Kita adalah Gardu Listrik Allah

Oleh Margie Niode

Segala kuasa di sorga dan di bumi telah diberikan kepada Yesus (Mat. 28:18). Kuasa itu telah diberikan kepada murid-murid-Nya, dan kuasa itu telah diberikan kepada saudara dan saya (baca Luk. 9:1).  Jika anda telah lahir baru dan mempunyai Yesus di dalam hati saudara, percaya-lah, kuasa yang ada pada Yesus ada didalam diri anda.

Perhatikan benar-benar Lu-kas 9:1-2. Setelah kuasa itu ada didalam anda dan saya, selanjut-nya dibutuhkan tindakan! Teman, Yesus melihat anda dan saya sebagai “gardu listrik” yang dipakai untuk kemuliaan Bapa. Arti dari gardu listrik adalah sebuah rumah untuk mendistribusikan listrik ke rumah-rumah yang lain. Persoalannya sekarang apakah anda dan saya dapat melihat hal yang sama seperti Yesus lihat? Apakah kita berfungsi sempurna sebagai gardu listrik? Hanya kita yang dapat menjawab pertanyaan itu.

Harus Ada Tindakan

Pelajari apa yang Tuhan perintahkan pada Musa sewaktu orang Israel mau memasuki tanah Kanaan. Bilangan 33:53 berkata, “Haruslah kamu menduduki negeri itu dan diam disana, sebab kepadamulah Kuberikan negeri itu untuk diduduki.” Di ayat lain perintahNya, “Aku telah menyerahkan negeri itu kepadamu; masukilah, dudukilah negeri yang dijanjikan Tuhan...” (Ul. 1:8).

Yosua berkata kepada pasukannya, “Sediakanlah bekalmu, sebab dalam tiga hari kamu akan menyeberangi sungai Yordan ini untuk pergi menduduki negeri yang akan diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu untuk diduduki” (Yos. 1:11). Tanah Kanaan itu diberikan Tuhan kepada orang Israel, tetapi mereka harus masuk dan menduduki Kanaan itu, bukan Tuhan.  Tuhan membutuhkan anak-anak-Nya untuk melakukan pekerjaanNya di bumi ini. Berhenti dari meminta Tuhan untuk melakukan sesuatu bagi kita - kerjakan, lakukan, dan bertindaklah, - “karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” (Fil. 2:13).

Keluaran 14 menggambarkan tentang orang Israel sewaktu mereka terakhir kalinya di kejar oleh Firaun  dan mereka sangat ketakutan sehingga mereka berseru-seru kepada Tuhan. Lihat reaksi Tuhan di ayat 15, “Mengapakah engkau berseru-seru demikian kepada-Ku?”  Tuhan perintahkan mereka untuk berhenti berteriak, dan berangkat.

Dapatkah saudara melihat bahwa perintah Tuhan itu memerlukan tindakan dari orang Israel. Kalau kita senantiasa mendengar perintah Tuhan dan melakukannya, hasil akhirnya adalah kemenangan dan itu adalah pasti!

Lihat apa yang Allah perbuat bagi orang Israel. Harap ingat, mereka adalah orang Perjanjian Lama, Roh Allah belum tinggal didalam diri mereka. Akan tetapi kemenangan yang tertulis di Alkitab membuat kita terkagum-kagum. Kita adalah tubuh Kristus, Bait Allah dimana Roh Allah tinggal untuk selama-lamanya (Yoh. 14:16-17). Bayangkan kedahsyatan macam apa yang bisa kita alami. Tidak ada kegagalan ataupun kekalahan yang dibuat oleh Allah bagi mereka yang percaya. Amin!

Bertindak Dengan Iman

Sekarang kita perhatikan perbuatan Yesus waktu Ia ada di bumi ini (baca Mar. 11:12-14). Banyak dari kita kenal cerita ini yaitu cerita tentang Yesus mengutuk pohon ara. Saya bayangkan waktu Yesus berbicara kepada pohon itu. Dia pastinya berbicara dengan intonasi yang biasa, tidak marah-marah. Bukan seperti kita saat akan mengeluarkan sumpah serapah.

Pada waktu Ia selesai berbicara, mungkin tidak terlihat ada perubahan drastis yang terjadi seketika pada pohon itu. Mungkin pohon itu tetap berdiri dengan tegar, daunnya masih tetap hijau. Tidak terlihat ada perubahan secara natural. Sikap Yesus juga biasa saja, dan Dia berlalu dari tempat itu untuk meneruskan perjalanannya ke Yerusalem. Yesus tidak menengok-nengok ke belakang untuk melihat apakah pohon itu langsung mati atau tidak. Yesus mengambil sikap tidak perduli terhadap manifestasi natural dari ucapan-Nya. Sewaktu Yesus berkata, Dia menganggap masalah itu selesai, telah dikerjakan!!

