Hidup Dengan Iman: Bukan Mengenai Mendapatkan Melainkan Menerima

Oleh Maggy Horhoruw

Setelah saya lahir baru dan mengenal firman Tuhan, saya tahu bahwa orang benar akan hidup oleh iman (Roma 1:17).

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah bagaimana hidup dengan iman?

Teori vs Praktek

Sekedar tahu mengenai cerita-cerita dan ayat-ayat Alkitab, tidak menjamin saya hidup dengan iman.

Berapa banyak orang yang kita kenal yang dapat mengutip ayat-ayat Alkitab dengan lancar dan mungkin juga berkhotbah dengan fasih, akan tetapi kenyataan hidupnya bertentangan dengan khotbahnya?

Kemudian berapa banyak orang yang dengan rajin menghadiri kebaktian, seminar rohani, dan KKR yang keadaan hidupnya tidak membaik sedikitpun?

Apa yang salah dengan gambaran itu?

Yakobus 1:22 berkata, Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja, sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.

Mengapa Tuhan menyuruh kita menjadi pelaku Firman?  Karena ...barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang [baca Roma 8:1-2], dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan diberkati dalam segala perbuatannya (Yakobus 1:25, King James Version).

Hanya kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah Kuperintahkan kepadamu oleh hambaKu Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, kemanapun engkau pergi. Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung (Yosua 1:7-8).

Jika engkau baik-baik mendengarkan suara Tuhan, Allah-mu, dan melakukan dengan setia segala perintahNya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka Tuhan, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi (Ulangan 28:1).

Hidup oleh iman berarti kita menjadi pelaku firman.  Kita berpikir sesuai firman.  Kita berkata-kata sesuai firman. Kita mengambil keputusan berdasarkan firman. Kita berdoa berdasarkan firman. Pada intinya jika kita hidup oleh iman berarti apapun yang kita kerjakan dalam hidup ini adalah berdasarkan firman Tuhan.

Tanpa menjadi pelaku firman, kita akan sama seperti “tong kosong nyaring bunyinya.” Kita hanya sekedar tahu mengenai Tuhan tetapi kita tidak mengenal Tuhan kita.

Tuhan berkata bahwa umatNya binasa karena tidak mengenal Dia (Hosea 4:6), bukan karena tidak tahu mengenai Dia.

Kelahiran baru dan pengetahuan Alkitab tidak akan membuat kita hidup berkemenangan. Tetapi kelahiran baru dan pengenalan akan Tuhan membuat kita lebih dari pemenang dalam hidup ini.

Tidak Ada Nepotisme Di Dalam Kerajaan Allah

Definisi sederhana dari Nepotisme adalah perlakuan istimewa yang diberikan kepada sanak saudara.  Dulu saya berpikir bahwa nepotisme adalah ide dari Tuhan.  Saya berpikir, “Saya kan anak Tuhan, berarti Tuhan akan memberikan segala yang saya minta dan kalau perlu Tuhan akan membiarkan saya melanggar peraturan untuk mendapatkan apa yang saya minta, karena saya kan anak.” Banyak juga mungkin orang Kristen yang berpikiran sama dengan saya.

Dengan berpikiran begitu, banyak orang Kristen yang melakukan perkara-perkara yang melanggar hukum, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, dan berpikir bahwa Tuhan akan membuat mereka berhasil karena mereka khan anak Tuhan.

Orang Kristen yang merasa Indonesia tidak mampu memberikan masa depan yang baik, menghalalkan tinggal gelap (tanpa visa imigran dan ijin kerja) di luar negeri—mungkin dengan setiap malam berdoa khusuk agar mereka tidak tertangkap oleh petugas imigrasi.

Orang Kristen yang tinggal di Indonesia dan juga merasa bahwa negara ini tidak mampu memberikan masa depan yang baik, menghalalkan cara apapun yang penting bisa menghasilkan uang cepat sehingga terjadilah kasus penipuan, atau korupsi, atau hutang yang tidak terbayar di antara orang Kristen.

Karena mereka tidak mengenal Tuhan Yesus, mereka berpikir perilaku mereka itu dapat dibenarkan oleh Tuhan karena mereka khan anak Tuhan.  Karena mereka tidak mengenal Tuhan, tanpa diketahui mereka telah menjalani hukum dosa dan hukum maut yang berarti menjadikan iblis ilah mereka.

“Tetapi mereka khan orang Kristen.  Bagaimana mungkin mereka menjadikan iblis ilah mereka sementara mereka rajin ke gereja dan rajin berdoa dalam nama Yesus.  Masa sih Tuhan tidak membela mereka,” pikir anda.

Anda benar bahwa mereka orang Kristen yang rajin ke gereja dan berdoa.  Anda benar bahwa Tuhan akan membela mereka karena mereka anak-anak Tuhan.  Yang perlu kita semua ketahui adalah Tuhan telah berfirman bahwa upah dosa adalah maut (Roma 6:23).

