Tuhan Yang Memberi Pertambahan

Oleh Maggy Horhoruw
Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan?  Apakah yang akan kami minum?  Apakah yang akan kami pakai?  Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah.  Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.  Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.  Sebab itu janganlah kamu kuatir  akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri.  Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari (Matius 6:31-34).

Setiap kali memasuki tahun baru, banyak orang mendadak menjadi rajin untuk membaca koran atau majalah maupun mendengarkan radio untuk mengetahui apa yang dikatakan oleh para pengamat politik, ahli ekonomi, dan pejabat pemerintah mengenai keadaan di tahun yang baru.  Televisi pun menayangkan acara-acara perbincangan atau diskusi dengan para tokoh-tokoh nasional mengenai masa depan bangsa kita.  Secara pribadi, cukup banyak orang yang iseng-iseng membaca ramalan bintang atau shio untuk mengintip nasibnya di tahun 2002.  Ada juga yang sengaja mencari paranormal untuk mengetahui apa yang tersedia baginya di tahun baru ini.

Masa depan adalah sesuatu yang merupakan misteri bagi banyak orang. Banyak orang menghabiskan banyak waktu untuk mencoba memperkirakan apa yang akan terjadi di depan mereka.  Akan tetapi masa depan tidak perlu menjadi misteri bagi orang-orang yang menjadikan Yesus sebagai Tuhan atas kehidupan mereka.  Yang pasti, kita tidak perlu repot-repot memikirkan kebutuhan hidup sehari-hari karena Allah Bapa sudah menjanjikan untuk menambahkannya kepada kita (baca Matius 6: 31-34).

Dimana Kerajaan Allah?

Tuhan berjanji kalau kita mencari KerajaanNya dan kebenarannya maka Dia akan menambahkan kepada kita segala yang dicari orang-orang yang tidak mengenal Tuhan (Matius 6:32-33).  Kalau Tuhan memerintahkan kita untuk mencari dahulu KerajaanNya dan kebenarannya, berarti kita bisa menemukan kedua hal itu kalau kita mencarinya.  Tetapi dimana kita bisa menemukan Kerajaan Allah itu?

Sewaktu Yesus ditemui oleh Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi, terjadilah percakapan berikut ini: “Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya.”  Yesus menjawab, kataNya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” (Yohanes 3:2-3).

Dibutuhkan indera penglihatan untuk mencari sesuatu.  Menurut Yesus, kalau tidak dilahirkan kembali (lahir baru) maka anda tidak bisa melihat Kerajaan Allah.  Oleh karena itu, bagi anda yang mau mencari Kerajaan Allah berarti anda harus terlebih dahulu lahir baru.

Jika anda sudah lahir baru maka berarti anda dapat melihat Kerajaan Allah.  Orang yang lahir baru bisa melihat Kerajaan Allah karena mereka sudah dipindahkan kedalam kerajaan itu (baca Kolose 1:13).  Di dalam Kerajaan Allah, sudah sepatutnya anda menyembah sang Raja yaitu Yesus Kristus (baca 1 Korintus 15:25; Kolose 1:13; 1 Timotius 6:14-15).

Sama seperti di dalam kerajaan manusia dimana setiap perintah raja menjadi hukum yang harus ditaati dan tidak boleh dilanggar, demikianlah setiap firman Tuhan menjadi hukum yang harus ditaati.  Hanya bedanya, di dalam Kerajaan Allah ini umatNya dibiarkan untuk menggunakan kehendak bebas mereka untuk memilih menaati atau tidak menaati firmanNya.  Justru kebebasan berkehendak dan memilih inilah yang seringkali merepotkan kita.  Tuhan bahkan tidak dapat memaksa kita untuk menaati firmanNya.

"Lho, Tuhan khan Maha Kuasa?  Kenapa Dia tidak bisa membuat kita taat terhadap firmanNya?"

Tuhan memang sungguh Maha Kuasa, akan tetapi Dia tidak bisa melanggar hak kebebasan memilih kita.  Buktinya Dia tidak bisa memaksa Adam taat di Taman Firdaus.  Buktinya Dia tidak bisa membuat semua manusia menerima keselamatan meskipun Yesus mati di kayu salib dan dibangkitkan dari antara orang mati bagi semua umat manusia.  Tuhan hanya akan menjadi Maha Kuasa jika kita menjadikanNya Tuhan atas kehidupan kita.  Caranya adalah dengan lahir baru.

