Satu Kata Dari Tuhan Dapat Mengubah Hidupmu

Oleh Maggy Horhoruw

Menghadiri KKR, kebaktian kesembuhan ilahi, seminar rohani atau pun kegiatan rohani lainnya sedang mode di kalangan orang Kristen.  Hampir tidak ada kebaktian yang sepi.  Itu adalah sebuah kenyataan yang sangat menggembirakan.  Akan tetapi cukupkah kehidupan rohani kita berhenti sampai dengan menjadi pengunjung kebaktian yang setia?

Roma 1:16-17 berkata, Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.”

Kalau ayat di atas adalah kebenaran, mengapa masih banyak orang Kristen yang rajin pergi ke KKR, seminar rohani serta kebaktian-kebaktian Persekutuan Doa maupun persekutuan keluarga tidak hidup dalam kemenangan?  Mengapa mereka yang sudah mendengar firman diberitakan dan diajarkan kok masih menganggur, miskin, sakit-sakitan, terbelit—atau bahkan terbenam dalam—hutang?

Kalau Injil—firman Tuhan—adalah kekuatan Tuhan yang dapat menyelamatkan saya (menyembuhkan, memberikan pekerjaan dan promosi, mendatangkan order pesanan, dll) jika saya percaya, apakah kalau saya tidak menerima dari Tuhan berarti saya tidak percaya?  Kalau saya mengacu kepada firman Tuhan di Roma 1:16-17 saya harus berani berkata, “Ya, aku tidak percaya dan itu sebabnya aku tidak menerima.”

Pekerjaan Orang Percaya

Banyak orang Kristen akan adu urat —alias adu argumentasi—jika dikatakan tidak percaya.  Semua orang Kristen akan mengaku “percaya” kepada Tuhan.  Bahkan untuk meyakinkan orang lain (atau bahkan menyakinkan Tuhan dan dirinya sendiri) bahwa ia percaya, seringkali ia akan berulang kali berkata, “Iya, aku percaya.”  Perkataan ini seringkali terdengar dalam doa bahkan dalam percakapan di antara orang Kristen.

Tahukah anda bahwa pengulangan perkataan “Aku percaya” tidak akan membuat anda menerima dari Tuhan?  Sudah berapa lama anda mengulang kalimat itu dan tetap tidak keluar dari masalah anda?

Dan lucunya, kalau kita tidak menerima, kita cenderung “menyalahkan” Tuhan.  Tentu saja kita tidak melakukan itu secara terang-terangan, akan tetapi intinya tetap saja kita menyalahkan Dia atas kegagalan kita untuk menerima dari firmanNya.  Banyak orang akan berdalih mengenai ketidakmampuannya dalam menerima dengan iman.  Dalih yang mungkin paling populer adalah “Yah, mungkin belum waktunya.”  Dulu saya juga memaklumi dalih itu karena terdengar rohani.  Lagi pula kan ada ayatnya di Pengkhotbah mengenai “segala sesuatu ada waktunya.”

Memang untuk segala sesuatu ada waktunya.  Akan tetapi siapakah yang menentukan kapan seorang sakit disembuhkan?  Siapa yang menentukan kapan seorang yang terbelit hutang dapat membayar lunas hutangnya?  Siapa yang menentukan seseorang yang menganggur akan mendapat pekerjaan yang baik?  Apakah Tuhan yang menentukan waktunya?  Sekarang kita lihat perjalanan orang Israel keluar dari Mesir menuju ke tanah Kanaan.

Pada tahun yang kedua, pada bulan yang kedua, pada tanggal dua puluh bulan itu, naiklah awan itu dari atas Kemah Suci, tempat hukum Allah... Itulah pertama kali mereka berangkat menurut titah Tuhan dengan perantaraan Musa (Bilangan 10:11,13).  Saat itu sesungguhnya Tuhan sedang mempersiapkan mereka untuk berjalan memasuki tanah Kanaan.

Kemudian setelah itu Tuhan menyuruh Musa mengirim dua belas pengintai dari kedua belas suku.  Setelah lewat 40 hari mereka kembali dengan membawa hasil tanah Kanaan serta laporan mereka tentang tanah itu.

Sepuluh pengintai berkata, “Kami sudah masuk ke negeri, ke mana kausuruh kami, dan memang negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya, dan inilah hasilnya. Hanya, bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar, juga keturunan Enak telah kami lihat di sana. Orang Amalek diam di Tanah Negeb, orang Het, orang Yebus dan orang Amori diam di pegunungan, orang Kanaan diam sepanjang laut dan sepanjang tepi sungai Yordan.” (Bilangan 13:27-29).  Mata mereka terfokus pada kekuatan musuh.