Tuhan tetap mengasihi orang Kristen yang melanggar peraturan karena Dia adalah kasih (1 Yohanes 4:16).  Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini [bukan kasihNya akan orang Kristen saja!], sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16).

Perilaku kita tidak mengubah siapa Tuhan.  Perbuatan kita tidak akan mengubah kodrat Tuhan yang adalah kasih. Apakah kita berdoa 10 jam sehari atau 10 menit sehari, Dia tetap akan memberikan yang baik dan sempurna kepada kita (Yakobus 1: 17) karena Dia adalah kasih.  Apakah kita memberi perpuluhan atau tidak, tetap Tuhan mengasihi kita karena Dia adalah kasih.

Akan tetapi perilaku kita yang taat atau tidak taat melakukan firmanNya akan menentukan apakah kita menerima berkat atau kutuk.  Tuhan mau semua umatNya hidup dalam berkat.  Dia juga telah memberitahu bagaimana caranya hidup dalam berkat (baca Ulangan 28: 1-2; Yosua 1:7-8).

Tuhan mengatakan bahwa kalau kita baik-baik mendengarkan suaraNya [iman timbul, Roma 10:17] dan melakukan segala perintahNya dengan setia [iman menjadi sempurna, Yakobus 2: 14-26] maka kita akan berhasil dan beruntung.  Tuhan juga ber-kata bahwa orang benar akan hidup oleh iman (Roma 1:17; Habakuk 2:4).

Orang-orang yang melanggar hukum di atas berbuat seperti itu karena mereka tidak mengenal Tuhan.  Mereka tidak kenal Tuhan yang adalah Kasih dan oleh karena itu Dia sudah menyediakan takdir yang baik, penuh damai sejahtera dan yang akan memberikan masa depan yang penuh pengharapan (Yeremia 29:11).  Kalau mereka tahu janji itu dan kenal siapa Tuhan, mereka pasti tidak mau repot-repot melanggar hukum.

Tahukah anda bahwa melanggar hukum itu jauh lebih merepotkan dan memberikan beban berat kepada kita dari pada menaati firman Tuhan?  Tuhan bilang orang percaya akan memasuki tempat perhentianNya (Ibrani 4:3).  Yesus juga mengundang mereka yang ber-beban berat untuk datang kepadaNya agar hidupnya lebih tenang dan enak (Matius 11:28).

Kuasa Iman

Kita tahu bahwa orang benar hidup oleh iman.  Orang hidup memiliki berbagai kebutuhan.  Kalau orang benar akan hidup oleh iman berarti iman akan mencukupi segala kebutuhan kita untuk hidup.

2 Petrus 1:3 (King James Version) berkata, Karena kuasa ilahiNya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup dan kesalehan oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasaNya yang mulia dan ajaib.

Dengan kata lain ayat di atas berkata bahwa kebutuhan hidup kita akan terpenuhi sejauh pengenalan kita akan Dia.  Berarti semakin kita mengenal Dia semakin banyak kebutuhan kita yang dapat terpenuhi.

Ibrani 4:3 mengatakan bahwa orang percaya akan memasuki tempat perhentianNya. Berarti kita perlu menumbuhkan iman kita di dalam segala aspek kehidupan agar kita dapat hidup oleh iman. Kita perlu mendengarkan firman mengenai janji Tuhan bagi kesembuhan, keuangan kita, pekerjaan, pasangan hidup, anak-anak, pendidikan anak-anak, dll.  Semakin banyak kita mengenal pribadi Tuhan maka semakin banyak aspek kehidupan kita yang dapat kita “parkir” di tempat perhentianNya.

Di tempat perhentianNya, kita tidak lagi perlu bekerja keras untuk menambahkan segala sesuatu yang kita butuhkan. Tidak berarti kita lalu menjadi pemalas.

Jika saya “memarkir” area kesehatan di tempat perhentian-Nya, ketika gejala penyakit datang mau menetap di tubuh saya maka saya harus menolak gejala itu.  Saya harus mengusir gejala itu dengan memperkatakan janji Tuhan di area kesehatan dan kesembuhan (a.l. 1 Petrus 2:24; Amsal 4:20-22).  Dan kalau gejala penyakit itu tidak langsung hilang dari tubuh saya, maka saya harus terus memperkatakan janji-janji Tuhan itu sampai gejala itu total hilang dari tubuh saya.

Kalau kita sudah masuk ke tempat perhentianNya di area kesehatan, maka ketika gejala sakit datang seharusnya kita tidak panik mereka-reka penyakit apa yang menimpa kita.  Kita bisa pergi ke dokter kalau mau dan ada uang.  Tetapi diagnosa dokter bukanlah penentu hidup kita.  Firman Tuhan mengenai kesembuhan dan kesehatan kita harus tetap menjadi penentu hidup kita.  Inilah pekerjaan yang harus kita lakukan meskipun kita sudah masuk ke tempat perhentianNya, yaitu tetap percaya kepada firmanNya.

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibrani 11: 1).  Terjemahan King James Version mengatakan bahwa “iman adalah materi” dari apa yang kita harapkan.

