Banyak orang Kristen yang mencibirkan bibir mereka kepada orang semacam saya, yang percaya kepada kemakmuran ilahi. Mereka seringkali berusaha untuk memperingatkan saya untuk tidak mengejar kemakmuran itu. Saya sangat menghargai peringatan itu karena saya tahu mereka mengasihi saya. Akan tetapi yang mereka belum tahu adalah saya tidak mengejar kemakmuran itu. Saya tidak perlu mengejar kemakmuran karena saya memang sudah makmur dalam Kristus Yesus.
Banyak orang akan berkata bahwa saya sombong dengan berkata demikian. Menurut kamus Indonesia-Indonesia, kata “sombong” memiliki arti: menghargai diri secara berlebihan, congkak, dan pongah.
Kalau kita memakai arti kata sombong yang sebenarnya, berarti saya tidak sombong kalau berkata bahwa saya memang sudah makmur dalam Kristus Yesus (baca Efesus 1:3). Saya tidak berlebihan menghargai diri sendiri karena saya hanya memperkatakan apa yang Tuhan katakan mengenai saya, bahwa saya kaya karena kemiskinanNya (baca 2 Korintus 8:9).
Lagi pula saya tidak bisa dikatakan sombong karena saya memang sungguh-sungguh makmur dalam Kristus Yesus. Kata “sombong” juga memiliki arti merasa dan bertindak seolah-olah kaya, pandai, dan mulia. Dalam hal ini saya tidak berpura-pura karena saya MEMANG kaya dalam Kristus Yesus.
Saya tidak peduli apakah orang lain percaya hal itu atau tidak. Saya bahkan tidak peduli apakah saya sudah memiliki banyak harta secara natural atau tidak. Yang saya lakukan adalah memperkatakan hal yang belum ada sehingga menjadi ada. Inilah yang dilakukan Abraham sewaktu ia sudah mandul dan Sara ketika ia sudah mati haid. Nama mereka diganti oleh Tuhan agar mereka dapat bersikap dan berlaku seperti Tuhan, yaitu memperkatakan yang belum ada seperti sudah ada (Roma 4:17).
Saat ini saya belum bisa dibilang kaya raya dengan memiliki banyak harta secara natural, akan tetapi dengan menyebut diri saya makmur, saya sedang dalam perjalanan menuju kemakmuran ilahi yang sudah disediakan Tuhan bagi saya sebelum dunia dijadikan.
Dengan senantiasa menyebut diri saya makmur—baik situasinya sedang banyak uang atau tidak, masih berhutang atau tidak—saya sedang melepaskan iman saya yang serta merta menggerakkan para malaikat untuk mendatangkan kemakmuran kepada saya. Sama halnya dengan Abraham dan Sara. Dengan menyebut diri mereka “Bapa dan Ibu Banyak Bangsa,” Abraham dan Sara membuat diri mereka subur kembali meskipun sudah mandul selama bertahun-tahun. Dahsyat sekali kuasa perkataan kita! Dengan ucapan kita, kita dibenarkan dan bisa juga dihukum (Matius 12:37).
Bagi kebanyakan orang, kata makmur itu identik dengan banyak uang atau harta alias kaya raya. Akan tetapi kalau kita telaah kata makmur yang alkitabiah, banyak uang dan harta adalah bagian dari kemakmuran meskipun hal itu bukanlah satu-satunya arti dari kemakmuran.
Mazmur 35:27 terjemahan King James Version mengatakan, Biarlah bersorak-sorai dan bersukacita mereka yang ingin melihat aku dibenarkan! Biarlah mereka tetap berkata: Biarlah Tuhan diagungkan, yang bersenang dalam kemakmuran hambaNya.
