Menghadiri KKR, kebaktian
kesembuhan ilahi, seminar rohani atau pun kegiatan rohani lainnya sedang mode di
kalangan orang Kristen. Hampir
tidak ada kebaktian yang sepi. Itu
adalah sebuah kenyataan yang sangat menggembirakan.
Akan tetapi cukupkah kehidupan rohani kita berhenti sampai dengan menjadi
pengunjung kebaktian yang setia?
Roma 1:16-17 berkata, Sebab
aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil
adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan
setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga
orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman
dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh
iman.”
Kalau ayat di atas adalah
kebenaran, mengapa masih banyak orang Kristen yang rajin pergi ke KKR, seminar
rohani serta kebaktian-kebaktian Persekutuan Doa maupun persekutuan keluarga
tidak hidup dalam kemenangan? Mengapa mereka yang sudah mendengar firman diberitakan dan
diajarkan kok masih menganggur, miskin, sakit-sakitan, terbelit—atau bahkan
terbenam dalam—hutang?
Kalau Injil—firman
Tuhan—adalah kekuatan Tuhan yang dapat menyelamatkan saya (menyembuhkan,
memberikan pekerjaan dan promosi, mendatangkan order pesanan, dll) jika saya
percaya, apakah kalau saya tidak menerima dari Tuhan berarti saya tidak percaya?
Kalau saya mengacu kepada firman Tuhan di Roma 1:16-17 saya harus berani
berkata, “Ya, aku tidak percaya dan itu sebabnya aku tidak menerima.”
Banyak orang Kristen akan
adu urat —alias adu argumentasi—jika dikatakan tidak percaya.
Semua orang Kristen akan mengaku “percaya” kepada Tuhan.
Bahkan untuk meyakinkan orang lain (atau bahkan menyakinkan Tuhan dan
dirinya sendiri) bahwa ia percaya, seringkali ia akan berulang kali berkata,
“Iya, aku percaya.” Perkataan
ini seringkali terdengar dalam doa bahkan dalam percakapan di antara orang
Kristen.
Tahukah anda bahwa
pengulangan perkataan “Aku percaya” tidak akan membuat anda menerima dari
Tuhan? Sudah berapa lama anda
mengulang kalimat itu dan tetap tidak keluar dari masalah anda?
Dan lucunya, kalau kita
tidak menerima, kita cenderung “menyalahkan” Tuhan.
Tentu saja kita tidak melakukan itu secara terang-terangan, akan tetapi
intinya tetap saja kita menyalahkan Dia atas kegagalan kita untuk menerima dari
firmanNya. Banyak orang akan
berdalih mengenai ketidakmampuannya dalam menerima dengan iman.
Dalih yang mungkin paling populer adalah “Yah, mungkin belum
waktunya.” Dulu saya juga
memaklumi dalih itu karena terdengar rohani.
Lagi pula kan ada ayatnya di Pengkhotbah mengenai “segala sesuatu ada
waktunya.”
Memang untuk segala
sesuatu ada waktunya. Akan tetapi
siapakah yang menentukan kapan seorang sakit disembuhkan?
Siapa yang menentukan kapan seorang yang terbelit hutang dapat membayar
lunas hutangnya? Siapa yang
menentukan seseorang yang menganggur akan mendapat pekerjaan yang baik?
Apakah Tuhan yang menentukan waktunya?
Sekarang kita lihat perjalanan orang Israel keluar dari Mesir menuju ke
tanah Kanaan.
Pada tahun yang kedua,
pada bulan yang kedua, pada tanggal dua puluh bulan itu, naiklah awan itu dari
atas Kemah Suci, tempat hukum Allah... Itulah pertama kali mereka berangkat
menurut titah Tuhan dengan perantaraan Musa (Bilangan 10:11,13).
Saat itu sesungguhnya Tuhan sedang mempersiapkan mereka untuk berjalan
memasuki tanah Kanaan.
Kemudian setelah itu
Tuhan menyuruh Musa mengirim dua belas pengintai dari kedua belas suku.
Setelah lewat 40 hari mereka kembali dengan membawa hasil tanah Kanaan
serta laporan mereka tentang tanah itu.
Sepuluh pengintai
berkata, “Kami sudah masuk ke negeri, ke mana kausuruh kami, dan memang
negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya, dan inilah hasilnya. Hanya, bangsa
yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar,
juga keturunan Enak telah kami lihat di sana. Orang Amalek diam di Tanah Negeb,
orang Het, orang Yebus dan orang Amori diam di pegunungan, orang Kanaan diam
sepanjang laut dan sepanjang tepi sungai Yordan.” (Bilangan 13:27-29).
