Setelah saya lahir baru dan mengenal firman Tuhan, saya tahu bahwa orang benar akan hidup oleh iman (Roma 1:17).
Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah bagaimana hidup dengan iman?
Sekedar
tahu mengenai cerita-cerita dan ayat-ayat Alkitab, tidak menjamin saya hidup
dengan iman.
Berapa
banyak orang yang kita kenal yang dapat mengutip ayat-ayat Alkitab dengan lancar
dan mungkin juga berkhotbah dengan fasih, akan tetapi kenyataan hidupnya
bertentangan dengan khotbahnya?
Kemudian
berapa banyak orang yang dengan rajin menghadiri kebaktian, seminar rohani, dan
KKR yang keadaan hidupnya tidak membaik sedikitpun?
Apa
yang salah dengan gambaran itu?
Yakobus
1:22 berkata, Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku
firman dan bukan hanya pendengar saja, sebab jika tidak demikian kamu
menipu diri sendiri.
Mengapa
Tuhan menyuruh kita menjadi pelaku Firman?
Karena ...barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang
memerdekakan orang [baca Roma 8:1-2], dan ia bertekun di dalamnya, jadi
bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya,
ia akan diberkati dalam segala perbuatannya (Yakobus 1:25, King James
Version).
Hanya
kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah
hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah Kuperintahkan kepadamu oleh
hambaKu Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau
beruntung, kemanapun engkau pergi. Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab
Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak
hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan
demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung (Yosua 1:7-8).
Jika
engkau baik-baik mendengarkan suara Tuhan, Allah-mu, dan melakukan
dengan setia segala perintahNya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka
Tuhan, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi
(Ulangan 28:1).
Hidup oleh iman berarti kita menjadi pelaku firman. Kita berpikir sesuai firman. Kita berkata-kata sesuai firman. Kita mengambil keputusan berdasarkan firman. Kita berdoa berdasarkan firman. Pada intinya jika kita hidup oleh iman berarti apapun yang kita kerjakan dalam hidup ini adalah berdasarkan firman Tuhan.
Tanpa
menjadi pelaku firman, kita akan sama seperti “tong kosong nyaring
bunyinya.” Kita hanya sekedar tahu mengenai Tuhan tetapi kita tidak mengenal
Tuhan kita.
Tuhan
berkata bahwa umatNya binasa karena tidak mengenal Dia (Hosea 4:6), bukan karena
tidak tahu mengenai Dia.
Kelahiran
baru dan pengetahuan Alkitab tidak akan membuat kita hidup berkemenangan. Tetapi
kelahiran baru dan pengenalan akan Tuhan membuat kita lebih dari pemenang dalam
hidup ini.
Definisi
sederhana dari Nepotisme adalah perlakuan istimewa yang diberikan kepada sanak
saudara. Dulu saya berpikir bahwa
nepotisme adalah ide dari Tuhan. Saya
berpikir, “Saya kan anak Tuhan, berarti Tuhan akan memberikan segala yang saya
minta dan kalau perlu Tuhan akan membiarkan saya melanggar peraturan untuk
mendapatkan apa yang saya minta, karena saya kan anak.” Banyak juga mungkin
orang Kristen yang berpikiran sama dengan saya.
Dengan
berpikiran begitu, banyak orang Kristen yang melakukan perkara-perkara yang
melanggar hukum, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, dan berpikir bahwa
Tuhan akan membuat mereka berhasil karena mereka khan anak Tuhan.
Orang
Kristen yang merasa Indonesia tidak mampu memberikan masa depan yang baik,
menghalalkan tinggal gelap (tanpa visa imigran dan ijin kerja) di luar
negeri—mungkin dengan setiap malam berdoa khusuk agar mereka tidak tertangkap
oleh petugas imigrasi.