Setelah kita lahir baru dan bisa melihat Kerajaan Allah, Matius 6:33 bilang bahwa kita juga harus mencari kebenarannya.  Apa itu kebenarannya?  Dimana mendapatkannya?

Yohanes 17:17 berkata, Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firmanMu adalah kebenaran.  Kalau kebenaran itu adalah firman Tuhan, berarti kita bisa mendapatkan kebenaran itu di dalam Alkitab kita sendiri.

Setiap peralatan elektronik yang kita beli pasti memiliki sebuah buku petunjuk pemakai.  Di dalam buku itu tercatat segala informasi mengenai alat itu: apa yang alat itu bisa lakukan, apa artinya tombol-tombol atau aksesoris yang ada di alat itu, bagaimana membersihkan dan merawat alat itu, apa yang harus dilakukan kalau alat itu tidak berfungsi dengan benar, dll.  Buku petunjuk itu dibuat oleh pencipta alat itu.

Kita diciptakan oleh Tuhan dan Alkitab adalah Buku Petunjuk Hidup bagi kita.  Kalau kita tidak membaca Alkitab dan mencari tahu segala sesuatu mengenai kehidupan, maka kita tidak akan bisa hidup seperti yang Tuhan inginkan.  Kalau kita tidak mengenal firman Tuhan, maka kita tidak akan bisa menikmati hidup seperti seharusnya.

Tuhan berkata bahwa kita harus mencari dahulu kerajaanNya dan kebenarannya agar Dia bisa menambahkan segala yang kita butuhkan ke dalam hidup kita.

Diciptakan Untuk Menjadi Penguasa

Sejak awal, Tuhan menciptakan manusia tidak untuk bersusah payah menghidupi dirinya sendiri.  Kejadian 2:7-8 berkata, Ketika itulah Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.  Selanjutnya Tuhan Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkanNya manusia yang dibentukNya itu.

Tuhan menciptakan manusia, lalu Dia memberi manusia itu tempat tinggal yang nyaman sehingga si manusia Adam (dan kemudian istrinya Hawa) tidak perlu bersusah payah mengusahakan makanan bagi dirinya.  Lalu Tuhan Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya... (Kejadian 2:9).  Tuhan bahkan tidak menyuruh Adam menanam pohon.  Tuhan sendiri yang membuat pohon-pohon bertumbuh dan mengeluarkan buah yang baik untuk dimakan oleh Adam.

Bahkan Tuhan tidak menyuruh Adam menyirami tanaman-tanaman di Taman Eden.  Ada suatu sungai mengalir dari Eden untuk membasahi taman itu... (Kejadian 2:10).  Kemudian, Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu (Kejadian 2:15).  Tuhan menaruh manusia di taman itu untuk menjadi Pengelola (atau istilah kerennya Manager).

Lalu Tuhan melatih Adam untuk mempergunakan kata-kata-nya. Tuhan melatih Adam untuk menjadi seperti diriNya, yaitu apapun yang Adam perkatakan akan terjadi.  Lalu Tuhan Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara.  DibawaNyalah semuanya itu kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu (Kejadian 2:19).

Anda lihat itu?  Tuhan bahkan tidak ikut campur dalam memberi nama binatang dan pendamping Adam.  Adamlah yang memberi nama kepada setiap makhluk yang diciptakan setelah dirinya.  Bahkan Adamlah yang memberi nama "perempuan" kepada makhluk yang berbeda kelamin yang diciptakan Tuhan sebagai penolong yang sepadan baginya. Tuhan membiarkan Adam melatih kuasanya atas bumi dan segala makhluk yang ada di bumi (baca Kejadian 1:28) dengan perkataannya.  Ingat bahwa manusia diciptakan serupa dan segambar dengan Tuhan untuk berkuasa (baca Kejadian 1:26).