Kemudian Kaleb mencoba menenteramkan hati bangsa itu di hadapan Musa, katanya: “Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya.” (ayat 30).

Selanjutnya kita tahu bahwa generasi Musa harus berkeliling selama 40 tahun di padang gurun dan dibiarkan mati oleh Tuhan. Ketidakpercayaan mereka membuat mereka tidak dapat memasuki tanah perjanjian. Kalau saja saat itu mereka mendengarkan perkataaan Kaleb dan Yosua maka waktu itu juga mereka dapat masuk ke tanah itu dan mendudukinya seperti rencana Tuhan bagi bangsa itu.

Sayang sekali! Janji yang baik itu sudah sempat mereka kecap tetapi mereka tidak berani bertindak atas firman Tuhan.  Padahal sejak mereka dibawa Tuhan keluar dari Mesir, Tuhan berulangkali mengingatkan mereka akan janjiNya untuk memberikan tanah itu ke dalam tangan mereka seperti yang dijanjikanNya kepada nenek moyang mereka.  Bukan cuma itu saja, bahkan bangsa-bangsa yang menduduki tanah itu telah diserahkanNya kepada mereka.  Itu berarti kalau bangsa Israel maju berperang, kemenangan adalah sesuatu yang pasti diperoleh!  Dan hal ini terbukti dalam jaman kepemimpinan Yosua.

Sekarang kita lihat contoh lain dari Perjanjian Baru, perempuan dengan pendarahan selama duabelas tahun (Markus 5:25-34).  Dia mendengar berita-berita baik mengenai Yesus sehingga iman timbul.  Lalu dengan roh iman dia berkata-kata, “Asal kujamah saja jubahNya aku akan sembuh.”  Lalu terjadilah seperti apa yang ia katakan.  Kapan kesembuhannya termanifestasi?  Seketika itu juga saat ia menjamah jubah Yesus. Perhatikan perkataan Yesus kepadanya, Hai anakKu, imanmu telah menyelamatkan engkau... Yesus tidak berkata “UrapanKu yang menyelamatkanmu” atau “Bapa-Ku di sorga yang menyelamatkanmu.”

Yairus (Markus 5:21-24, 35-43) datang kepada Yesus dengan iman memperkatakan apa yang ia kehendaki Yesus kerjakan baginya.  Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tanganMu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup. Lalu pergilah Yesus dengan orang itu.  Ketika berita buruk mengenai kematian anaknya, Yesus berpaling kepada Yairus dan berkata, Jangan takut, percaya saja!  Percaya saja mengenai apa?  Yesus bahkan tidak berkata apa-apa kepada Yairus sebelumnya.  Satu-satunya perkataan yang dapat Yairus pegang adalah perkataan imannya sendiri—“Yesus datang dan meletakkan tanganNya kepada anakku, maka ia akan selamat dan tetap hidup.”  Kepada perkataan inilah Yesus mau Yairus tetap percaya, yaitu “anaknya akan selamat dan hidup kalau Yesus meletakkan tanganNya atasnya.”

Masih banyak lagi contoh mengenai kuasa dari iman kita yang terungkap dari perkataan kita.  Jika kita mempelajari semua perkara-perkara ilahi yang tercatat di Alkitab, kita akan mengerti bahwa semua mujizat terjadi karena mereka sungguh-sungguh percaya kepada firman Tuhan.

Bagaimana membedakan orang percaya sungguh-sungguh dari orang yang tidak sungguh-sungguh percaya?  Yang pertama akan menerima janji Tuhan sedangkan yang kedua tidak akan menerima janjiNya.  Cara lain adalah dengan mendengarkan perkataan mereka.  Namun karena kami memiiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: “Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata”, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata (2 Korintus 4:13).

Jadi apa pekerjaan orang percaya?  Ya tentu saja percaya!  Percaya kepada apa?  Percaya kepada firman Tuhan.  Percaya—atau iman—hanya timbul dari pendengaran akan firman Tuhan (Roma 10:17).  Dan jika hati kita sudah penuh dengan iman maka apa yang kita percaya Tuhan akan kerjakan dalam kehidupan kita akan tercetus dalam perkataan kita, seperti halnya dengan Kaleb, perempuan pendarahan, dan Yairus.  Orang yang hatinya penuh percaya tidak akan hanya sekedar berkata “Aku percaya” dan mengulang perkataan itu seperti halnya kaset rusak atau burung kakaktua.