Orang
Kristen yang tinggal di Indonesia dan juga merasa bahwa negara ini tidak mampu
memberikan masa depan yang baik, menghalalkan cara apapun yang penting bisa
menghasilkan uang cepat sehingga terjadilah kasus penipuan, atau korupsi, atau
hutang yang tidak terbayar di antara orang Kristen.
Karena
mereka tidak mengenal Tuhan Yesus, mereka berpikir perilaku mereka itu dapat
dibenarkan oleh Tuhan karena mereka khan anak Tuhan.
Karena mereka tidak mengenal Tuhan, tanpa diketahui mereka telah
menjalani hukum dosa dan hukum maut yang berarti menjadikan iblis ilah mereka.
“Tetapi
mereka khan orang Kristen. Bagaimana
mungkin mereka menjadikan iblis ilah mereka sementara mereka rajin ke gereja dan
rajin berdoa dalam nama Yesus. Masa
sih Tuhan tidak membela mereka,” pikir anda.
Anda
benar bahwa mereka orang Kristen yang rajin ke gereja dan berdoa.
Anda benar bahwa Tuhan akan membela mereka karena mereka anak-anak Tuhan.
Yang perlu kita semua ketahui adalah Tuhan telah berfirman bahwa upah
dosa adalah maut (Roma 6:23).
Tuhan
tetap mengasihi orang Kristen yang melanggar peraturan karena Dia adalah kasih
(1 Yohanes 4:16). Karena begitu
besar kasih Allah akan dunia ini [bukan kasihNya akan orang Kristen saja!], sehingga
Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya
kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16).
Perilaku
kita tidak mengubah siapa Tuhan. Perbuatan
kita tidak akan mengubah kodrat Tuhan yang adalah kasih. Apakah kita berdoa 10
jam sehari atau 10 menit sehari, Dia tetap akan memberikan yang baik dan
sempurna kepada kita (Yakobus 1: 17) karena Dia adalah kasih.
Apakah kita memberi perpuluhan atau tidak, tetap Tuhan mengasihi kita
karena Dia adalah kasih.
Akan
tetapi perilaku kita yang taat atau tidak taat melakukan firmanNya akan
menentukan apakah kita menerima berkat atau kutuk.
Tuhan mau semua umatNya hidup dalam berkat. Dia juga telah memberitahu bagaimana caranya hidup dalam
berkat (baca Ulangan 28: 1-2; Yosua 1:7-8).
Tuhan
mengatakan bahwa kalau kita baik-baik mendengarkan suaraNya [iman timbul, Roma
10:17] dan melakukan segala perintahNya dengan setia [iman menjadi sempurna,
Yakobus 2: 14-26] maka kita akan berhasil dan beruntung.
Tuhan juga ber-kata bahwa orang benar akan hidup oleh iman (Roma 1:17;
Habakuk 2:4).
Orang-orang
yang melanggar hukum di atas berbuat seperti itu karena mereka tidak mengenal
Tuhan. Mereka tidak kenal Tuhan
yang adalah Kasih dan oleh karena itu Dia sudah menyediakan takdir yang baik,
penuh damai sejahtera dan yang akan memberikan masa depan yang penuh pengharapan
(Yeremia 29:11). Kalau mereka tahu
janji itu dan kenal siapa Tuhan, mereka pasti tidak mau repot-repot melanggar
hukum.
Tahukah
anda bahwa melanggar hukum itu jauh lebih merepotkan dan memberikan beban berat
kepada kita dari pada menaati firman Tuhan?
Tuhan bilang orang percaya akan memasuki tempat perhentianNya (Ibrani
4:3). Yesus juga mengundang mereka
yang ber-beban berat untuk datang kepadaNya agar hidupnya lebih tenang dan enak
(Matius 11:28).
Kita
tahu bahwa orang benar hidup oleh iman. Orang
hidup memiliki berbagai kebutuhan. Kalau orang benar akan hidup oleh iman berarti iman akan
mencukupi segala kebutuhan kita untuk hidup.
2
Petrus 1:3 (King James Version) berkata, Karena kuasa ilahiNya telah
menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup dan
kesalehan oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasaNya
yang mulia dan ajaib.