Mata mereka terfokus pada kekuatan musuh.
Kemudian Kaleb mencoba
menenteramkan hati bangsa itu di hadapan Musa, katanya: “Tidak! Kita akan maju
dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya.” (ayat 30).
Selanjutnya kita tahu
bahwa generasi Musa harus berkeliling selama 40 tahun di padang gurun dan
dibiarkan mati oleh Tuhan. Ketidakpercayaan mereka membuat mereka tidak dapat
memasuki tanah perjanjian. Kalau saja saat itu mereka mendengarkan perkataaan
Kaleb dan Yosua maka waktu itu juga mereka dapat masuk ke tanah itu dan
mendudukinya seperti rencana Tuhan bagi bangsa itu.
Sayang sekali! Janji yang
baik itu sudah sempat mereka kecap tetapi mereka tidak berani bertindak atas
firman Tuhan. Padahal sejak mereka
dibawa Tuhan keluar dari Mesir, Tuhan berulangkali mengingatkan mereka akan
janjiNya untuk memberikan tanah itu ke dalam tangan mereka seperti yang
dijanjikanNya kepada nenek moyang mereka. Bukan
cuma itu saja, bahkan bangsa-bangsa yang menduduki tanah itu telah diserahkanNya
kepada mereka. Itu berarti kalau
bangsa Israel maju berperang, kemenangan adalah sesuatu yang pasti diperoleh!
Dan hal ini terbukti dalam jaman kepemimpinan Yosua.
Sekarang kita lihat
contoh lain dari Perjanjian Baru, perempuan dengan pendarahan selama duabelas
tahun (Markus 5:25-34). Dia
mendengar berita-berita baik mengenai Yesus sehingga iman timbul.
Lalu dengan roh iman dia berkata-kata, “Asal kujamah saja jubahNya
aku akan sembuh.” Lalu
terjadilah seperti apa yang ia katakan. Kapan
kesembuhannya termanifestasi? Seketika
itu juga saat ia menjamah jubah Yesus. Perhatikan perkataan Yesus kepadanya, Hai
anakKu, imanmu telah menyelamatkan engkau... Yesus tidak berkata “UrapanKu
yang menyelamatkanmu” atau “Bapa-Ku di sorga yang menyelamatkanmu.”
Yairus (Markus 5:21-24, 35-43) datang kepada Yesus dengan iman memperkatakan apa yang ia kehendaki Yesus kerjakan baginya. Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tanganMu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup. Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Ketika berita buruk mengenai kematian anaknya, Yesus berpaling kepada Yairus dan berkata, Jangan takut, percaya saja! Percaya saja mengenai apa? Yesus bahkan tidak berkata apa-apa kepada Yairus sebelumnya. Satu-satunya perkataan yang dapat Yairus pegang adalah perkataan imannya sendiri—“Yesus datang dan meletakkan tanganNya kepada anakku, maka ia akan selamat dan tetap hidup.” Kepada perkataan inilah Yesus mau Yairus tetap percaya, yaitu “anaknya akan selamat dan hidup kalau Yesus meletakkan tanganNya atasnya.”
Masih banyak lagi contoh
mengenai kuasa dari iman kita yang terungkap dari perkataan kita.
Jika kita mempelajari semua perkara-perkara ilahi yang tercatat di
Alkitab, kita akan mengerti bahwa semua mujizat terjadi karena mereka
sungguh-sungguh percaya kepada firman Tuhan.
Bagaimana membedakan
orang percaya sungguh-sungguh dari orang yang tidak sungguh-sungguh percaya?
Yang pertama akan menerima janji Tuhan sedangkan yang kedua tidak akan
menerima janjiNya. Cara lain adalah
dengan mendengarkan perkataan mereka. Namun
karena kami memiiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: “Aku percaya,
sebab itu aku berkata-kata”, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga
berkata-kata (2 Korintus 4:13).
Jadi apa pekerjaan orang
percaya? Ya tentu saja percaya!
Percaya kepada apa? Percaya
kepada firman Tuhan. Percaya—atau
iman—hanya timbul dari pendengaran akan firman Tuhan (Roma 10:17).
Dan jika hati kita sudah penuh dengan iman maka apa yang kita percaya
Tuhan akan kerjakan dalam kehidupan kita akan tercetus dalam perkataan kita,
seperti halnya dengan Kaleb, perempuan pendarahan, dan Yairus.
Orang yang hatinya penuh percaya tidak akan hanya sekedar berkata “Aku
percaya” dan mengulang perkataan itu seperti halnya kaset rusak atau burung
kakaktua.
