Anak
yatim piatu adalah anak yang tidak mempunyai ayah dan ibu, hidup sebatang kara,
yang sanak saudaranya tidak diketahui keberadaannya. Anak yatim piatu biasanya
hidup tergantung dari belas kasihan dari orang lain karena tidak seorangpun yang
mempunyai kewajiban untuk membantu. Banyak anak yatim piatu yang tidak memiliki
pengharapan, hidup tanpa warisan, bahkan ada pihak tertentu yang merasa anak
yatim piatu adalah “benalu” yang bisanya hanya meminta-minta pertolongan
dan belas kasihan.
Terpujilah Tuhan bahwa kesempatan diadopsi untuk menjadi
seorang anak terbuka lebar. Melalui kelahiran baru siapapun bisa menerima
kedudukan sebagai anak Tuhan. Selain itu melalui kelahiran baru kita
juga disebut ahli waris, milik Tuhan dan kita memiliki
perjanjian dengan Bapa melalui darah anakNya Yesus Kristus yang telah
dicurahkan di bukit Kalvari. Anda
dan saya setiap saat dapat memanggil Bapa kita, setiap saat kita dapat masuk ke
ruang kudusNya untuk mencurahkan isi hati kita tanpa perlu buat janji terlebih
dahulu. Dia yang telah mengadopsi kita menjadi anak-anak-Nya adalah Bapa yang
penuh integritas yang memegang teguh perjanjianNya. Sekarang kita tahu bahwa
kita mempunyai seorang Bapa yang selalu menyertai kita sampai kesudahan akhir
jaman. Mari kita buka Alkitab dan lihat apa yang tersedia di dalam
perjanjianNya.
Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu–sebagai orang-orang
bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka
yang menamakan dirinya “sunat”, yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh
tangan manusia, bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan
Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan,
tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia
(Ef. 2:11-12).
Baca dan perhatikan ayat tersebut karena mengandung makna
yang dalam dan akan sangat membuka pengertian rohani anda. Pada zaman Perjanjian Lama, terbagi dua
kelompok manusia, yaitu orang Yahudi dan bukan
Yahudi. Jika seseorang termasuk kelompokYahudi tandanya adalah dia harus
disunat, yang ditandai dengan tumpahnya darah, sebagai meterai bahwa seseorang
memasuki perjanjian dengan Tuhan seperti yang dilakukan oleh Tuhan dengan
Abraham (baca Kej. 17). Jika seseorang telah menjalani upacara sunat, otomatis
dia termasuk kewargaan Israel dan berhak atas setiap janji yang tersedia bagi
warga Israel.
Efesus 2:12 menjelaskan bahwa dahulu, sebelum anda dan saya
lahir baru, kita tidak tergolong “warga Israel”, sehingga kita tidak bisa
mendapatkan keuntungan-keuntungan yang dijanjikan dan dimiliki seorang
warganegara Israel. Jika seseorang belum lahir baru (=tanpa Kristus), ia tidak
akan mendapatkan bagian dalam perjanjian Tuhan serta ia tidak mempunyai
pengharapan karena hidup di dalam dunia ini tanpa Tuhan. Terjemahan dari King
James mengatakan bahwa tanpa Kristus, kita adalah orang asing dari perjanjian
itu.
Allah Bapa sangat mengasihi semua orang, tetapi Allah Bapa
tidak mempunyai perjanjian dengan semua orang. Saat ini saya minta anda untuk berani menilai diri anda sendiri.
Bertanyalah kepada diri anda, “Dimana posisi saya sekarang?
Apakah saya seorang asing dari perjanjian itu, ataukah saya seseorang
yang telah diangkat anak oleh Bapa dan masuk dalam perjanjian itu?”
Darah Yesus tersedia, tetapi banyak orang menolak mengambil
bagian dalamnya. Jika ada pasangan yang mau mengangkat anak untuk diadopsi
secara sah, pastinya pasangan itu telah membuat kriteria bagi anak yang akan diadopsi. Mereka akan melihat latar belakang anak tersebut, misalnya orang tuanya,
sakit-penyakitnya, pendidikan orang tua dan yang lainnya. Tetapi ada seorang
Bapa yang siap mengangkat anak, tanpa melihat bibit-bobot-bebet seseorang, tanpa
melihat masa lalu, bahkan begitu diangkat menjadi anak, masa lalu itu dihapus.