Dengan
kata lain ayat di atas berkata bahwa kebutuhan hidup kita akan terpenuhi sejauh
pengenalan kita akan Dia. Berarti
semakin kita mengenal Dia semakin banyak kebutuhan kita yang dapat terpenuhi.
Ibrani
4:3 mengatakan bahwa orang percaya akan memasuki tempat perhentianNya. Berarti
kita perlu menumbuhkan iman kita di dalam segala aspek kehidupan agar kita dapat
hidup oleh iman. Kita perlu mendengarkan firman mengenai janji Tuhan bagi
kesembuhan, keuangan kita, pekerjaan, pasangan hidup, anak-anak, pendidikan
anak-anak, dll. Semakin banyak kita
mengenal pribadi Tuhan maka semakin banyak aspek kehidupan kita yang dapat kita
“parkir” di tempat perhentianNya.
Di
tempat perhentianNya, kita tidak lagi perlu bekerja keras untuk menambahkan
segala sesuatu yang kita butuhkan. Tidak berarti kita lalu menjadi pemalas.
Jika
saya “memarkir” area kesehatan di tempat perhentian-Nya, ketika gejala
penyakit datang mau menetap di tubuh saya maka saya harus menolak gejala itu.
Saya harus mengusir gejala itu dengan memperkatakan janji Tuhan di area
kesehatan dan kesembuhan (a.l. 1 Petrus 2:24; Amsal 4:20-22).
Dan kalau gejala penyakit itu tidak langsung hilang dari tubuh saya, maka
saya harus terus memperkatakan janji-janji Tuhan itu sampai gejala itu total
hilang dari tubuh saya.
Kalau
kita sudah masuk ke tempat perhentianNya di area kesehatan, maka ketika gejala
sakit datang seharusnya kita tidak panik mereka-reka penyakit apa yang menimpa
kita. Kita bisa pergi ke dokter
kalau mau dan ada uang. Tetapi
diagnosa dokter bukanlah penentu hidup kita.
Firman Tuhan mengenai kesembuhan dan kesehatan kita harus tetap menjadi
penentu hidup kita. Inilah
pekerjaan yang harus kita lakukan meskipun kita sudah masuk ke tempat
perhentianNya, yaitu tetap percaya kepada firmanNya.
Iman
adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala
sesuatu yang tidak kita lihat (Ibrani 11: 1). Terjemahan King James Version mengatakan bahwa “iman
adalah materi” dari apa yang kita harapkan.
Bagaimana
iman kita dapat memberikan materi kepada pengharapan kita sehingga hal itu
terwujud di alam nyata? Yaitu
dengan memperkatakan iman kita yang dibangun di atas firman Tuhan.
Sebagaimana Tuhan menciptakan bumi dan isinya serta manusia dengan
berkata-kata, maka begitu pula yang harus kita kerjakan.
Ketika kita memperkatakan iman kita, para malaikat yang diberikan Tuhan
untuk melayani dan menjaga kita akan segera melaksanakan firman iman itu (Mazmur
103:20-21).
Sebagai
orang benar kita akan hidup oleh iman. Karena
iman timbul dari pendengaran akan firman, berarti kita harus mendapatkan
pengajaran firman Tuhan. Karena
iman kita menjadi sempurna dengan perbuatan kita yang sejalan dengan iman kita,
berarti kita wajib menjadi pelaku firman. Perbuatan
yang sejalan dengan iman kita berarti termasuk perkataan kita yang sesuai dengan
firman Tuhan—berkata-kata termasuk perbuatan, bukan?!
2
Korintus 4:13 berkata, Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti
ada tertulis: “Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata,” maka kami juga
percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata.
Markus
11:22-24 (King James Version) kembali menegaskan pentingnya iman dan
perkataan untuk menerima dari Tuhan, Yesus menjawab mereka: “Percayalah
kepada Allah!” Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada
gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! Asal tidak bimbang
hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka ia
akan mendapatkan apa yang ia katakan. Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja
yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal
itu akan diberikan kepadamu.
