Tradisi
"primitif" suku-suku bangsa Indian, di Afrika, maupun di
negara-negara lain, menganggap perjanjian darah antara satu pihak dengan
pihak lain sebagai sesuatu yang sakral dan lebih kuat ikatannya
dibandingkan dengan perjanjian verbal. Tradisi "primitif" ini
bukanlah suatu karangan manusia belaka, tetapi sesuatu yang diawali oleh
Tuhan. Tuhan membuat perjanjian dengan manusia dan memateraikan
perjanjianNya itu dengan darah.
Dalam
Kejadian 12 Tuhan memanggil Abraham dan memberikan janji-janjiNya kepada
Abraham. Dalam Kejadian 17:1-13,
TUHAN
menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: "Akulah
Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapanKu dengan tidak bercela.
Aku
akan mengadakan perjanjian antara Aku dengan engkau, dan Aku akan
membuat engkau sangat banyak."
Lalu
sujudlah Abram, dan Allah berfirman kepadanya:
"Dari
pihakKu, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa
sejumlah besar bangsa.
Karena
itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah
Kutetapkan menjadi bapa sejumlah bangsa besar.
Aku
akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak; engkau akan Kubuat
menjadi bangsa-bangsa, dan daripadamu akan berasal raja-raja.
Aku
akan mengadakan antara Aku dengan engkau serta keturunanmu
turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi
Allahmu dan Allah keturunanmu.
Kepadamu
dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai
orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu
untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka."
Lagi
firman Allah kepada Abraham: "Dari pihakmu, engkau harus memegang
perjanjianKu, engkau dan keturunanmu turun-temurun.
Inilah
perjanjianKu, yang kamu harus pegang, perjanjian antara Aku dan kamu
serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat;
haruslah
dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara
Aku dengan kamu.
Anak
yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di
antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang
dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk
keturunanmu.
Orang
yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus
disunat; maka dalam dagingmulah perjanjianKu itu menjadi perjanjian
yang kekal.
Baca,
perhatikan, dan renungkan kembali ayat-ayat tersebut dengan cermat.
Dalam
peristiwa tersebut di atas, Tuhan sedang menjelaskan kepada Abraham apa
saja yang akan Tuhan sediakan bagi Abraham bila ia mau hidup dengan tidak
bercela di hadapanNya (ayat 4-8). Tuhan juga menjelaskan apa yang harus
Abraham lakukan untuk menerima semua janji-janjiNya (ayat 9-13).
Perjanjian ini dimateraikan dengan darah yang tercurah pada saat setiap
laki-laki yang bersama dengan Abraham disunat. Pada saat darah tercurah,
maka perjanjian itu menjadi sesuatu yang bersifat kekal (ayat 13).
Perjanjian kekal berarti perjanjian ini tidak pernah dicabut, tidak pernah
mengalami amandemen, penundaan, maupun dibekukan.
Anda
harus mengingat bahwa perjanjian kekal ini diberikan kepada Abraham pada
saat ia belum disunat. Dan karena Abraham, dengan iman, percaya kepada
setiap perkataan Tuhan dan Tuhan memperhitungkan iman Abraham sebagai
kebenaran baginya (Kej. 15:6). Materai darah atas perjanjian Tuhan dengan
Abraham serta keturunannya menegaskan bahwa Tuhan sungguh-sungguh serius
dengan perjanjianNya itu. Perjanjian ini mengikat Tuhan dengan manusia
sedemikian rupa sehingga ketika Tuhan ingin menjatuhkan penghakiman kepada
Sodom dan Gomora, Tuhan harus mengatakan
hal itu kepada Abraham (Kej. 18:17).
Bayangkan,
seorang pribadi yang Mahakuasa yang bernama Tuhan, Pencipta langit dan
bumi, berkewajiban untuk
menceritakan (atau bahasa rohaninya: konseling) kepada umat
ciptaanNya apa yang akan Ia lakukan.
Kesempatan
itu dipakai dengan baik oleh Abraham untuk bernegosiasi (bersyafaat)
dengan Tuhan mengenai Sodom dan Gomora. Abraham bisa dengan santai "memaksa"
Tuhan untuk setuju dengan persyaratannya, yaitu Tuhan tidak akan
memusnahkan Sodom dan Gomora kalau ada 10 orang benar yang tinggal di
dalam kota bejat itu.
Jika
kita baca lebih lanjut kisah mengenai Sodom dan Gomora, kita akan tahu
bahwa ternyata tidak ada 10 orang benar di kota itu. Lalu mengapa Lot dan
seisi rumahnya diselamatkan? Di dalam negosiasi Abraham dengan Tuhan (Kej.
18:16-33) tidak tercatat bahwa Abraham memohon Tuhan untuk tidak
menghakimi saudaranya Lot.
Jika
kita berpegang kepada persyaratan yang Abraham berikan kepada Tuhan,
harusnya Tuhan memusnahkan Sodom dan Gomora dengan seisi kota itu,
termasuk orang benar dan orang fasik. Lot pun hidupnya tidaklah sejalan
dengan firman Tuhan. Karena sudah terlalu lama tinggal di kota yang
berkebudayaan bejat, Lot menjadi sama bejatnya dengan orang yang tidak
mengenal Tuhan. Ia bahkan menawarkan anak-anak perempuannya untuk ditiduri
oleh masyarakat setempat (Kej. 19:4-8). Ayah macam apa yang memiliki hati
seperti itu?
