Perjanjian Darah

Oleh Maggy Horhoruw

Tradisi "primitif" suku-suku bangsa Indian, di Afrika, maupun di negara-negara lain, menganggap perjanjian darah antara satu pihak dengan pihak lain sebagai sesuatu yang sakral dan lebih kuat ikatannya dibandingkan dengan perjanjian verbal. Tradisi "primitif" ini bukanlah suatu karangan manusia belaka, tetapi sesuatu yang diawali oleh Tuhan. Tuhan membuat perjanjian dengan manusia dan memateraikan perjanjianNya itu dengan darah.

Dalam Kejadian 12 Tuhan memanggil Abraham dan memberikan janji-janjiNya kepada Abraham. Dalam Kejadian 17:1-13,

  1. TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: "Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapanKu dengan tidak bercela.

  2. Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dengan engkau, dan Aku akan membuat engkau sangat banyak."

  3. Lalu sujudlah Abram, dan Allah berfirman kepadanya:

  4. "Dari pihakKu, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa.

  5. Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah bangsa besar.

  6. Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak; engkau akan Kubuat menjadi bangsa-bangsa, dan daripadamu akan berasal raja-raja.

  7. Aku akan mengadakan antara Aku dengan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu.

  8. Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka."

  9. Lagi firman Allah kepada Abraham: "Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjianKu, engkau dan keturunanmu turun-temurun.

  10. Inilah perjanjianKu, yang kamu harus pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat;

  11. haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dengan kamu.

  12. Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu.

  13. Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjianKu itu menjadi perjanjian yang kekal.

Baca, perhatikan, dan renungkan kembali ayat-ayat tersebut dengan cermat.

Dalam peristiwa tersebut di atas, Tuhan sedang menjelaskan kepada Abraham apa saja yang akan Tuhan sediakan bagi Abraham bila ia mau hidup dengan tidak bercela di hadapanNya (ayat 4-8). Tuhan juga menjelaskan apa yang harus Abraham lakukan untuk menerima semua janji-janjiNya (ayat 9-13). Perjanjian ini dimateraikan dengan darah yang tercurah pada saat setiap laki-laki yang bersama dengan Abraham disunat. Pada saat darah tercurah, maka perjanjian itu menjadi sesuatu yang bersifat kekal (ayat 13). Perjanjian kekal berarti perjanjian ini tidak pernah dicabut, tidak pernah mengalami amandemen, penundaan, maupun dibekukan.

Anda harus mengingat bahwa perjanjian kekal ini diberikan kepada Abraham pada saat ia belum disunat. Dan karena Abraham, dengan iman, percaya kepada setiap perkataan Tuhan dan Tuhan memperhitungkan iman Abraham sebagai kebenaran baginya (Kej. 15:6). Materai darah atas perjanjian Tuhan dengan Abraham serta keturunannya menegaskan bahwa Tuhan sungguh-sungguh serius dengan perjanjianNya itu. Perjanjian ini mengikat Tuhan dengan manusia sedemikian rupa sehingga ketika Tuhan ingin menjatuhkan penghakiman kepada Sodom dan Gomora, Tuhan harus mengatakan hal itu kepada Abraham (Kej. 18:17).

Bayangkan, seorang pribadi yang Mahakuasa yang bernama Tuhan, Pencipta langit dan bumi, berkewajiban untuk menceritakan (atau bahasa rohaninya: konseling) kepada umat ciptaanNya apa yang akan Ia lakukan.

Kesempatan itu dipakai dengan baik oleh Abraham untuk bernegosiasi (bersyafaat) dengan Tuhan mengenai Sodom dan Gomora. Abraham bisa dengan santai "memaksa" Tuhan untuk setuju dengan persyaratannya, yaitu Tuhan tidak akan memusnahkan Sodom dan Gomora kalau ada 10 orang benar yang tinggal di dalam kota bejat itu.

Jika kita baca lebih lanjut kisah mengenai Sodom dan Gomora, kita akan tahu bahwa ternyata tidak ada 10 orang benar di kota itu. Lalu mengapa Lot dan seisi rumahnya diselamatkan? Di dalam negosiasi Abraham dengan Tuhan (Kej. 18:16-33) tidak tercatat bahwa Abraham memohon Tuhan untuk tidak menghakimi saudaranya Lot.

Jika kita berpegang kepada persyaratan yang Abraham berikan kepada Tuhan, harusnya Tuhan memusnahkan Sodom dan Gomora dengan seisi kota itu, termasuk orang benar dan orang fasik. Lot pun hidupnya tidaklah sejalan dengan firman Tuhan. Karena sudah terlalu lama tinggal di kota yang berkebudayaan bejat, Lot menjadi sama bejatnya dengan orang yang tidak mengenal Tuhan. Ia bahkan menawarkan anak-anak perempuannya untuk ditiduri oleh masyarakat setempat (Kej. 19:4-8). Ayah macam apa yang memiliki hati seperti itu?