Kriteria yang diberikan oleh Bapa yang baik itu adalah orang tersebut hanya
perlu mengaku dan mengundang Yesus Kristus, anak yang dikasihiNya masuk kedalam
hati mereka, dan menjadikan Yesus Kristus itu Tuhan dan Juruselamat mereka,
hanya itu, semudah itu, saat itu juga seseorang langsung menjadi anak dari Bapa
dan mendapatkan hak dan warisan sebagai anak, bahkan sama seperti yang didapat
oleh anak sulungnya (Rm. 8:17).
Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu
menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak
Allah. Oleh Roh itu kita berseru:
“ya Abba, ya Bapa!” Roh itu
bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah
(Rm. 8:15-16).
Sikap dan tingkah laku seorang yatim piatu akan berbeda dari
seorang yang mempunyai orang tua. Seorang yatim piatu biasanya memiliki perasaan
rendah diri, ada perasaan takut, rasa tidak aman, serta perasaan
ketidakkepastian. Karena anda sekarang telah mempunyai Bapa, seharusnya anda
tidak mempunyai perasaan tersebut.
Seorang anak akan mengatakan kepada orang tuanya
apa yang dia butuhkan. Anak tidak perlu memikirkan apa yang yang harus
disediakan di rumah. Seorang anak tahu bahwa tugasnya adalah sekolah dan
belajar, sementara urusan pembayaran uang sekolah dan penyediaan sandang dan
pangan itu urusan orang tuanya, bukan? Apapun yang orang tuanya miliki, anak itu
tahu persis suatu hari kelak, semuanya itu akan menjadi miliknya. Apa yang
dibutuhkan setiap hari, uang jajan, uang transport semuanya harus tersedia. Jika
anak itu punya masalah di sekolah atau di masyarakat, dia tahu persis orang
tuanya akan membelanya. Jika anaknya berada dalam bahaya, orang tua selalu
membela dan berusaha menyelamatkan anaknya. Apa yang terjadi di natural, itu juga yang
terjadi di alam supranatural (spiritual). Anda tidak perlu takut menjalani kehidupan ini, karena Tuhan di
pihak anda, dan siapakah yang dapat melawan anda (Rm. 8:31). Jika anda ditindas,
ada Bapamu yang akan membalas, Sebab memang adil bagi Allah untuk membalaskan
penindasan kepada mereka yang menindas kamu (2 Tes. 1:6). Anda mendapatkan
penjagaan dan proteksi dua puluh empat jam setiap hari dari para pengawal, yaitu
malaikat.
Sekarang kita bukan lagi yatim piatu, bukan lagi hamba,
tetapi kita telah diadopsi dan masuk dalam keluarga Allah Bapa. Perspektif kita
sekarang sebagai seorang ahli waris. Ahli waris perlu mencari tahu apa yang
tersedia baginya di dalam surat wasiat. Surat wasiat itu adalah, Alkitab. Kitab yang sarat berisi janji-janji dari
Bapa kita. Kita perlu teliti isinya, kita tidak bisa bersikap masa bodoh, kalau
tidak kita akan mengalami kerugian. Jika kita tidak perduli akan isi dari surat
wasiat itu, kita akan binasa, secara rohani, finansial, fisik, dan di dalam semua aspek kehidupan (Hos. 4:6).
Kunci keberhasilan dalam menjalani hidup, pekerjaan,
usaha, keluarga, dan kesehatan terletak di dalam Alkitab. Alkitab adalah buku pedoman hidup, buku yang paling laris
terjual di dunia, tidak tertandingi. Iblis
begitu berusaha untuk menghalangi anak-anak Tuhan membaca buku itu, karena ia
tidak mau anak-anak Bapa mempunyai pengetahuan dan pengertian tentangnya. Oleh
karena jika anda mempunyai hikmat, umur panjang ada di tangan kanannya, di
tangan kirinya kekayaan dan kehormatan (Ams. 3:16).
Surat wasiat mengatakan supaya anda panjang umur dan juga
umur anak-anakmu, bahwa anda dapat menikmat surga di muka bumi ini (Ul.
