Apakah
takdir? Takdir, menurut pendapat banyak orang, adalah garis nasib
yang telah ditentukan Tuhan untuk kita lalui—Tuhan tidak peduli apakah kita
mau atau tidak mau, pokoknya kita harus melaluinya. Takdir, lagi-lagi
menurut pendapat banyak orang, adalah garis nasib yang Tuhan tentukan bagi
seseorang dan hal itu pasti terjadi meskipun Tuhan harus membawa “petaka”
bagi kita agar hal itu terjadi.
Mari kita lihat apa arti takdir menurut Alkitab.
Firman Tuhan di Efesus 2:10 berkata, Karena kita ini buatan Allah, diciptakan
dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik,
yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita
hidup di dalamnya.
Terjemahan The Amplified Bible dari Efesus 2:10
mengatakan, Karena kita ini buatan tangan Tuhan [sendiri], diciptakan kembali
dalam Kristus Yesus, [dilahirkan kembali] agar kita dapat melakukan
pekerjaan-pekerjaan baik yang Tuhan telah tetapkan (rencanakan) sebelumnya bagi
kita [untuk mengambil jalan-jalan yang telah Dia
persiapkan sebelumnya], supaya kita hidup di dalamnya [menjalani
hidup yang baik yang telah Dia atur dan persiapkan bagi kita].
Yang Tuhan telah sediakan buat kita adalah sesuatu yang baik.
Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, dari Bapa
segala terang... (Yak. 1:17). Jika anda membaca Yakobus 1:1-18 maka anda
akan mengerti bahwa Yakobus sedang mengajarkan bahwa pencobaan itu tidak berasal
dari Tuhan karena Tuhan hanya memberikan yang baik dan sempurna. Kalau Tuhan
hanya memberikan yang baik dan sempurna, berarti takdir, atau jalan hidup, atau
garis nasib yang telah Dia tentukan bagi kita pastinya juga baik dan sempurna.
Efesus 1:3-4 berkata, Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita
Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat
rohani di dalam sorga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia
dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapanNya. Takdir kita
adalah untuk kudus dan tak bercacat di hadapanNya serta berkelimpahan berkat
rohani.
Kemudian Yeremia 29:11 mengatakan bahwa Sebab Aku ini
mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah
firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan,
untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh pengharapan.
Jika rancanganNya adalah penuh damai sejahtera dan memberikan
pengharapan, berarti Tuhan tidak akan memberikan kita petaka. Malapetaka tidak memberi damai sejahtera dan tidak memberi pengharapan, dan
oleh karena itu pastilah bukan berasal dari Tuhan. Kalau begitu, siapa yang
memberi malapetaka itu? Siapa lagi kalau bukan Iblis yang selalu datang untuk
mencuri, membunuh dan membinasakan (Yoh. 10:10).
Tuhan telah menyiapkan bagi kita sebuah jalan kehidupan yang
baik dan Dia hanya menunggu kita untuk menjalaninya (baca kembali Ef. 2:10).
Oleh sebab itu jangan heran kalau Tuhan Yesus menyuruh kita untuk tidak kuatir
barang sedikit pun mengenai kebutuhan hidup kita sebab jika kita carilah
dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan
kepadamu (Mat. 6:25-34). Yesus juga menegaskan bahwa Dia datang ke dunia
agar kita dapat memiliki hidup yang berkelimpahan (Yoh. 10:10).
Firman Tuhan juga berkata bahwa, Ia sendiri telah memikul
dosa kita di dalam tubuhNya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap
dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilurNya kamu telah sembuh (1 Ptr.
2:24). Sakit penyakit adalah akibat dosa. Dan jika anda telah percaya dan
mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, maka anda seharusnya tidak
perlu sakit karena bilur-bilur Yesus di kayu salib sudah menyembuhkan anda.
Itulah sebagian firman Tuhan yang menyatakan apa takdir kita
dalam Kristus Yesus. Kita seharusnya hidup tidak kekurangan, memiliki kesehatan
prima, dan selalu berhasil. Kita seharusnya menjalani sebuah kehidupan yang
hanya berisikan hal-hal yang baik dan sempurna.