Ayat selanjutnya menegaskan hal itu. Dia melanjutkan tugas-Nya. Yesus menyucikan Bait Allah. Dia meneruskan pekerjaan dengan mengajar. Dan menjelang malam Dia dan murid-muridnya keluar dari kota. Ayat 20-22, “Pagi-pagi ketika Yesus dan murid-murid-Nya lewat, mereka melihat pohon ara tadi sudah kering sampai ke akar-akarnya. Maka teringatlah Petrus akan apa yang telah terjadi, lalu ia berkata kepada Yesus: “Rabi, lihatlah, pohon ara yang Kaukutuk itu sudah kering.” 

Perubahan dari pohon ara itu memerlukan waktu, tidak terjadi seketika. Perhatikan jawaban Yesus. Dia tidak berkata kepada Petrus, Tuh, hebat khan Aku? Dahsyat khan kekuatanKu?  Mau lihat demonstrasiKu yang lain? Yesus tidak membanggakan diriNya! Sebaliknya, Dia berkata, ”Percayalah kepada Allah!”  King James Version katakan,  “Milikilah iman kepada Allah”, yang dapat di artikan “Punyalah iman seperti Allah.” Dengan kata lain Yesus berkata, “Kamu juga dapat melakukannya” (Yoh. 14:12). Apakah anda dan saya percaya bahwa kita dapat juga melakukan hal itu?  Apakah kita dapat mempunyai iman seperti Allah?

Kita Punya Iman Seperti Allah

Firman katakan bahwa kita mendapat ukuran iman yang dikaruniakan Allah kepada kita masing-masing. Kita mempunyai standar iman Allah (baca Rom. 12:3 dan 2 Kor. 4:13). Sesuatu yang kita katakan dengan iman adalah sesuatu yang kita pegang teguh sampai kita menerimanya di alam nyata. Kita tidak bimbang dan ragu. Kita tidak terpengaruh atas penglihatan kita. Berteguh dan bertekun sampai apa yang kita katakan termanifestasi. Itu namanya iman! Hal itu bisa langsung terjadi, bisa besok, bisa sebulan atau lebih lama lagi tetapi yang pasti apa yang kita katakan dan percaya pasti akan terjadi!

Hukum iman yang sangat prinsip dapat kita pelajari di Markus 11:22-24. Saya banyak belajar hukum iman ini dari pemimpin-pemimpin rohani yang telah terbukti pelayanannya yaitu Bapak Kenneth E. Hagin dan Bapak Kenneth Copeland.  Saya dapat melihat jelas seperti apa yang mereka lihat dari hukum ini. Karena Allah tidak membeda-bedakan orang, kita juga dapat berhasil seperti mereka, jika kita bertekun dan teguh dan tidak kompromi dengan firman itu.

Yesus katakan, “Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi bagi-nya” (Mar. 11:23). Perhatikan benar-benar! Kita diminta untuk berkata-kata kepada gunung masalah itu dan memerintahkan gunung masalah itu untuk beranjak.

Kebanyakan orang Kristen berjalan kian kemari, angkat telepon ke teman-teman, bercerita dari hati ke hati pada teman-teman seiman tentang gunung masalah itu. Yang Yesus perintahkan adalah berkata kepada gunung masalah bukan berkata-kata tentang gunung masalah. Apapun masalah anda - keuangan, kemiskinan, sakit penyakit, pernikahan, teman hidup, hutang-piutang, kerinduan mempunyai anak, promosi, sukses dalam bisnis, pekerjaan, rumah tangga, pelayanan, sebut saja – kalau kita bertindak dengan iman dan berkata kepada “gunung” masalah itu untuk beranjak dan tercampak ke dalam laut, maka hal itu akan terjadi.

Jangan bimbang dan ragu.  Kerjakan sekarang! Yesus memberikan resep yang teruji. Dia memerlukan hati seorang murid yang mau mendengar dan melakukan. Jangan bantah dan berdebat dengan Yesus karena anda dijamin pasti kalah.

Yesus berkata, “apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu” (Mar. 11:24). Kita berdoa, dan kita percaya kita telah menerima, maka kita akan mendapatkannya. Perintah Yesus tidak sulit kan untuk diikuti. Semua perintahnya sangat sederhana sehingga kita bertanya-tanya dalam hati, Kok sederhana banget! PerintahNya terlalu sederhana, sehingga kita tidak mau mengerjakannya. Kita sudah terlalu terbiasa dengan membuat segala perkara menjadi rumit sehingga sulit menerima perintah Tuhan yang sederhana.

Jika kita telah melakukan Markus 11:24, kita anggap pekerjaan itu telah selesai. Dengan iman kita perhitungkan hal itu telah selesai karena pekerjaan itu telah terlaksana di alam roh. Tugas kita selanjutnya adalah senantiasa berterima kasih, mengucap syukur atas jawaban doa kita sambil menanti hal itu terwujud di alam nyata/fisik.