Bagaimana iman kita dapat memberikan materi kepada pengharapan kita sehingga hal itu terwujud di alam nyata?  Yaitu dengan memperkatakan iman kita yang dibangun di atas firman Tuhan.  Sebagaimana Tuhan menciptakan bumi dan isinya serta manusia dengan berkata-kata, maka begitu pula yang harus kita kerjakan.  Ketika kita memperkatakan iman kita, para malaikat yang diberikan Tuhan untuk melayani dan menjaga kita akan segera melaksanakan firman iman itu (Mazmur 103:20-21).

Iman Untuk Menerima

Sebagai orang benar kita akan hidup oleh iman.  Karena iman timbul dari pendengaran akan firman, berarti kita harus mendapatkan pengajaran firman Tuhan.  Karena iman kita menjadi sempurna dengan perbuatan kita yang sejalan dengan iman kita, berarti kita wajib menjadi pelaku firman.  Perbuatan yang sejalan dengan iman kita berarti termasuk perkataan kita yang sesuai dengan firman Tuhan—berkata-kata termasuk perbuatan, bukan?!

2 Korintus 4:13 berkata, Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: “Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata,” maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata.

Markus 11:22-24 (King James Version) kembali menegaskan pentingnya iman dan perkataan untuk menerima dari Tuhan, Yesus menjawab mereka: “Percayalah kepada Allah!” Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka ia akan mendapatkan apa yang ia katakan. Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.

Iman timbul dari pendengaran akan firman dan kalau kita setuju dengan apa yang kita dengar dan kemudian kita perkatakan, maka kita akan menerimanya di alam nyata.  Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibrani 11:1).  Berarti apa yang kita percaya (iman) adalah sesuatu yang belum terlihat; berarti iman kita dibangun di atas sesuatu yang bersifat rohani yang belum nyata.

Iman adalah dasar dari apa yang diharapkan, berarti ada pengharapan akan sesuatu untuk dimiliki atau terjadi dalam kehidupan kita dan sesuatu itu tidak nampak di alam nyata.  Pengharapan bukanlah khayalan.  Pengharapan yang dimaksud dalam Ibrani 11:1 adalah pengharapan yang timbul karena janji Tuhan yang kita dengar.  Khayalan tidak dibangun atas janji Tuhan dan karenanya tidak memiliki potensi untuk terwujud.

Yesus berkata bahwa firmanNya adalah roh dan hidup (Yohanes 6:63).  Sebab itu jika kita mendengar firman Tuhan, iman timbul, dan jika kita memperkatakan iman kita (memperkatakan apa yang kita percaya) serta tidak bimbang di dalam hati bahwa hal itu akan kita terima, maka kita akan menerima yang kita perkatakan.

Mengapa harus tidak bimbang di dalam hati?  Karena orang yang bimbang tidak akan konsisten dalam memperkatakan imannya.  Kalau situasi baik maka perkataannya sesuai de-ngan firman Tuhan.  Tetapi kalau situasi tidak baik maka ia akan berkata-kata sesuai dengan kondisi.  Dengan kata lain, kalau kita terus menerus memperkatakan firman Tuhan tanpa me-mandang situasi (2 Korintus 5: 7), berarti kita akan menerima janjiNya.  Setelah kita tahu janjiNya, kita percaya dan setuju denganNya, kita perkatakan janjiNya, maka hal itu akan dikabulkan (1 Yohanes 5:14-15).

Tuhan sudah menyediakan rancangan hidup (takdir) yang terbaik bagi kita (Yeremia 29: 11).  Semuanya itu sudah diselesaikanNya sebelum kita lahir dan dibentuk di dalam rahim ibu kita (Efesus 2:10; Ibrani 4:3; Yeremia 1:5).  Dia kemudian memberikan Roh Kudus di dalam hati kita agar takdir ilahi yang baik dan sempurna itu dapat disingkapkan kepada kita jika kita menjalin hubungan intim dengan Roh Kudus (1 Korintus 2:7-10; Yohanes 14:16-17, 26; Yohanes 16:13).

Kalau semuanya sudah diselesaikan Tuhan bagi kita, berarti patut kita jalani yang Tuhan Yesus perintahkan dalam Matius 6:33, Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

Semua yang baik dan sempurna sudah tersedia bagi anda dan saya.  Cari tahu apa yang Tuhan sudah sediakan bagi GerejaNya secara umum dan bagi anda secara khusus.  Hidup dengan iman itu bukanlah berbuat hal-hal yang rohani untuk mengambil hati Tuhan agar Tuhan berbuat baik kepada kita.

Hidup dengan iman adalah persekutuan intim dengan Tuhan melalui Roh Kudus untuk mengetahui kehendak hatiNya yang sudah dituangkanNya ke dalam rencana hidupNya bagi kita, kemudian sepakat dengan firmanNya dengan memperkatakan janjiNya itu tanpa memandang situasi sampai janjiNya terwujud di dalam alam nyata.

Hidup dengan iman bukanlah berdoa dan bekerja untuk mendapatkan, tetapi berdoa dan menerima!