Dengan perkataannya manusia menaklukkan dan menguasai bumi.  Dengan kuasa lidahnya manusia menentukan kehidupannya (baca Amsal 18:20-21; Amsal 21:23; Amsal 10:11; Yosua 1:8; Matius 12:37; Roma 10:10).

Kekayaan: Rohani atau Materi?

Kalau kita perhatikan dari sejak Adam diciptakan, ternyata Tuhan memang tidak menciptakan manusia untuk menghidupi diri sendiri dengan kerja keras.  Semuanya ditambahkan Tuhan kepada Adam: taman, sungai, pepohonan yang berbuah baik, sumber daya alam yang kaya, binatang-binatang, dan pasangan hidup yang sepadan.

Segala kerja keras untuk mencari nafkah yang banyak dijalani manusia adalah upah dari dosa.  Lalu firmanNya kepada manusia itu: "Karena engkau mendengarkan perkataan istrimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil... (Kejadian 3:17-19).

Tetapi, Tuhan senantiasa mengingatkan kita bahwa kita tidak perlu hidup di bawah kutuk.  Bagaimana caranya?

Kalau anda telah lahir baru berarti Allah Bapa telah melepaskan anda dari kuasa kegelapan dan telah memindahkan anda ke dalam kerajaan Yesus (baca Kolose 1:13).  Kita sudah tidak berada lagi di bawah kuasa si jahat dan kita juga sudah tidak berada di dalam kerajaan si jahat.  Kita sudah tinggal di dalam kerajaan Yesus dimana hanya ada kemakmuran dan kelimpahan.  Meskipun kita sudah terlepas dari kuasa si jahat dan telah tinggal di dalam kerajaan Allah, tidak berarti hidup kita otomatis menjadi enak, nyaman dan berkelimpahan.  Mengapa tidak otomatis?  Karena dibutuhkan iman untuk menerima dari Tuhan.  Iman hanya bisa diperoleh dari mendengarkan Firman Tuhan (Roma 10:17).

Matius 6:33 berkata bahwa semua yang kita butuhkan untuk hidup akan ditambahkan kepada kita.  Lalu Kolose 1:13 berkata bahwa kita telah pindah ke dalam kerajaan Yesus.  Bagaimana caranya kita bisa bertambah?  Ada banyak orang yang sudah lahir baru, dipenuhi Roh Kudus, sangat mengasihi Tuhan, dan sangat giat dalam pelayanan, akan tetapi tidak ada pertambahan dalam hidup mereka.  Bahkan ada beberapa dari mereka yang malah kehilangan pasangan hidup, anak, materi, kesehatan, dll.

Anda mungkin berkata, "Ya, tetapi mereka khan kaya rohani."  Tepat sekali, mereka memang kaya rohani.  Saya tidak berani membantah hal itu.  Sebenarnya, setiap orang lahir baru itu sangat kaya rohani karena firman Tuhan di Efesus 1:3 berkata, Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.  Jadi, setiap orang yang lahir baru itu sama kayanya.  Tidak ada seorang pun yang lebih kaya rohani dari pada yang lain karena kita semua adalah ahli waris bersama dengan Yesus (baca Roma 8:17).

Kalau kita baca dengan seksama Matius 6:19-34, Yesus sedang mengajarkan murid-muridNya untuk tidak mengkhawatirkan perkara duniawi yaitu materi untuk kehidupan sehari-hari karena semua kebutuhan itu sudah diketahui oleh Bapa di surga.  Yesus mengatakan bahwa kalau kita hanya memusatkan pikiran kita kepada kebutuhan sehari-hari, maka berarti kita menjalani hidup seperti orang-orang yang tidak mengenal Tuhan.  Yesus mau kita memusatkan pikiran kita kepada perkara surgawi, yaitu perkara Kerajaan Allah dan kebenarannya alias firmanNya, agar Dia dapat menambahkan segala yang diperlukan untuk sehari-hari ke dalam hidup kita.

Pertambahan Ilahi

Seperti yang kita lihat dari awal bahwa sebenarnya manusia itu tidak diciptakan untuk menanggung beban untuk menghidupi diri sendiri.  Adalah kehendak Tuhan untuk memenuhi segala kebutuhan manusia selama hidupnya.  Ada hukum-hukum rohani yang harus kita kerjakan agar kita dapat menerima setiap kebutuhan kita dipenuhi oleh Tuhan.