Tuhan bersuka atas kemakmuran kita. Kalau “makmur” hanya sekedar berarti banyak uang atau harta, bagaimana dengan orang kaya tetapi menderita asma. Apakah Tuhan bersuka atas hal itu? Pastinya tidak! Kita tahu persis bahwa penyakit bukan berasal dari Tuhan melainkan dari iblis. Lalu bagaimana dengan orang kaya yang kondisi pernikahannya berantakan? Tentunya Tuhan tidak akan bersuka atas kondisi orang itu. Bagaimana dengan mereka yang kaya raya karena menipu orang lain, atau menjual narkoba, atau menjalani usaha pelacuran? Tidak mungkin Tuhan bersuka atas kekayaan mereka yang diperoleh dari perbuatan dosa, karena Dia tahu persis bahwa upah dosa adalah maut (meskipun orang itu beragama Kristen).
Oleh karena itu kata kemakmuran pasti berarti lebih dari sekedar banyak uang dan harta. Kata kemakmuran dalam bahasa Ibrani adalah “shâlôm” yang memiliki arti bahagia, damai sejahtera, sehat, sempurna, tidak ada kekurangan.
Berarti Tuhan akan bersuka kalau kita memiliki “shâlôm.” Tuhan akan bersuka kalau kita sehat, tidak kekurangan, tidak berhutang, punya pekerjaan yang baik, punya keluarga yang harmonis, dst. Dengan kata lain Tuhan akan bersuka kalau kita memiliki hidup dalam segala kelimpahannya (Yohanes 10:10).
Sebelum manusia diciptakan, Tuhan terlebih dahulu menciptakan tempat tinggal yang indah bagi manusia yaitu Taman Eden. Segala sesuatu yang baik dan sempurna ada di dalam taman itu.
Di taman itu manusia diberikan otoritas penuh sebagai pemilik dan pengusaha. Segala sesuatu yang ada di taman itu adalah milik manusia dan dapat dipergunakan untuk keperluannya maupun kesenangannya. Tuhan hanya menguduskan satu pohon saja, yaitu pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat. Tuhan memperingatkan Adam bahwa jika ia makan buah pohon itu maka Adam akan mati—alias hidup dalam kutuk. Setelah melanggar firman Tuhan, Adam dan Hawa tidak langsung mati secara fisik, akan tetapi mereka masuk ke dalam kutuk (baca Kejadian 3).
Hal ini sama seperti Tuhan menguduskan persepuluhan (Imamat 27:30). Apa akibat dari “memakan” persepuluhan kita? Kutuk! (Maleakhi 3:8-10). Apakah kita akan langsung mati keuangannya? Tidak! Tetapi kita akan masuk ke dalam kutuk dimana kita harus bersusah payah untuk mencari uang dan menambahkan segala sesuatu yang dibutuhkan agar kita dapat hidup dengan baik.
Tuhan menguduskan persepuluhan berarti persepuluhan itu harus diberikan kembali kepadaNya. Apakah berarti Tuhan membutuhkan persepuluhan itu? Apakah Tuhan akan kekurangan uang kalau kita tidak memberikan persepuluhan itu? Bukan itu alasannya.
Kalau kita membawa persepuluhan ke rumah perbendaharaanNya, berarti kita memuliakan Dia dan menjadikan Dia Tuhan atas kehidupan kita. Oleh sebab itu, Dia meminta kita untuk membawa persepuluhan ke rumahNya dan menguji Dia untuk mencurahkan berkatNya kepada kita. Bahkan belalang pelahap pun akan dihardik dari kehidupan kita (Maleakhi 3:11). Ingat, Tuhan mau kita hidup dalam kelimpahan (Yohanes 10:10, Maleakhi 3:12). Jadi ketaatan kita dalam hal persepuluhan akan membawa keuntungan bagi kita, bukan kerugian!
Ketaatan kita dalam persepuluhan dan persembahan akan menempatkan kita dan Tuhan di dalam sebuah perjanjian kemakmuran. Jika kita senantiasa taat, Tuhan berkewajiban untuk memastikan bahwa kita tidak akan pernah kekurangan selama hidup. Luar biasa!