Kalau Tuhan sudah menyiapkan takdir yang baik bagi kita, lalu
mengapa kehidupan kita belum seindah yang kita harapkan? Apakah itu berarti
Tuhan sudah tidak sayang lagi kepada kita? Apakah itu berarti Tuhan sedang
menghukum kita karena kesalahan kita di masa lalu?
Bila kehidupan kita saat ini sedang tidak baik, itu tidak
berarti Tuhan tidak mengasihi kita lagi karena Dia adalah kasih (1 Yoh. 4:16).
Juga tidak mungkin Tuhan sedang menghukum kita karena Dia bilang tidak akan ada
lagi penghukuman bagi orang percaya (Rm. 8:1-2).
Lalu siapa yang membuat hidup kita tidak baik? “Iblis!!”
Betul sekali tebakan anda. Tetapi siapa yang membantu iblis dan antek-anteknya
untuk berhasil mencuri, membunuh dan membinasakan dalam hidup kita? Anda!
“Lho, mana mungkin saya membantu iblis untuk menghancurkan hidup saya
sendiri,” ini pasti yang anda pikirkan. Saya dulu juga berpikiran begitu.
Sekarang kita lihat apa yang Firman Tuhan katakan mengenai peran kita dalam
kehidupan kita sendiri.
Manusia
diciptakan serupa dan segambar dengan Tuhan (Kej. 1:26). Kita diberikan
kebebasan untuk berkehendak dan memilih selama kita hidup. Lihat Adam di taman
Eden. Tuhan memberitahukan kepada Adam apa yang tidak boleh dimakan olehnya
(hanya buah dari satu pohon saja!) sementara yang lainnya dapat ia kelola dan
kerjakan semaunya (Kej. 2:15).
Tetapi apa yang terjadi kemudian? Adam dengan sukarela
memakan buah yang terlarang itu bersama-sama istrinya (Kej. 3:6). Menurut anda
dimana Tuhan saat itu? Apakah saat itu Tuhan sedang tidak memperhatikan manusia
sehingga tidak tahu kalau Adam dan Hawa sedang digoda iblis? Tentu saja tidak.
Tuhan tahu persis apa yang sedang terjadi di taman itu karena mataNya selalu
tertuju kepada orang benar (baca 2 Taw. 16:9; Mzm. 33:18; 1 Ptr. 3:12; Ams. 14:3).
Saat Hawa digoda oleh iblis, Adam sedang bersama-sama
dengannya. Adam bukannya sedang di kamar kecil sehingga tidak bisa mendengar dan
melihat apa yang terjadi di ruang tamu. Lalu ia mengambil dari buahnya dan
dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia,
dan suaminyapun memakannya (Kej. 3:6). Adam berada di dekat Hawa ketika Hawa
dicobai oleh iblis. Adam mendengar semua percakapan yang terjadi antara iblis
dan istrinya karena ia bersama-sama dengan istrinya.
Lalu mengapa Tuhan tidak mencegah Hawa dan Adam untuk memakan
buah terlarang itu? Tuhan tidak bisa berbuat apa-apa karena mereka memutuskan
untuk menaati suara iblis dari pada perintah Tuhan. Jika saat itu Adam memakai
otoritasnya sebagai pengelola taman itu dan mengusir iblis, iblis tidak mungkin
menolak karena Adam lebih berhak memerintah di taman itu (Kej. 2:15). Apapun
yang Adam katakan terjadi (Kej. 2:19-20).
Apakah
manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah manusia sehingga Engkau
mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan
telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa
atas buatan tanganMu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya kambing
domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang-binatang di padang; burung-burung
di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus lautan (Mzm. 8:6-9).
Adam diberi otoritas penuh oleh Tuhan untuk menjadi tuhan atas segala
ciptaanNya. Ketika mencobai Hawa, Iblis saat itu merasuki ular. Ular adalah
ciptaan Tuhan dan Adam telah dibuat berkuasa atas segala ciptaanNya. Kalau Adam
menghardik ular dan menyuruhnya menutup mulut serta pergi, ular itu harus
menaati Adam.