11:21). Berarti kita bisa
menyimpulkan, tidak ada kemandulan untuk anak Tuhan. Dikatakan juga bahwa anda
dapat mendirikan rumah-rumah yang baik serta mendiaminya, ternak bertambah
banyak, emas serta perak bertambah banyak dan segala yang ada padamu bertambah
banyak (Ul. 8:12- 13). WOW, luar biasa!
Kita bisa menikmati hidup di muka bumi ini, dalam perjalanan kita ke surga. Kita tidak perlu stress, tidak usah kuatir, tidak takut, karena segala sesuatunya sudah tersedia. Kita hanya perlu datang dan mengambilnya. Anda dan saya yang perlu mengambilnya, tidak dapat diwakili oleh orang lain, dan itu juga tidak akan jatuh begitu saja dari langit. Kita sebagai anakNya yang harus mengambilnya.
Selama seorang ahli waris belum akil balig, sedikitpun ia
tidak berbeda dengan seorang hamba, sungguhpun ia adalah tuan dari segala
sesuatu; tetapi ia berada dibawa perwalian dan pengawasan sampai pada saat yang
telah ditentukan oleh bapanya (Gal. 4:1-2). Begitu seseorang tahu bahwa dia adalah ahli
waris, dan tersedia warisan yang tak terhingga, sukacita itu meluap-luap.
Hidupnya akan berubah 180 derajat, dari orang miskin menjadi orang
yang makmur. Keinginan kita adalah untuk menerima warisan itu sekarang juga agar
kita bisa berfoya-foya dan membalas dendam terhadap kemiskinan yang telah
sekian lama mencengkeram kita. Firman katakan di Amsal 1:32, terjemahan King
James, kekayaan di tangan orang bodoh akan menghancurkan mereka.
Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya jatuh.
Seorang tua tidak adakan memberikan kekayaan kepada anak yang belum cukup umur,
anak yang anda tahu belum dapat dipercaya untuk mengelola warisan tersebut. Anda
tidak akan mengijinkan anak yang belum cukup umur, yang belum mempunyai SIM
mengendarai kendaraan di jalan, bukan? Ingat, semua kebenaran itu paralel. Apa
yang terjadi di alam natural, itu juga yang terjadi di alam spiritual.
Bagian kita adalah menempatkan diri kita agar dapat menerima. Caranya adalah dengan menetap (tinggal tetap) di dalam firman. Membiarkan
Roh Kudus, yaitu Roh Kebenaran memimpin kita kedalam semua kebenaran; dan Roh
Kudus akan memberitakan kepada kita hal-hal yang akan datang (Yoh. 16: 13). Roh
Kudus yang adalah penghibur, Dia akan mengajarkan segala sesuatu kepada kita
dan akan mengingatkan kita akan semua yang telah dikatakan Yesus kepada kita
(Yoh. 14: 26). Melalui persektuan dengan Firman Tuhan dan Roh Kudus, kita akan tahu dan tahu dan tahu pasti, bahwa kita
sudah
dalam posisi menerima, dan kita akan menerima warisan itu sesuai dengan takaran
pengertian kita akan firman Tuhan.
Warisan anda telah mempunyai label dengan nama anda, itu
tidak akan lari kemana-mana. Kunci
untuk anda adalah: perolehlah hikmat, dan perolehlah pengertian (Ams.
4:7).
Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah
datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah
(Gal. 6:9). Jelas dan gamblang firman berkata, jangan bosan-bosan berbuat
baik. Hukum tabur dan tuai tidak akan pernah berhenti selama bumi masih ada
(Kej. 8:22). Manusia rohani kita lahir dari benih ilahi, sehingga karakter ilahi
telah ada di dalam manusia rohani kita. Karakter ilahi, yaitu, kasih, sukacita,
damai sejahtera, ketekunan, kemurahan, kebaikan, iman, kelemah-lembutan,
penguasaan diri adalah harta karun yang ada di manusia rohani kita. Anda dan
saya dapat terus melakukan pekerjaan baik, dapat menyampaikan kabar baik, dapat
bertekun dalam penantian. Mata akan
terfokus hanya pada Yesus dan janji-janjiNya. Kita harus melatih diri kita untuk
berjalan dengan iman, sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya,
bukan karena melihat (2 Kor. 5:7).