Sebab
Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu, mengenai kamu,
demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan
kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. Dan apabila
kamu berseru dan datang untuk berdoa kepadaKu, maka Aku akan mendengarkan kamu;
apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku
dengan segenap hati, Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman
Tuhan... (Yeremia 29:11-14).
Rancangan atau rencana hidup yang Tuhan telah buat bagi siapapun, yang percaya kepada AnakNya Yesus Kristus, adalah rancangan hidup yang penuh damai sejahtera atau shâlôm. Yakobus 1:17 berkata, Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.
Dari ayat-ayat tersebut di atas jelas terlihat bahwa segala sesuatu yang membawa kecelakaan dan tidak memberikan masa depan yang penuh pengharapan tidak berasal dari Tuhan.
Berarti penyakit, kecelakaan, cacat fisik dari lahir, kebangkrutan, kemiskinan, kegagalan, pengangguran, kekurangan, hutang, dan segala macam hal atau peristiwa hidup yang tidak membawa mendatangkan damai sejahtera dan masa depan penuh pengharapan kepada kita pasti berasal dari iblis—bukan berasal dari Tuhan.
Dengan demikian perkataan-perkataan agamawi atau berbau rohani yang berbunyi, “Memang sudah kehendak Tuhan untuk aku di-PHK agar supaya aku bisa punya banyak waktu untuk bersekutu denganNya.” Atau “Tuhan memang tidak menginginkan aku tidak memiliki anak supaya aku bisa lebih berkonsentrasi untuk mengabarkan injil.” Atau “Anakku terjerat narkoba karena itulah salib yang harus kupikul sebagai hamba Tuhan.” Atau “Tuhan mengijinkan kecelakaan mobil itu terjadi supaya suamiku insyaf dan tidak main gila lagi dengan perempuan lain.” Dan banyak perkataan lain yang sejenis, yang sesungguhnya salah total.
Kalau benar Tuhan membuat seseorang diberhentikan dari pekerjaannya supaya orang itu bisa punya banyak waktu untuk bersekutu denganNya, berarti Tuhan harus memberhentikan hampir semua orang Kristen dari pekerjaan mereka karena mereka tidak meluangkan banyak waktu untuk bersekutu denganNya.
Kalau benar Tuhan menutup rahim (alias membuat mandul) seseorang supaya dia bisa mengabarkan injil, saya heran kenapa Tuhan membuat rahim Sara terbuka kembali supaya Ishak bisa lahir. Aneh sekali Tuhan kita.
Jika benar Tuhan mengharuskan seorang hamba Tuhan “memikul salib” atau menderita dalam hidupnya karena anaknya “diijinkan” Tuhan untuk terlibat dalam narkoba, saya akan segera berhenti menyembah Tuhan semacam itu karena menurut saya Dia terlalu sadis. Puji Tuhan hal itu tidak benar. Tuhan tidak pernah menyuruh kita memikul salib, karena sesaat sebelum Yesus menyerahkan nyawaNya Dia berkata bahwa segalanya sudah selesai. Hal itu berarti kita tidak perlu lagi menanggung segala penderitaan yang Yesus sudah tanggung.
Bayangkan, jika benar Tuhan mengijinkan seorang suami/istri yang berselingkuh untuk terlibat dalam kecelakaan, gereja pasti sepi karena banyak keluarga yang sedang menjaga anggota keluarga mereka di rumah sakit karena kecelakaan. Tetapi hal itu khan tidak benar? Tuhan yang kita sembah tidak dapat berbuat lain kecuali mengasihi karena Dia adalah Kasih (Yohanes 3:16; 1 Yohanes 4:16,19).
Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia (1 Yohanes 4:16).
Tuhan adalah kasih. Tuhan tidak hanya sekedar memiliki kasih, tetapi Dia adalah Kasih itu sendiri. Lalu juga dikatakan bahwa Firman itu adalah Tuhan sendiri (Yohanes 1:1). Mari kita terapkan kebenaran ini di ayat-ayat berikut ini: Pada mulanya adalah Kasih; Kasih itu bersama-sama dengan Allah dan Kasih itu adalah Allah... Kasih itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita... (Yohanes 1:1,14).