Kekuatan Tuhan

Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.” (Roma 1:16-17).

Renungkan firman ini baik-baik!  Firman Tuhan adalah kekuatan Tuhan.  Dua Korintus 10:4 berkata, ...karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah...  Senjata peperangan rohani kita adalah firman Tuhan.

Sewaktu kita mendengarkan firman Tuhan, kita sedang diberikan senjata rohani yang dipenuhi oleh kuasa kekuatan Tuhan.  Bagaimana caranya kita memanfaatkan sebuah senjata untuk melindungi kita?  Kita akan menggunakannya jika kita berada dalam keadaan berbahaya atau diserang musuh. Bagaimana caranya?  Senjata itu akan kita arahkan kepada si musuh.  Jika ia menyerang maka kita pasti akan menggunakannya untuk menahan serangannya bahkan jika perlu menembak atau menusuknya.

Jadi firman Tuhan yang kita dengar dan kita mengerti adalah sebuah senjata ampuh yang harus kita pergunakan jika diserang musuh.  Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis ... Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu (Efesus 6:11,13).

Tuhan menyediakan seluruh perlengkapan senjataNya, yaitu Injil Sepenuhnya, dan kita yang harus mengenakannya, bukan Dia.  Kita juga yang harus menggunakannya agar kita dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis, bukan Tuhan.

Menurut anda, apakah senjata perlengkapan Tuhan itu cukup mampu melawan dan melumpuhkan kekuatan Iblis? Tentu saja!  Kalau kita menggunakan senjataNya (firmanNya) untuk melawan Iblis bukankah berarti Tuhan ada di pihak kita?

Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? (Roma 8:31).

Setiap senjata yang ditempa terhadap engkau tidak akan berhasil, dan setiap orang yang melontarkan tuduhan melawan engkau dalam pengadilan, akan engkau buktikan salah. Inilah yang menjadi bagian hamba-hamba TUHAN dan kebenaran yang mereka terima dari pada-Ku, demikianlah firman TUHAN.(Yesaya 54:17).

Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu! (Yakobus 4:7).

Anda lihat itu? Tidak mungkin kita tidak menang terhadap Iblis jika kita melawan dia dengan firman Tuhan. “Lalu mengapa aku sepertinya kok tertindas oleh Iblis?”  Karena anda tidak percaya bahwa firman Tuhan berkuasa untuk melawan Iblis. Oleh sebab itu anda tidak menggunakan firman yang anda tahu untuk melawan Iblis.

“Tapi aku percaya Tuhan dahsyat!  Aku juga percaya Tuhan itu Penyembuh!” Saya tidak meragukan hal itu.  Akan tetapi keyakinan atau rasa percaya semacam itu tidak akan membuat kita menang melawan Iblis.  Kenapa saya berani berkata seperti itu?  Lihat sekeliling anda.  Berapa banyak orang yang percaya hal yang sama tetapi hidup miskin, tertekan, terbelit hutang, atau berpenyakitan dan tidak sembuh-sembuh?  Berapa lama anda telah percaya dan bahkan memperkatakan “Tuhan dahsyat. Tuhan baik,” tetapi masalah yang sama terus menerus menghantui anda?

Anda tahu sebabnya?  Karena yang anda perkatakan itu bukanlah firman Tuhan yang tepat untuk melawan Iblis dalam masalah hidup anda.  Kok saya berani bicara seperti itu?  Buktinya anda tidak terbebas dari masalah anda.  Firman Tuhan adalah kekuatanNya yang dapat menyelamatkan setiap orang yang percaya.

Contohnya, Mazmur 23:1 (baca dan renungkan) adalah firman yang dipenuhi dengan kuasa Tuhan untuk membuat kita makmur dan tidak berkekurangan.  Kalau kita percaya firman itu dengan hati dan mengaku dengan mulut kita maka kita pasti tidak akan kekurangan suatu apapun (Roma 10:9-11).

Jika kita pembayar perpuluhan dan penabur yang setia, maka sesuai dengan janji Tuhan di Maleakhi 3:10-12, tidak mungkin kita kekurangan hikmat atau ide serta tidak mungkin kita tidak menuai apa yang kita tabur karena belalang pelahap sudah dihardik oleh Tuhan. Jika kita percaya di dalam hati dan mengakui firman ini dengan mulut kita maka kita akan selamat.