Iman
timbul dari pendengaran akan firman dan kalau kita setuju dengan apa yang kita
dengar dan kemudian kita perkatakan, maka kita akan menerimanya di alam nyata.
Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan
dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat
(Ibrani 11:1). Berarti apa
yang kita percaya (iman) adalah sesuatu yang belum terlihat; berarti iman kita
dibangun di atas sesuatu yang bersifat rohani yang belum nyata.
Iman
adalah dasar dari apa yang diharapkan, berarti ada pengharapan akan sesuatu
untuk dimiliki atau terjadi dalam kehidupan kita dan sesuatu itu tidak nampak di
alam nyata. Pengharapan bukanlah
khayalan. Pengharapan yang dimaksud
dalam Ibrani 11:1 adalah pengharapan yang timbul karena janji Tuhan yang kita
dengar. Khayalan tidak dibangun
atas janji Tuhan dan karenanya tidak memiliki potensi untuk terwujud.
Yesus
berkata bahwa firmanNya adalah roh dan hidup (Yohanes 6:63).
Sebab itu jika kita mendengar firman Tuhan, iman timbul, dan jika kita
memperkatakan iman kita (memperkatakan apa yang kita percaya) serta tidak
bimbang di dalam hati bahwa hal itu akan kita terima, maka kita akan menerima
yang kita perkatakan.
Mengapa
harus tidak bimbang di dalam hati? Karena
orang yang bimbang tidak akan konsisten dalam memperkatakan imannya.
Kalau situasi baik maka perkataannya sesuai de-ngan firman Tuhan.
Tetapi kalau situasi tidak baik maka ia akan berkata-kata sesuai dengan
kondisi. Dengan kata lain, kalau
kita terus menerus memperkatakan firman Tuhan tanpa me-mandang situasi (2
Korintus 5: 7), berarti kita akan menerima janjiNya.
Setelah kita tahu janjiNya, kita percaya dan setuju denganNya, kita
perkatakan janjiNya, maka hal itu akan dikabulkan (1 Yohanes 5:14-15).
Tuhan
sudah menyediakan rancangan hidup (takdir) yang terbaik bagi kita (Yeremia 29:
11). Semuanya itu sudah
diselesaikanNya sebelum kita lahir dan dibentuk di dalam rahim ibu kita (Efesus
2:10; Ibrani 4:3; Yeremia 1:5). Dia
kemudian memberikan Roh Kudus di dalam hati kita agar takdir ilahi yang baik dan
sempurna itu dapat disingkapkan kepada kita jika kita menjalin hubungan intim
dengan Roh Kudus (1 Korintus 2:7-10; Yohanes 14:16-17, 26; Yohanes 16:13).
Kalau
semuanya sudah diselesaikan Tuhan bagi kita, berarti patut kita jalani yang
Tuhan Yesus perintahkan dalam Matius 6:33, Tetapi carilah dahulu Kerajaan
Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
Semua yang baik dan sempurna sudah tersedia bagi anda dan saya. Cari tahu apa yang Tuhan sudah sediakan bagi GerejaNya secara umum dan bagi anda secara khusus. Hidup dengan iman itu bukanlah berbuat hal-hal yang rohani untuk mengambil hati Tuhan agar Tuhan berbuat baik kepada kita.
Hidup
dengan iman adalah persekutuan intim dengan Tuhan melalui Roh Kudus untuk
mengetahui kehendak hatiNya yang sudah dituangkanNya ke dalam rencana hidupNya
bagi kita, kemudian sepakat dengan firmanNya dengan memperkatakan janjiNya itu
tanpa memandang situasi sampai janjiNya terwujud di dalam alam nyata.
Hidup dengan iman bukanlah berdoa dan bekerja untuk mendapatkan, tetapi berdoa dan menerima!