Selanjutnya kita mengerjakan yang dinasihatkan Rasul Paulus
kepada gereja di Roma, kepada jemaat yang telah lahir baru, jemaat yang telah
dipenuhi Roh Kudus. Nasihatnya, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai
persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah
ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi
berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna
(Rm. 12:1-2).
Di dalam waktu penantian akan warisan, tidak ada “karpet
merah” terhampar di depan anda. Musuh kita, iblis, tidak akan membiarkan kita
sendiri. Ingat tugas iblis yang datang hanya untuk mencuri dan membunuh
dan membinasakan. Itu adalah deskripsi pekerjaan iblis. Terjemahan dari King
James, mengatakan bahwa iblis itu akan datang terus menerus, bukan
sekali-sekali melainkan terus-terusan. Oleh sebab itu anda perlu tahu siapa anda
di dalamYesus, sehingga anda tidak bisa ditipu olehnya. Allah Bapa kita sungguh
baik dan sangat baik. Ia memperlengkapi kita dengan senjataNya. Jangan anggap
remeh, anda dan saya diperlengkapi dengan senjata Tuhan sendiri. Jika kita
menggunakan senjata itu, kita tidak bisa dikalahkan.
Hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan
kuasa-Nya (Efesus
6:10). Perintah yang sama juga diberikan pada Yosua berulang-ulang, Kuatkan
dan teguhkanlah hatimu. Ini adalah perintah, dan harus dilaksanakan. Tidak
ada satu perintahpun yang tidak dapat dilakukan. Firman, adalah senjata Tuhan.
Jika anda mempunyai senjata Tuhan, iblis boleh berusaha untuk menipu,
melemparkan panah-panah apinya, tetapi tidak akan berhasil. Dan firman itu juga
yang akan membuat jiwa anda makmur.
Hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu
menjauh dari matamu, peliharalah itu, maka itu akan menjadi kehidupan bagi
jiwamu, dan perhiasan bagi lehermu, maka engkau akan berjalan di jalanmu
dengan aman, dan kakimu tidak akan terantuk (Ams. 3:21-23).
Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan
tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan injil yang telah
kamu dengar (Kolose
1:23). Di masa penantian kita harus bertumbuh menjadi dewasa di dalam rohani.
Hal ini yang seringkali tidak mau dikerjakan oleh orang yang mengaku sebagai
orang Kristen. Banyak orang Kristen
senangnya minum susu terus. Begitu pergi ke satu tempat yang menyediakan
makanan keras, semuanya dimuntahkan, dan dikatakan sesat karena tidak sesuai
dengan ajaran gereja atau denominasi mereka. Yesus berkata kepada ahli-ahli
agama, firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu
ikuti itu (Markus 7:13). Seringkali, firman Tuhan tidak bisa bekerja dalam
kehidupan kita karena kita lebih memegang tradisi, adat istiadat, dan ajaran
gereja kita dari pada firman Tuhan.
Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah
seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok
dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras.
Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang
kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. Tetapi makanan keras adalah untuk
orang-orang dewasa, yang karena panca indera yang terlatih untuk membedakan
yang baik dan yang jahat (Ibr. 5:12-14).
Tidak ada bayi yang dapat bertanding dan bertekun dalam iman.
Hanya orang dewasa yang dapat ikut dalam pertandingan iman. Kedewasaan rohani tidak
ditentukan dari umur maupun banyaknya aktifitas anda di gereja. Pekerjaan itu
semuanya baik, tetapi tidak menjamin anda bertumbuh dewasa dalam perkara rohani,
bahkan tidak menjamin anda mengenal Tuhan yang anda layani!
Jadilah dewasa! Bangkit dan menjadi teranglah sehingga anda dapat menganggap sebagai suatu kebahagiaan (sukacita), apabila kamu
jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap
imanmu itu menghasilkan ketekunan.Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah
yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh, dan tak kekurangan suatu
apapun (Yakobus 1:2-4).
Yesuslah yang memimpin kita dari iman ke iman. Kalau Tuhan yang memulai segala sesuatu, Ia juga yang akan mengakhirinya. Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengeliling kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah (Ibr. 12:1-2).