Sebab aku mempunyai
keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang
menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi,
tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak
dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan
hidup oleh iman.” (Roma 1:16-17).
Renungkan firman ini
baik-baik! Firman Tuhan adalah
kekuatan Tuhan. Dua Korintus 10:4
berkata, ...karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi,
melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah...
Senjata peperangan rohani kita adalah firman Tuhan.
Sewaktu kita mendengarkan
firman Tuhan, kita sedang diberikan senjata rohani yang dipenuhi oleh kuasa
kekuatan Tuhan. Bagaimana caranya
kita memanfaatkan sebuah senjata untuk melindungi kita?
Kita akan menggunakannya jika kita berada dalam keadaan berbahaya atau
diserang musuh. Bagaimana caranya? Senjata
itu akan kita arahkan kepada si musuh. Jika
ia menyerang maka kita pasti akan menggunakannya untuk menahan serangannya
bahkan jika perlu menembak atau menusuknya.
Jadi firman Tuhan yang
kita dengar dan kita mengerti adalah sebuah senjata ampuh yang harus kita
pergunakan jika diserang musuh. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya
kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis ... Sebab itu ambillah seluruh
perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari
yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu
(Efesus 6:11,13).
Tuhan menyediakan seluruh
perlengkapan senjataNya, yaitu Injil Sepenuhnya, dan kita yang harus
mengenakannya, bukan Dia. Kita juga
yang harus menggunakannya agar kita dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis,
bukan Tuhan.
Menurut anda, apakah
senjata perlengkapan Tuhan itu cukup mampu melawan dan melumpuhkan kekuatan
Iblis? Tentu saja! Kalau kita
menggunakan senjataNya (firmanNya) untuk melawan Iblis bukankah berarti Tuhan
ada di pihak kita?
Jika Allah di pihak
kita, siapakah yang akan melawan kita?
(Roma 8:31).
Setiap senjata yang
ditempa terhadap engkau tidak akan berhasil, dan setiap orang yang melontarkan
tuduhan melawan engkau dalam pengadilan, akan engkau buktikan salah. Inilah yang
menjadi bagian hamba-hamba TUHAN dan kebenaran yang mereka terima dari pada-Ku,
demikianlah firman TUHAN.(Yesaya
54:17).
Karena itu tunduklah
kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu! (Yakobus
4:7).
Anda lihat itu? Tidak
mungkin kita tidak menang terhadap Iblis jika kita melawan dia dengan firman
Tuhan. “Lalu mengapa aku sepertinya kok tertindas oleh Iblis?”
Karena anda tidak percaya bahwa firman Tuhan berkuasa untuk melawan
Iblis. Oleh sebab itu anda tidak menggunakan firman yang anda tahu untuk melawan
Iblis.
“Tapi aku percaya Tuhan
dahsyat! Aku juga percaya Tuhan itu
Penyembuh!” Saya tidak meragukan hal itu.
Akan tetapi keyakinan atau rasa percaya semacam itu tidak akan membuat
kita menang melawan Iblis. Kenapa
saya berani berkata seperti itu? Lihat
sekeliling anda. Berapa banyak
orang yang percaya hal yang sama tetapi hidup miskin, tertekan, terbelit hutang,
atau berpenyakitan dan tidak sembuh-sembuh?
Berapa lama anda telah percaya dan bahkan memperkatakan “Tuhan dahsyat.
Tuhan baik,” tetapi masalah yang sama terus menerus menghantui anda?
Anda tahu sebabnya?
Karena yang anda perkatakan itu bukanlah firman Tuhan yang tepat untuk
melawan Iblis dalam masalah hidup anda. Kok
saya berani bicara seperti itu? Buktinya
anda tidak terbebas dari masalah anda. Firman
Tuhan adalah kekuatanNya yang dapat menyelamatkan setiap orang yang percaya.
Contohnya, Mazmur 23:1
(baca dan renungkan) adalah firman yang dipenuhi dengan kuasa Tuhan untuk
membuat kita makmur dan tidak berkekurangan.
Kalau kita percaya firman itu dengan hati dan mengaku dengan mulut kita
maka kita pasti tidak akan kekurangan suatu apapun (Roma 10:9-11).
Jika kita pembayar
perpuluhan dan penabur yang setia, maka sesuai dengan janji Tuhan di Maleakhi
3:10-12, tidak mungkin kita kekurangan hikmat atau ide serta tidak mungkin kita
tidak menuai apa yang kita tabur karena belalang pelahap sudah dihardik oleh
Tuhan. Jika kita percaya di dalam hati dan mengakui firman ini dengan mulut kita
maka kita akan selamat.