Salah satunya adalah memberi perpuluhan, yaitu sepersepuluh (alias 10 persen) dari setiap penghasilan kita.  Mengapa harus memberi perpuluhan?  Karena Tuhan telah menyatakan bahwa perpuluhan itu kudus adanya—Demikian jugalah segala persembahan persepuluhan dari tanah, baik dari hasil benih di tanah maupun dari buah pohon-pohonan, adalah milik Tuhan; itulah persembahan kudus bagi Tuhan (Imamat 27:30).  

Karena Tuhan telah mengatakan bahwa perpuluhan itu adalah kudus adanya, oleh karena itu jangan heran kalau Dia menyebut kita penipu saat kita tidak memberikan perpuluhan—Bolehkah manusia menipu Allah?  Namun kamu menipu Aku.  Tetapi engkau berkata: "Dengan cara bagaimanakan kami menipu Engkau?" Mengenai persembahan persepuluhan dan persembahan khusus! (Maleakhi 3:8)

Dan kalau kita memberi perpuluhan berarti kita memuliakan Dia—Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu (Amsal 3:9).

Pertanyaan yang paling populer sehubungan dengan perpuluhan adalah "Persepuluhan itu diambil dari pendapatan kotor sebelum pajak atau setelah dipotong pajak?"  Ingat perkataan Yesus mengenai pajak di Matius 22:19-21, "Tunjukkanlah kepadaKu mata uang untuk pajak itu."  Mereka membawa suatu dinar kepadaNya.  Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?"  Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar."  Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.  Oleh sebab itu, persepuluhan anda harus diambil dari jumlah sebelum dipotong pajak penghasilan—baca kembali Imamat 27:30.

Karena Tuhan yang menguduskan persepuluhan itu, maka Dia menjanjikan bahwa kita tidak akan pernah kekurangan kalau kita menjadi pembayar persepuluhan.  Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumahKu dan ujilah Aku, firman Tuhan semesta alam, apakah Aku tidak membukakan tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan. Aku akan menghardik bagimu belalang pelahap, supaya jangan dihabisinya hasil tanahmu dan supaya jangan pohon anggur di padang tidak berbuah bagimu, firman Tuhan semesta alam.  Maka segala bangsa akan menyebut kamu berbahagia, sebab kamu ini akan menjadi negeri kesukaan, firman Tuhan semesta alam (Maleakhi 3:10-12).

Dia juga berfirman di Amsal 3:9-10, Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana-bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya.

Disamping persepuluhan, hal lain yang membuat kita dapat menerima pertambahan ilahi adalah pemberian atau persembahan kita.  Di Amsal 3:9-10 janji kelimpahan Tuhan akan bisa diterima kalau kita memuliakan Tuhan dengan harta (pemberian) dan hasil pertama (persepuluhan).  Di kitab Maleakhi Tuhan sedang memarahi bangsa Israel karena kecerobohan mereka dalam membayar persepuluhan dan persembahan mereka kepada Tuhan.  Hasil dari kecerobohan mereka, bangsa itu berada dalam kutuk.

Lukas 6:38 berkata, Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu.  Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.  Jika kita memberi, maka kita akan menerima kembali sesuai dengan  takaran yang kita pakai dalam memberi.  Hal ini ditegaskan Tuhan dalam 2 Korintus 9:6, Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.  Lalu bagi pemberi atau penabur dijanjikan bahwa Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan (2 Korintus 9:8).

Janji-janji Tuhan di atas perlu anda renungkan hingga hati anda menjadi sangat mantap untuk membayar persepuluhan dan memberi persembahan sesuai dengan iman anda.  Ingatlah bahwa kalau anda membayar persepuluhan dan memberi persembahan dengan tujuan memuliakan namaNya, maka kelimpahan adalah hasil yang pasti anda nikmati (baca Amsal 3:9-10).

Berhenti dari kerja keras anda, dan nikmatilah hidup ini dengan menaati firman Tuhan dalam hal persepuluhan dan persembahan agar Dia dapat menambahkan segalanya ke dalam hidupmu.  Selamat hidup berkelimpahan!