita dengan teman-temannya sambil memotong hewan peliharaan yang tergemuk sekalipun. Tetapi karena ia tidak tahu hal itu maka ia tidak bisa menikmati apa yang seharusnya bisa ia nikmati. Ia sebenarnya tidak perlu menunggu “upah” dari hasil kerja kerasnya di ladang. Ia sesungguhnya dapat mengambil dan menikmati bagian warisannya kapan saja.
Wah, rugi sekali kalau kita tinggal satu kerajaan dengan Allah Bapa dan Yesus Kristus tetapi kita tidak menikmati fasilitas kerajaan Allah. Anda setuju khan? Tetapi inilah yang masih terjadi pada kehidupan orang Kristen. Mereka telah dilepaskan dari kuasa kegelapan dan dipindahkan kedalam kerajaan Yesus (Kol. 1:13), tetapi mereka tidak menikmati fasilitas kerajaan Tuhan. Karena ketidak-tahuan mereka, mereka masih hidup dalam tipu daya iblis yang mengatakan bahwa mereka memang tidak bisa hidup lebih baik karena memang itulah roda kehidupan – kadang-kadang di atas, kadang-kadang di bawah.
Semenjak saya tahu bahwa “Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan AnakNya yang kekasih” (Kol. 1:13), maka dengan sukacita saya percaya firman itu dan saya mau menerimanya sebagai kenyataan dalam kehidupan saya. Sejak itu pula saya mulai bertindak agresif dan menolak segala bentuk kekurangan dan kegagalan dalam hidup saya. Bagaimana saya menolaknya?
Saya berkata kepada kekurangan di keuangan saya dan kegagalan dalam hidup saya bahwa mereka harus pergi karena saya tidak berada di bawah kuasa mereka lagi. Saya berkata kepada kekurangan dan kegagalan bahwa saya sudah terlepas dari mereka dan saya sudah memiliki hidup dalam segala kelimpahan melalui Yesus Kristus. Anda lihat bahwa saya melakukan Markus 11:22-24.
Dan apa hasilnya berkata-kata kepada kekurangan dan kegagalan dalam hidup saya? Ketika saya mulai menolak, kekurangan dan kegagalan masih sedikit enggan untuk meninggalkan kehidupan saya – mungkin karena sudah terlalu lama saya biarkan saja, mereka jadi merasa seperti di rumah sendiri. Tetapi setelah berulang kali saya tolak – setiap kali menjelang akhir bulan dan kelihatannya uang seret secara natural – kekurangan dan kegagalan akhirnya pergi dan saya tidak akan pernah menjadi lengah dan membiarkan kekurangan dan kegagalan masuk kembali dalam hidup saya. Lalu hasilnya, saya sekarang hidup dalam kelimpahan ilahi.
Hal yang sama juga saya lakukan terhadap sakit penyakit. Saya setuju sekali dengan karya keselamatan Yesus yang juga memberikan kesembuhan kepada saya (baca 1 Pet. 2:24), sebab dari dulu saya tidak suka minum obat. Dan ternyata dengan menolak dan melawan gejala sakit penyakit dengan firman Tuhan, saya bisa hidup dalam kesehatan ilahi. Puji Tuhan saya tidak pernah sakit dan tidak perlu beli obat (meskipun obat untuk flu) selama dua tahun terakhir. Bukannya saya membenci dokter lho! Jangan salah sangka! Akan tetapi saya tidak mau dan tidak rela mengeluarkan uang untuk sesuatu yang Tuhan sudah kerjakan buat saya di kayu salib (dalam hal ini kesehatan). Lebih baik uangnya saya pakai untuk membantu pelayanan Tuhan agar Injil dapat disebarkan di seluruh pelosok dunia. Kalau anda belum mau menggunakan firman Tuhan untuk melawan penyakit dan anda masih lebih suka ke dokter, juga tidak apa-apa kok.
Untuk menerima segala yang Tuhan sudah kerjakan di kayu salib, Tuhan tidak pernah menuntut saya untuk rajin ke gereja, atau berdoa semalam suntuk, atau ikut sekolah Alkitab, atau jadi pengerja di gereja. Sama sekali tidak! Saya terima semuanya itu karena saya mendengar firman Tuhan, percaya di dalam hati, dan saya perkatakan hal itu sampai saya melihat hasilnya (baca Rom. 10:8-11). Saya melatih diri saya untuk menjadi anak Allah dan hidup sebagai anak Allah.
Hobi
Allah Bapa adalah memberi. Allah Bapa akan mengaruniakan kepada kita
segala sesuatu yang baik kalau kita meminta kepadaNya. Akan tetapi Ia
telah menetapkan satu prosedur yang tidak dapat diganggu gugat oleh
siapapun. Prosedur ini disebut iman. “Iman adalah dasar dari segala
sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita
lihat” (Ibr. 11:1). Bagaimana kita mendapatkan iman? Dengan mendengarkan
firman Tuhan (Rom. 10:17).
Bayangkan betapa sukacitanya hati Allah Bapa jika semua orang Kristen mengetahui apa yang tersedia bagi mereka dan mereka berani percaya (=iman) kepada firman Tuhan, kemudian mengambil serta menggunakan segala yang telah diberikan oleh Allah Bapa dalam Kerajaan Allah (baca Ibr. 11:6, Rom. 1:17). Bayangkan betapa kecewanya iblis jika semua orang Kristen berlaku demikian dan hidup dalam kelimpahan ilahi.