Iman timbul dari
pendengaran akan firman Tuhan. Setelah anda lahir baru, anda harus pergi ke
tempat persekutuan dimana Injil sepenuhnya diajarkan.
Kalau anda tidak tahu dimana, minta Roh Kudus untuk memimpin langkah anda
ke tempat dimana roh ciptaan baru anda bisa memperoleh makanan yang baik agar
pertumbuhan manusia roh anda tidak terbelakang.
Lalu apa yang harus kita
lakukan setelah kita mendapatkan pengajaran firman yang dahsyat?
Percaya saja dengan hati dan jangan pakai pikiran anda untuk mengulas
firman Tuhan. Tuhan tidak pernah
memerintahkan anda untuk memikirkan firman Tuhan.
Dia hanya meminta kita untuk datang kepadaNya, dengarkan firmanNya, dan
lakukan. Kalau tidak mengerti tanya
saja kepada Dia dan nantikan jawabanNya.
Tuhan kita tidak jauh
tinggalnya. Dia menyebut tubuh kita
Bait Allah, yang artinya tempat tinggal Allah.
Kalau Dia menyebut kita sebagai tempat tinggalNya berarti Roh Allah
tinggal bersama-sama kita. Kalau kita bertanya kepada seseorang yang tinggal
serumah dengan kita, kira-kira berapa lama kita harus menantikan jawaban
darinya? Pasti kita akan
mendapatkan jawabannya segera kan? “Lalu
mengapa kok saya sampai harus puasa untuk bisa mendengar suara Tuhan?”
Itu seringkali karena kita sibuk dengan pikiran sendiri, makanya suara
Tuhan tidak terdengar.
Setelah mendengarkan
firman dan mempercayai firman itu sebagai kebenaran maka saya pasti akan terus
menerus merenungkan firman itu. Merenungkan sesungguhnya berarti mengulang
dengan mulut kita firman itu serta membayangkan diri kita hidup dalam firman
itu.
Jadi kalau saya mendengar
firman Mazmur 23:1 dan percaya bahwa hal itu adalah kebenaran, maka saya akan
terus menerus memperkatakan bahwa “Aku takkan kekurangan suatu apapun karena
Tuhan adalah Gembalaku yang baik.” Lalu
saya akan membayang-bayangkan diri saya hidup tanpa kekurangan.
Tidak kekurangan uang untuk bayar listrik dan telepon. Tidak kekurangan benih uang untuk ditabur ke dalam pelayanan
Injil. Tidak kekurangan kesehatan. Tidak kekurangan teman.
Selalu bisa bayar cicilan hutang dan jika hutang itu sudah lunas maka
saya tidak akan pernah kekurangan uang untuk beli apapun secara tunai. Tidak
kekurangan ide. Wah enaknya hidup tanpa kekurangan apapun karena Tuhan adalah
Gembalaku yang baik!
Hasil dari merenungkan
firman ini terus menerus akan membuat manusia roh saya bertumbuh dan jika hati
saya sudah penuh dengan firman ini maka iman saya terhadap firman itu akan
meluap keluar dari mulut saya dalam bentuk perkataan (Matius 12:34-37).
Dan jikalau perkataan firman keluar dari mulut saya dengan iman, maka
perkataan saya itu berisi segala kuasa kekuatan Tuhan untuk mewujudkannya di
alam nyata. Kalau saya berpegang
teguh terhadap iman saya itu maka saya sungguh tidak akan pernah kekurangan
suatu apapun juga.
Ingat bahwa Kaleb, Yairus
dan perempuan pendarahan di awal artikel ini menerima mujizat mereka sesuai
dengan perkataan mereka. Tanpa perkataan iman anda kuasa Tuhan tidak akan
terwujud dalam kehidupan anda.
Yesus pun harus berkata
kepada pohon ara baru pohon itu mati. Kalau
Yesus cuma sekedar cemberut saja pasti pohon ara itu tidak akan mati.
Allah Bapa pun harus berfirman baru Roh Allah dapat bekerja untuk
memisahkan gelap dari terang.
Allah Bapa berfirman bahwa Ia siap sedia melakukan firmanNya (Yeremia 1:12). MalaikatNya pun siap sedia melaksanakan firmanNya yang disuarakan (Mazmur 103:20). Apalagi yang anda tunggu? Segera taburkan benih perkataan iman anda, maka iman anda itu pasti akan menghasilkan bagimu (Matius 17: 20; Markus 11:23, Lukas 17:5).