Tuhan adalah kasih. Itu sebabnya Yesus mengajarkan murid-muridNya untuk tidak takut dan tidak kuatir akan kebutuhan hidup mereka. Tuhan yang adalah Kasih tidak mungkin membiarkan anak-anakNya terlantar dan kelaparan (Matius 6:25-34).
Tuhan yang adalah Kasih berkata bahwa Dia tidak pernah meninggalkan dan membiarkan kita (Ibrani 13:5). Dia akan menyertai kita sampai akhir jaman (Matius 28:20).
Tuhan yang adalah Kasih telah memberikan firmanNya kepada kita agar kita sembuh (Amsal 4:22; Mazmur 107:20).
Tuhan yang adalah Kasih menjanjikan perlindungan total bagi mereka yang menjadikanNya tempat perlindungan mereka (Mazmur 91).
Janji-janji Tuhan yang adalah Kasih tidak hanya berlaku bagi kita pribadi tetapi juga untuk anak dan cucu kita, misalnya Yesaya 54:13; Yesaya 61:9; Mazmur 112:2; Mazmur 37:25.
Tuhan yang adalah Kasih menjanjikan bahwa tidak ada kemandulan bagi orang percaya (Keluaran 23:26; Ulangan 7:14). Begitu banyak perempuan yang sebelumnya tidak bisa memiliki anak kemudian melahirkan anak. Contohnya antara lain Sara, Hana—ibu dari Samuel, perempuan dari Sunem yang menyediakan kamar bagi Elisa, dan Elisabet—ibu dari Yohanes Pembaptis.
Ini hanyalah sebagian kecil dari janji Tuhan yang disediakan bagi orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Jika kita mempelajari Alkitab dan meminta Roh Kudus untuk mengajarkan kita, maka kita akan mendapatkan pengertian akan Firman Tuhan sehingga kita tidak akan binasa (Hosea 4:6).
UmatKu binasa karena tidak mengenal Allah... (Hosea 4:6). Tuhan tidak berkata bahwa umatNya binasa karena tidak berdoa. Banyak orang yang berdoa di gereja tetapi pernikahannya binasa, keuangannya binasa, atau pelayanannya binasa.
Tuhan juga tidak berkata bahwa umatNya binasa karena tidak menjadi anggota gereja tertentu, atau dibaptis dengan cara tertentu, atau terlibat aktif dalam kegiatan gereja.
Tuhan dengan jelas mengatakan bahwa kita akan binasa kalau kita tidak mengenal firmanNya—bukan karena kita tidak pernah dibawa ke surga, mendapatkan penglihatan, mimpi, nubuatan, atau ditumpangi tangan oleh seorang pelayan injil terkenal.
Ayat di atas dengan jelas menonjolkan pentingnya untuk mengenal Tuhan—Tuhan yang adalah Firman, dan yang adalah Kasih.
Tidak heran rasul Paulus berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan (Efesus 3:18-19).
Pemahaman mengenai Kasih berarti pemahaman mengenai Firman, yang juga berarti pemahaman mengenai Tuhan sendiri. Karena Tuhan yang adalah Kasih itu sangat dalam dan melampaui segala pengetahuan natural, dibutuhkan Roh Kudus agar kita dapat memiliki pemahaman rohani itu.
Agar supaya kita bisa hidup dalam Perjanjian Kemakmuran Tuhan, kita perlu mendapatkan pengetahuan dan pengenalan akan firman Tuhan mengenai perjanjian tersebut.
Jadi langkah pertama yang harus kita ambil adalah mendengarkan firman Tuhan dengan seksama. Jadi, iman timbul dari pendengaran dan pendengaran oleh firman Kristus (Roma 10:17). Kita harus pergi ke tempat dimana firman Tuhan diberitakan secara penuh. Minta kepada Roh Kudus untuk menunjukkan kemana anda harus pergi bersekutu dan belajar firman Tuhan sehingga bisa menerima semua yang Tuhan sudah sediakan bagi anda sebelum dunia dijadikan.