Jangan biarkan ketakutan dan kekuatiran mencengkeram anda. Waktu murid-murid melihat Yesus berjalan di atas air, mereka terkejut dan berteriak-teriak karena takut. Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” (Mat. 11:26-27). Pada hari ini Yesus tetap berkata hal yang sama kepada anda dan saya, Tenanglah, Jangan Takut! Karena waktu kita takut, kita tidak bisa mengenali Tuhan sama seperti murid-muridNya yang mengira Ia hantu. Di ayat 28-31, begitu Petrus ketakutan dan dia berteriak kepada Tuhan, segera Tuhan mengulurkan tanganNya. Tuhan, segera - bukan nanti-nanti, tapi segera - mengulurkan tangan-Nya. Wow dahsyat sekali!

Jangan alihkan pandangan anda dari Allah.  Fokus kepada Dia. Jangan hiraukan kejadian sekeliling anda. Jangan rasakan tiupan “angin”. Karena gangguan di sekitar kehidupan kita, akan membuat anda seperti Petrus, yang langsung perhatiannya beralih. Pada awalnya perhatian Petrus tertuju kepada Yesus, tetapi kemudian, karena ia merasakan tiupan angin, dia mengalihkan pandangannya dan melihat ke  masalah sehingga akibatnya ia jadi takut dan mulai tenggelam.

Jangan Tertipu Dengan Penglihatan

Hati-hati , jangan tertipu atas penglihatan kita.  Rasul Paulus berkata di 2 Korintus 4:18, “Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tidak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” Keadaan, situasi, kondisi kita dan sekeliling dapat berubah.  Firman Allah dapat merubah keadaan kita.

Baca 2 Raja-Raja 6:8-18 tentang Raja Aram yang akan memerangi Israel. Setiap rencana dan strategi perang Raja Aram dengan panglima-panglimanya diketahui oleh nabi Elisa. Raja Aram marah dan berniat menangkap Elisa. Dia mengirim pasukan dan mengepung kota tempat Elisa tinggal. Ketika pelayan nabi Elisa melihat pasukan tentara mengepung kota, dia ketakutan. Lalu Elisa berdoa meminta Tuhan membuka mata bujangnya. Maka Tuhan membuka mata bujang itu, sehingga dia melihat gunung itu penuh dikelilingi oleh kuda dan kereta berapi. Yang Tuhan buka bukan mata jasmani dari bujang Elisa karena dia tidak buta, tetapi yang dibuka adalah mata rohaninya. Pasukan malaikat yang  banyak  itu telah ada sejak awal, hanya  bujang Elisa tidak dapat melihat. Begitu  juga  bagi anda dan saya. Kita harus membuka mata rohani kita untuk tahu bahwa pasukan malaikat berkemah  senantiasa  di  sekeliling kita (Mzm. 34:8). Apa yang terlihat dengan mata jasmani, dapat berubah, karena Firman Allah mampu mengubahnya. Haleluya !!

Sebagai orang percaya, kita harus berhenti berjalan dengan penglihatan. Dan nyatanya banyak sekali orang Kristen yang berjalan dengan penglihatan.  Firman katakan bahwa, orang benar akan hidup oleh iman (Rom. 1:17; Hab. 2:4; Ibr. 10:38; Gal. 3:1). Dan Allah tekankan bahwa tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepadaNya (Ibr. 11:6). Oleh sebab itu saudara, mendekatlah pada Allah, maka Dia akan mendekat padamu, (Yak. 4:8). Bertobat artinya berbalik arah seratus delapan puluh derajat. Andalkan Dia, maka Dia akan bekerja.

Salah satu firman Allah menantang kita, “Adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk Tuhan?”  (Kej. 18:14). Ini baru dahsyat sekali! Saya suka sekali dengar firman ini. Oke sekali bukan?! Setuju saja dengan Firman Tuhan karena tiada suatu apapun yang mustahil bagiNya (Yer. 32:17).

Allah sedang membuat perubahan-perubahan di dalam kehidupan kita. Perubahannya tidak terjadi dalam semalam. Karena Ia tahu, kalau perubahannya terlalu cepat, kita akan kembali ke masalah atau keterikatan yang sama lagi, sama lagi. Ia mau bantu kita untuk dapat menjaga dan memelihara mujizat yang telah Ia kerjakan dalam hidup ini.

Mulailah memakai kaca mata Kristus. Lihat segala sesuatu dari perspektif Yesus. Pakai pikiran Dia. Jika Yesus melihat anda dan saya sebagai “gardu listrik” yang perkasa, begitulah kita!! Kalau anda menerima predikat tersebut, itu baru namanya rendah hati yang alkitabiah. Mulai saat ini, mari kita bertindak sebagai gardu listrik bagi kemuliaan Allah. Terpujilah Tuhan!