Mengapa Lot dan seisi rumahnya dihindarkan dari bencana murka Tuhan itu? Bahkan Tuhan bermurah hati dengan menawarkan calon-calon menantunya untuk lari bersama Lot agar terluput dari bencana itu, meskipun mereka menolaknya (Kej. 19:12-14). Lot dan seisi rumahnya diselamatkan hanya karena Lot adalah kaum keluarga Abraham. Wow!! Ternyata Nepotisme adalah ide dari Tuhan.

Kita bisa lihat dari Kejadian 7:1 saat Nuh dan seisi rumahnya diselamatkan, Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Nuh: "Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi rumahmu, sebab engkaulah yang Kulihat benar di hadapan-Ku di antara orang zaman ini."

Ini menjelaskan posisi kita yang sebenarnya di hadapan Tuhan. Kita, sebagai orang benar, dapat bersyafaat bagi keluarga, lingkungan tempat tinggal, bangsa, dan negara sekalipun agar mereka tidak terkena hukuman bersama-sama dengan dunia (Kej. 7:1). Sebab doa orang benar yang dinaikkan dengan penuh percaya sangat besar kuasanya (Yak. 5:16).

Lalu apa hubungannya Abraham dengan kita, orang percaya? Kita orang Indonesia, sementara Abraham kan orang Yahudi. Apa keuntungannya bagi kita untuk mempelajari perjanjian Tuhan dengan Abraham ini? Galatia 3 (seluruh pasal) menjelaskan bahwa mereka yang hidup dengan iman adalah anak-anak Abraham. Iman kita kepada Yesus Kristus memberikan kita hak untuk menerima janji Allah yang diberikan kepada Abraham.

Dalam pandangan Tuhan, perjanjianNya dengan Abraham itu adalah sesuatu yang sangat penting dan merupakan kerinduan hatiNya. Tuhan sedemikian seriusnya dengan perjanjian itu sehingga Ia memberikan kepada Musa seperangkat peraturan yang dapat membantu umatNya untuk berjalan di dalam perjanjianNya serta menikmati semua janjiNya. Bahkan Tuhan menyebut Sepuluh Firman Tuhan sebagai PerjanjianNya (Ul. 4:13).

Orang Israel salah kaprah dalam memperlakukan Kesepuluh Firman Tuhan itu. Mereka menyangka dengan melakukan semuanya, mereka dibenarkan di hadapan Tuhan dan itulah yang menjadikan mereka sebagai umat pilihan Tuhan. Mereka mengabaikan aspek percaya (iman) terhadap setiap perkataan Tuhan.

Sementara di lain pihak Tuhan berkata bahwa orang benar akan hidup dengan iman bukan karena melakukan Hukum Taurat (Gal. 3:11). Setiap firman Tuhan dan ketetapanNya bukanlah hal yang mengikat kita maupun mengekang kita. Justru semua yang diberikan Tuhan adalah kuk yang enak dan bebanNya ringan (Mat. 11:30) karena bukan kita yang melakukannya melainkan RohNya (Zak. 4:6). Dalam Sepuluh FirmanNya, Tuhan justru berkata: "Lihat, inilah apa yang akan Aku lakukan dan yang telah Kusediakan bagimu jika engkau tidak melakukan hal-hal berikut." Tuhan justru mengajarkan kita untuk mengadopsi suatu gaya hidup yang akan membuat kita hidup tidak bercela di hadapanNya.

Sesuatu yang kita jadikan gaya hidup tidaklah memberatkan kita. Contohnya, seorang penipu memiliki gaya hidup sebagai seorang penipu. Ia tidak bisa hidup tanpa menipu, dan tipuan selalu keluar dari mulutnya hampir secara otomatis. Dan ia tidak merasa berdosa apalagi bersalah karena menipu. Seorang penjudi adalah seseorang yang mengambil berjudi sebagai gaya hidupnya. Ia dapat menjadikan segala kegiatan sebagai bahan taruhan: pertandingan tinju, balap mobil, main kartu, bahkan anaknya diterima atau tidak di ITB dapat dijadikannya sebagai medan pertaruhan. Dan itu menjadi sifat "alamiahnya".

Jika kita mau menjadikan kekristenan sebagai gaya hidup kita, maka kita harus mengadopsi hukum-hukum Tuhan dan janji-janjiNya sebagai cara kita hidup. Memang dibutuhkan waktu yang tidak singkat dan latihan yang terus menerus, tetapi bukan berarti itu mustahil. Karena tidak ada yang mustahil untuk orang percaya (Mar. 9:23).

Seumur hidup kita sebelum kita lahir baru dan dibaptis Roh Kudus, kita telah terlatih untuk melakukan segala sesuatu seperti dunia: berkata-kata, berpikir, mengambil keputusan, bertindak, bereaksi, dsb. Sekarang, setelah kita pindah dari kerajaan kegelapan ke dalam kerajaan terang, pasti juga membutuhkan waktu yang tidak singkat untuk kita berkata-kata, berpikir, bertindak, mengambil keputusan seperti Yesus.

Saya ajak anda untuk mulai berkata-kata seperti Yesus, bersikap seperti Yesus, hidup seperti Yesus saat Dia masih di dunia. Kemauan berasal dari kita,dan kekuatan berasal dariNya (Zak. 4:6). Apakah anda mau? Pilihannya di tangan anda!!