Jangan mau kompromi dengan pemberitaan firman yang setengah-setengah. Jangan cukup puas dengan pengetahuan firman anda saat ini. Pengetahuan anda saat ini—tidak peduli sudah berapa lama anda mempelajari firman Tuhan—pasti belum seberapa dari yang sebenarnya.
Kalau anda masih suka sakit-sakitan, berarti anda belum cukup mengenal Tuhan. Kalau setiap bulan anda masih hidup pas-pasan, berarti anda belum cukup mengenal Tuhan. Kalau anda belum dikaruniai anak setelah menikah, berarti anda belum cukup mengenal Tuhan. Kalau anda masih kuatir mengenai pendidikan anak-anak, berarti anda belum cukup mengenal Tuhan. Kalau anda masih belum bisa mengampuni orang yang bersalah kepada anda, berarti anda belum cukup mengenal Tuhan. Kalau anda masih takut setan, berarti anda belum cukup mengenal Tuhan.
Saya tidak bilang anda tidak mengenal Tuhan. Saya terlalu percaya anda kenal Tuhan Yesus dan sudah mengakui bahwa Dialah Tuhan dan Juruselamat anda. Akan tetapi mungkin anda belum kenal Siapa Dia (dan siapa anda di dalam Dia) di dalam beberapa aspek kehidupan anda, misalnya aspek-aspek kehidupan tersebut sebelumnya.
Jika anda menghadiri kebaktian, harapkan Tuhan untuk menjawab doa-doa anda melalui firmanNya. Jangan menghadiri kebaktian karena tidak enak sama tetangga. Jangan datang ke gereja hanya karena kebiasaan di hari Minggu. Datang ke gereja dengan sikap hati ingin diajar dan Tuhan pasti akan mengajar anda. Harapkan anda dikuatkan, dihibur, dan disembuhkan melalui firmanNya yang kita dengar di kebaktian tersebut.
Setelah mendengarkan firman Tuhan, langkah berikutnya adalah merenungkan firman Tuhan. Jangan biarkan apa yang anda dengar di kebaktian-kebaktian yang anda hadiri disimpan dalam buku catatan saja.
Percuma anda mewarnai ayat-ayat di Alkitab atau mencatat tanggal di Alkitab untuk menandakan bahwa ayat-ayat tersebut sudah pernah dibaca. Semua itu tidak salah, akan tetapi tidak akan bermanfaat apapun kalau anda tidak merenungkannya siang dan malam.
Kalau anda tidak merenungkannya, maka pengertian akan firman itu tidak akan pernah anda dapatkan. Anda mungkin bisa hapal firman itu dan mengutipnya dengan lengkap, akan tetapi tidak akan membawa hasil apa-apa dalam hidup anda.
Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hambaKu Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke manapun engkau pergi. Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung. (Yosua 1:7-8).
Setelah merenungkan firman, anda harus melakukan firman Tuhan. Terlalu banyak orang Kristen yang tidak menjadi pelaku firman. Mereka hanya mengandalkan “pengakuan iman.” Mereka lupa bahwa ada hal-hal yang secara natural harus mereka kerjakan, misalnya berdoa bagi mereka yang menganiaya, atau menegur orang yang bersalah kepada kita.
Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna (Yakobus 2:17,22).
Tuhan
selalu mengerjakan bagianNya dan Dia tidak pernah gagal. Cari tahu apa yang
menjadi bagian kita dalam perjanjian kemakmuran Tuhan dan kerjakan! Setelah itu,
bersiap-siap untuk menerima janji Tuhan itu terwujud dalam kehidupan
anda—makanan, pendidikan anak, pasangan hidup, anak, pekerjaan, pelayanan,
kesem-buhan, rumah, dll. Haleluya!!!