Mengapa
Lot dan seisi rumahnya dihindarkan dari bencana murka Tuhan itu? Bahkan
Tuhan bermurah hati dengan menawarkan calon-calon menantunya untuk lari
bersama Lot agar terluput dari bencana itu, meskipun mereka menolaknya (Kej.
19:12-14). Lot dan seisi rumahnya diselamatkan hanya karena Lot adalah
kaum keluarga Abraham. Wow!! Ternyata Nepotisme adalah ide dari Tuhan.
Kita
bisa lihat dari Kejadian 7:1 saat Nuh dan seisi rumahnya diselamatkan, Lalu
berfirmanlah TUHAN kepada Nuh: "Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau
dan seisi rumahmu, sebab engkaulah yang Kulihat benar di hadapan-Ku di
antara orang zaman ini."
Ini
menjelaskan posisi kita yang sebenarnya di hadapan Tuhan. Kita, sebagai
orang benar, dapat bersyafaat
bagi keluarga, lingkungan tempat tinggal, bangsa, dan negara sekalipun
agar mereka tidak terkena hukuman bersama-sama dengan dunia (Kej. 7:1).
Sebab doa orang benar yang dinaikkan dengan penuh percaya sangat besar
kuasanya (Yak. 5:16).
Lalu
apa hubungannya Abraham dengan kita, orang percaya? Kita orang Indonesia,
sementara Abraham kan orang Yahudi. Apa keuntungannya bagi kita untuk
mempelajari perjanjian Tuhan dengan Abraham ini? Galatia 3 (seluruh pasal)
menjelaskan bahwa mereka yang hidup dengan iman adalah anak-anak Abraham.
Iman kita kepada Yesus Kristus memberikan kita hak untuk menerima janji
Allah yang diberikan kepada Abraham.
Dalam
pandangan Tuhan, perjanjianNya dengan Abraham itu adalah sesuatu yang
sangat penting dan merupakan kerinduan hatiNya. Tuhan sedemikian seriusnya
dengan perjanjian itu sehingga Ia memberikan kepada Musa seperangkat
peraturan yang dapat membantu umatNya untuk berjalan di dalam
perjanjianNya serta menikmati semua janjiNya. Bahkan Tuhan menyebut
Sepuluh Firman Tuhan sebagai PerjanjianNya (Ul. 4:13).
Orang
Israel salah kaprah dalam memperlakukan Kesepuluh Firman Tuhan itu. Mereka
menyangka dengan melakukan semuanya, mereka dibenarkan di hadapan Tuhan
dan itulah yang menjadikan mereka sebagai umat pilihan Tuhan. Mereka
mengabaikan aspek percaya (iman) terhadap setiap perkataan Tuhan.
Sementara
di lain pihak Tuhan berkata bahwa orang benar akan hidup dengan iman bukan
karena melakukan Hukum Taurat (Gal. 3:11). Setiap firman Tuhan dan
ketetapanNya bukanlah hal yang mengikat kita maupun mengekang kita. Justru
semua yang diberikan Tuhan adalah kuk yang enak dan bebanNya ringan (Mat.
11:30) karena bukan kita yang melakukannya melainkan RohNya (Zak. 4:6).
Dalam Sepuluh FirmanNya, Tuhan justru berkata: "Lihat, inilah apa
yang akan Aku lakukan dan yang telah Kusediakan bagimu jika engkau tidak
melakukan hal-hal berikut." Tuhan justru mengajarkan kita untuk
mengadopsi suatu gaya
hidup yang akan membuat kita hidup tidak bercela di hadapanNya.
Sesuatu
yang kita jadikan gaya hidup tidaklah memberatkan kita. Contohnya, seorang
penipu memiliki gaya hidup sebagai seorang penipu. Ia tidak bisa hidup
tanpa menipu, dan tipuan selalu keluar dari mulutnya hampir secara
otomatis. Dan ia tidak merasa berdosa apalagi bersalah karena menipu.
Seorang penjudi adalah seseorang yang mengambil berjudi sebagai gaya
hidupnya. Ia dapat menjadikan segala kegiatan sebagai bahan taruhan:
pertandingan tinju, balap mobil, main kartu, bahkan anaknya diterima atau
tidak di ITB dapat dijadikannya sebagai medan pertaruhan. Dan itu menjadi
sifat "alamiahnya".
Jika
kita mau menjadikan kekristenan sebagai gaya hidup kita, maka kita harus
mengadopsi hukum-hukum Tuhan dan janji-janjiNya sebagai cara kita hidup.
Memang dibutuhkan waktu yang tidak singkat dan latihan yang terus menerus,
tetapi bukan berarti itu mustahil. Karena tidak ada yang mustahil untuk
orang percaya (Mar. 9:23).
Seumur
hidup kita sebelum kita lahir baru dan dibaptis Roh Kudus, kita telah
terlatih untuk melakukan segala sesuatu seperti dunia: berkata-kata,
berpikir, mengambil keputusan, bertindak, bereaksi, dsb. Sekarang, setelah
kita pindah dari kerajaan kegelapan ke dalam kerajaan terang, pasti juga
membutuhkan waktu yang tidak singkat untuk kita berkata-kata, berpikir,
bertindak, mengambil keputusan seperti Yesus.
Saya ajak anda untuk mulai berkata-kata seperti Yesus, bersikap seperti Yesus, hidup seperti Yesus saat Dia masih di dunia. Kemauan berasal dari kita,dan kekuatan berasal dariNya (Zak. 4:6). Apakah anda mau? Pilihannya di tangan anda!!