Bagaimana Melepaskan Imanmu

Oleh Kenneth E. Hagin

Bulan ini kita akan melihat bagaimana mengaktifkan iman atau “bagaimana melepaskan imanmu.” Sebelum kita melakukan itu, mari kita lihat kembali beberapa kebenaran yang penting tentang iman.

Pertama, apa itu iman? Menurut Ibrani 11:1, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Terjemahan James Moffatt mengatakan, “Sekarang iman berarti bahwa kita percaya akan apa yang harapkan, yakin atas apa yang kita tidak lihat.” Disini Tuhan mengatakan kepada kita apa itu iman.

Ada beberapa macam iman. Setiap orang, selamat maupun belum diselamatkan semuanya memiliki iman natural dan manusiawi. Akan tetapi ayat di atas membicarakan tentang iman supernatural – iman yang percaya dengan hati dan bukan percaya menurut indera kita. Iman, dengan kata lain, ialah membawa pengharapan kita yang tidak nyata menjadi nyata.

Sekarang bagaimana iman timbul? Bagaimana iman timbul untuk keselamatan, baptisan Roh Kudus, pemenuhan kebutuhan rohani dan materi, kesembuhan, atau apapun juga? Roma 10:17 berkata, “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.”

Kalau anda menginginkan iman, pelajari Firman Tuhan, Alkitab, yang telah diberikan kepada kita. Dan kebenaran yang disingkapkan dalam halaman-halaman Alkitab akan menghasilkan iman yang paling sempurna terhadap Tuhan. Apapun yang anda doakan dan percaya Tuhan akan lakukan bagi anda, temukan ayat-ayat yang menjanjikan hal tersebut. Lalu kemudian berdiri teguh atas firman itu.

Dalam Kisah Para Rasul pasal 14, kita melihat sebuah contoh bagaimana iman timbul, dan bagaimana iman dilepaskan. Perikop ini menceritakan tentang pelayanan Saul, atau Paul, dan Barnabas. Selama masa perjalanan misionaris pertama mereka, dianiaya oleh orang Yahudi yang tidak percaya, mereka melarikan diri ke kota-kota Listra dan Derbe, dimana kisah berikut terjadi.

“Di situ mereka memberitakan Injil. Di Listra ada seorang yang duduk saja, karena lemah kakinya dan lumpuh sejak ia dilahirkan dan belum pernah dapat berjalan. Ia duduk mendengarkan, ketika Paulus berbicara. Dan Paulus menatap dia dan melihat, bahwa ia beriman dan dapat disembuhkan. Lalu kata Paulus dengan suara nyaring: “Berdirilah tegak di atas kakimu!” Dan orang itu melonjak berdiri, lalu berjalan kian ke mari” (Kisah 14:7-10).

Bagaimana seorang cacat dari lahir menerima iman untuk disembuhkan? Dengan mendengar Injil diberitakan: “Jadi iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran akan firman Kristus” (Rom. 10:17).

Dan bagaimana kesembuhannya menjadi nyata? Ada karunia-karunia kesembuhan dan manifestasi khusus dari Roh Kudus yang bekerja menurut kehendak Roh. Tetapi orang ini tidak disembuhkan oleh karena salah satu dari itu.

Seseorang mungkin berkata, “Paulus khan seorang rasul. Itulah sebabnya mengapa orang cacat itu disembuhkan.” Tidak, orang itu tidak disembuhkan karena Paulus seorang rasul. Ia disembuhkan karena ia memiliki iman! Dan ia menerima iman itu dari apa yang ia dengar. “Ia duduk mendengarkan, ketika Paulus berbicara” (Kisah 14:9).

Lalu sekarang, perhatikan akhir dari ayat 9: “…ia beriman dan dapat disembuhkan.” Ayat ini mengatakan bahwa orang cacat itu memiliki iman untuk disembuhkan ketika Paulus melihat kepadanya, tetapi apakah kesembuhannya telah terwujud? Tidak, ia masih tetap duduk karena cacatnya. Mengapa? Karena ia belum melepaskan imannya kedalam tindakan. Ia belum melepaskan imannya.