Otoritas yang sama masih tetap ada pada manusia, baik ia
sudah lahir baru maupun belum lahir baru. Manusia bisa menolak iblis dan manusia
juga bisa menolak Tuhan. Manusia bisa menolak Tuhan dengan perkataannya maupun
dengan perbuatannya. Lihat Adam, ia menolak perintah Tuhan tanpa berkata-kata--dia
hanya melakukan perbuatan yang melanggar perintahNya.
Mengapa Tuhan “tega” membiarkan umatNya jatuh ke dalam
dosa? Kalau kita teliti membaca Firman Tuhan, maka kita akan menyadari bahwa
sejak awal Tuhan menginginkan umatNya memilih untuk taat kepadaNya. Kalau tidak,
Tuhan pastinya tidak akan membiarkan pohon pengetahuan tentang yang baik dan
jahat tumbuh di tengah-tengah taman tanpa penjagaan yang ketat dari para
malaikat. Atau, lebih ekstrim lagi, Tuhan sebenarnya tidak perlu menumbuhkan
pohon itu di taman Eden biar tidak merepotkan semua pihak.
Pendapat yang mengatakan bahwa “kehendak Tuhan itu pasti
terjadi dalam hidup kita” adalah salah. Malahan Tuhan berkata apa yang manusia
rencanakan (atau kehendaki) akan terlaksana (baca Kej. 11:6; Yoh. 15:7).
Jatuhnya manusia ke dalam dosa bukanlah kehendak Tuhan. Manusia jatuh ke dalam
dosa karena pilihannya sendiri.
Kisah manusia jatuh ke dalam dosa merupakan bukti bahwa Tuhan
hanya bisa berkuasa atas kehidupan kita kalau kita menuruti firmanNya. Kalau
kita tidak menaati firmanNya, Tuhan tidak bisa berkuasa atas kehidupan kita. Dan
kalau Tuhan tidak berkuasa, berarti iblis yang berkuasa atas kehidupan kita.
Meskipun anda bukan penyembah berhala atau pengikut ajaran ilmu hitam, kalau
anda tidak menaati firman Tuhan berarti hidup anda diatur oleh iblis.
Di dunia ini hanya ada dua kekuatan yang bekerja: yang satu
berasal dari Tuhan dan yang lain berasal dari iblis. Kekuatan pertama bekerja
berdasarkan hukum Roh yang memberi hidup dalam Kristus Yesus dan yang kedua
bekerja berdasarkan hukum dosa dan maut (Rm. 8:2). Bila kita hidup berdasarkan
hukum Roh yang memberi hidup dalam Kristus Yesus maka kita akan terbebas dari
hukum dosa dan maut. Akan tetapi itu tidak berarti hukum dosa dan hukum maut itu
hilang begitu kita lahir baru.
Sejak di taman Eden manusia sudah diperhadapkan dengan
pilihan, yaitu kehidupan atau kematian. Memilih untuk memakan buah dari pohon
yang terlarang atau tidak memakan. Sayang sekali Adam memilih kematian dari pada
kehidupan. Pilihan yang sama juga diberikan kepada bangsa Israel melalui Musa.
Jika engkau baik-baik mendengarkan suara Tuhan, Allahmu, dan
melakukan dengan setia segala perintahNya yang kusampaikan kepadamu pada hari
ini, maka Tuhan, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi.
Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau
mendengarkan suara Tuhan, Allahmu; (Ul. 28: 1-2). Tetapi jika engkau tidak mendengarkan
suara Tuhan, Allahmu, dan tidak melakukan dengan setia segala perintah dan
ketetapanNya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka segala kutuk ini
akan datang kepadamu dan mencapai engkau: (Ul. 28:15).
Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan
dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan (Ul. 30:15). Aku memanggil langit dan bumi menjadi
saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan
kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau
maupun keturunanmu. (Ul. 30:19).
Tuhan
menjelaskan bahwa ada pilihan dalam kehidupan yang harus kita ambil. Tuhan mau
kita memilih hidup berkelimpahan berkat dengan jalan menaati firmanNya. Mengapa?