Perkataan Adalah Benih Iman

Iman timbul dari pendengaran akan firman Tuhan. Setelah anda lahir baru, anda harus pergi ke tempat persekutuan dimana Injil sepenuhnya diajarkan.  Kalau anda tidak tahu dimana, minta Roh Kudus untuk memimpin langkah anda ke tempat dimana roh ciptaan baru anda bisa memperoleh makanan yang baik agar pertumbuhan manusia roh anda tidak terbelakang.

Lalu apa yang harus kita lakukan setelah kita mendapatkan pengajaran firman yang dahsyat?  Percaya saja dengan hati dan jangan pakai pikiran anda untuk mengulas firman Tuhan.  Tuhan tidak pernah memerintahkan anda untuk memikirkan firman Tuhan.  Dia hanya meminta kita untuk datang kepadaNya, dengarkan firmanNya, dan lakukan.  Kalau tidak mengerti tanya saja kepada Dia dan nantikan jawabanNya.

Tuhan kita tidak jauh tinggalnya.  Dia menyebut tubuh kita Bait Allah, yang artinya tempat tinggal Allah.  Kalau Dia menyebut kita sebagai tempat tinggalNya berarti Roh Allah tinggal bersama-sama kita. Kalau kita bertanya kepada seseorang yang tinggal serumah dengan kita, kira-kira berapa lama kita harus menantikan jawaban darinya?  Pasti kita akan mendapatkan jawabannya segera kan?  “Lalu mengapa kok saya sampai harus puasa untuk bisa mendengar suara Tuhan?”  Itu seringkali karena kita sibuk dengan pikiran sendiri, makanya suara Tuhan tidak terdengar.

Setelah mendengarkan firman dan mempercayai firman itu sebagai kebenaran maka saya pasti akan terus menerus merenungkan firman itu. Merenungkan sesungguhnya berarti mengulang dengan mulut kita firman itu serta membayangkan diri kita hidup dalam firman itu.

Jadi kalau saya mendengar firman Mazmur 23:1 dan percaya bahwa hal itu adalah kebenaran, maka saya akan terus menerus memperkatakan bahwa “Aku takkan kekurangan suatu apapun karena Tuhan adalah Gembalaku yang baik.”  Lalu saya akan membayang-bayangkan diri saya hidup tanpa kekurangan.  Tidak kekurangan uang untuk bayar listrik dan telepon.  Tidak kekurangan benih uang untuk ditabur ke dalam pelayanan Injil. Tidak kekurangan kesehatan. Tidak kekurangan teman.  Selalu bisa bayar cicilan hutang dan jika hutang itu sudah lunas maka saya tidak akan pernah kekurangan uang untuk beli apapun secara tunai. Tidak kekurangan ide. Wah enaknya hidup tanpa kekurangan apapun karena Tuhan adalah Gembalaku yang baik!

Hasil dari merenungkan firman ini terus menerus akan membuat manusia roh saya bertumbuh dan jika hati saya sudah penuh dengan firman ini maka iman saya terhadap firman itu akan meluap keluar dari mulut saya dalam bentuk perkataan (Matius 12:34-37).  Dan jikalau perkataan firman keluar dari mulut saya dengan iman, maka perkataan saya itu berisi segala kuasa kekuatan Tuhan untuk mewujudkannya di alam nyata.  Kalau saya berpegang teguh terhadap iman saya itu maka saya sungguh tidak akan pernah kekurangan suatu apapun juga.

Ingat bahwa Kaleb, Yairus dan perempuan pendarahan di awal artikel ini menerima mujizat mereka sesuai dengan perkataan mereka. Tanpa perkataan iman anda kuasa Tuhan tidak akan terwujud dalam kehidupan anda.

Yesus pun harus berkata kepada pohon ara baru pohon itu mati.  Kalau Yesus cuma sekedar cemberut saja pasti pohon ara itu tidak akan mati.  Allah Bapa pun harus berfirman baru Roh Allah dapat bekerja untuk memisahkan gelap dari terang.

Allah Bapa berfirman bahwa Ia siap sedia melakukan firmanNya (Yeremia 1:12). MalaikatNya pun siap sedia melaksanakan firmanNya yang disuarakan (Mazmur 103:20). Apalagi yang anda tunggu? Segera taburkan benih perkataan iman anda, maka iman anda itu pasti akan menghasilkan bagimu (Matius 17: 20; Markus 11:23, Lukas 17:5).