Karena dalam firmanNya ada jalan kehidupan yang baik yang sudah Dia tetapkan
sebelum dunia dijadikan (Ef. 1:3; Ef. 2:10).
Karena
kita ini buatan tangan Tuhan [sendiri], diciptakan kembali dalam Kristus Yesus,
[dilahirkan kembali] agar kita dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan baik yang
Tuhan telah tetapkan (rencanakan) sebelumnya bagi kita [untuk mengambil jalan-jalan
yang telah Dia persiapkan sebelumnya], supaya kita hidup di dalamnya
[menjalani hidup yang baik yang telah Dia
atur dan persiapkan bagi kita]
(Ef. 2:10, The Amplified Bible).
Tuhan
telah menyediakan buat kita jalan-jalan untuk mendapatkan kehidupan yang baik
sebelum dunia dijadikan. Kalau jalan-jalan itu sudah tersedia, berarti kita
hanya perlu tahu apa jalan-jalan itu.
Pada
saat anda lahir baru, mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, Tuhan telah
mengirimkan Roh Kudus untuk menetap di dalam hati kita.
Tetapi
yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang
sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita. Tetapi
seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak
pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati
manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi dia.” Karena
kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala
sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah. Kita tidak menerima
roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah, supaya kita tahu, apa yang
dikaruniakan Allah kepada kita
(1 Kor. 2:7, 9-10, 12).
Roh
Kudus adalah salah satu pemberian yang terdahsyat yang Tuhan berikan kepada
kita. Akan tetapi banyak orang Kristen yang tidak pernah tahu bahwa Roh Kudus
itu dapat dan perlu diajak berbicara. Mengapa? Agar Dia dapat menyatakan hal-hal
yang tersembunyi dan rahasia yang Tuhan telah sediakan bagi kemuliaan kita
sebelum dunia dijadikan. Apakah hal-hal itu termasuk jalan kehidupan yang baik
yang dikatakan dalam Efesus 2:10? Tentu saja!
Begitu
banyak orang Kristen yang menjalani kehidupan yang sama dengan orang yang tidak
mengenal Yesus, hanya karena mereka tidak tahu apa yang Tuhan sudah sediakan
bagi mereka. Tahu saja tidak apalagi menerima. Ada sebagian lain yang tahu apa
yang Tuhan sediakan bagi umatNya dalam Kristus Yesus tetapi tidak bisa menerima,
jadi hidupnya sama saja seperti orang yang tidak mengenal Yesus.
Tetapi
carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan
ditambahkan kepadamu
(Mat. 6: 33).
Karena
kuasa ilahiNya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna
untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita
oleh kuasaNya yang mulia dan ajaib
(2 Ptr. 1:3).
Tuhan
Yesus menyuruh kita mencari tahu mengenai kerajaanNya dan kebenarannya agar
semua yang kita butuhkan, semua yang Tuhan sudah sediakan bagi kita dapat
ditambahkan kepada kita (Mat. 6:33).
Tuhan
juga berfirman bahwa oleh kuasaNya, sesuai dengan pengenalan kita akan Dia,
Tuhan telah menganugerahkan segala sesuatu yang berguna untuk hidup (2 Ptr.
1:3).
FirmanNya
juga berkata bahwa Dia mengirimkan firmanNya untuk menyembuhkan kita (Mzm.
107:20; Ams. 4:22).
Berarti
pengenalan akan Tuhan melalui firmanNya sangat penting bagi kita untuk
mengetahui jalan kehidupan yang baik, yang tidak berkekurangan, serta tanpa
penyakit.
Amsal
1-4 banyak berbicara mengenai pentingnya mendapatkan hikmat Tuhan dan
pengertian. Maka engkau akan mengerti tentang kebenaran, keadilan, dan
kejujuran, bahkan setiap jalan yang baik (Ams. 2: 9).
Untuk memenuhi takdir kita, tidak ada jalan lain kecuali kita memperbaharui pikiran dengan firman Tuhan agar kita tahu mana jalan yang sudah Tuhan siapkan buat kita (Rm. 12:2).