Paulus tahu hal yang sama seperti yang diketahui oleh Yakobus. Menurut Yakobus 2:17, “Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” Itu tetap iman, tetapi mati. Yakobus melanjutkan dengan berkata, “…tunjukkan kepadaku imanmu tanpa perbuatan yang sesuai dan aku akan menunjukkan imanmu dengan perbuatan-perbuatanku” (Yakobus 2:18, terjemahan Weymouth).

Perhatikan bahwa Paulus, berbicara kepada orang cacat di Listra, “Kata Paulus dengan suara nyaring: ‘Berdirilah tegak di atas kakimu!’”(Kisah 14:10). Dan firman berkata orang itu melonjak berdiri dan berjalan. Dengan kata lain, Paulus berkata, “Bertindaklah atas imanmu!” dan orang itu seketika disembuhkan, puji Tuhan! Anda lihat, iman disingkapkan atau dilepaskan dalam perkataan dan perbuatan.

Kita lihat contoh lain tentang prinsip itu dalam Markus pasal 11.  Di situ kita membaca bahwa Yesus menjadi lapar. Ia melihat sebuah pohon ara tetapi tidak menemukan apapun kecuali dedaunan, dan Ia mengutuknya. Pagi hari berikutnya, ketika mereka melalui pohon itu, murid-murid menyatakan bahwa pohon itu mati kering dari akarnya. Perhatikan perkataan Yesus, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka ia akan memiliki apapun yang ia katakan” (Markus 11:23, King James Version).

Dalam Kisah Para Rasul 14:10 kita membaca Paulus memerintahkan orang cacat di Listra, “Berdirilah tegak di atas kakimu,” dan orang itu berdiri. Ia bertindak atas imannya. Dalam Markus 11:23, Yesus berkata, “…barangsiapa BERKATA…” Berkata adalah sebuah tindakan, bukan? Ketika anda mengatakan sesuatu, itu adalah sebuah tindakan.

Aman jika kita katakan bahwa tidak ada iman atau iman adalah mati tanpa perkataan atau perbuatan. “…Tunjukkan kepadaku imanmu tanpa perbuatan yang sesuai dan aku akan menunjukkan imanmu dengan perbuatan-perbuatanku” (Yakobus 2:18, terjemahan Weymouth).

Tindakan dan perkataan kita harus tetap konsisten dengan Firman Tuhan. Saya telah memperhatikan selama bertahun-tahun sebagian orang yang berdoa bersama saya diberkati dan merasa baik, lalu kemudian mereka hanyut terbawa perasaan mereka. Mereka mungkin memiliki sebuah kebutuhan keuangan yang besar. Tetapi setelah berdoa dan meminta bantuan dari Tuhan, mereka berkata, “Oh, puji Tuhan, aku merasa Tuhan mendengarkanku! Haleluya!” dan mereka pergi dan bersorak karena hal itu.

Tetapi seringkali, perasaan tidak lenggang, dan banyak perasaan yang tidak berdasarkan pada Firman Tuhan. Ketika perasaan mereka berubah, mereka berubah. Mereka bukan lagi orang yang sama seperti sehari sebelumnya ketika perasaan mereka baik, dan mereka meneriakkan kemenangan. Misalnya, keesokan harinya, mereka bertemu seorang teman yang menanyakan kabar mereka.

“Oh, buruk sekali,” jawab mereka. “Sepertinya bank akan bertindak dan mengambil rumah kami. Mereka akan mencabut telepon. Kami akan kehilangan mobil kami.”

Tetapi sehari sebelumnya, mereka berkata mereka percaya Tuhan mendengar mereka! Tentu saja, anda akan diberkati karena berdoa dan merasa baik tentang hal itu. Tuhan akan memberkati anda. Tetapi saya percaya Ia mendengarkan doa saya karena Firman berkata demikian, bukan karena perasaaan saya.

Anda harus belajar berdiri teguh di hadapan kekalahan dan berkata, “Kemenangan adalah milikku!” Saya telah melakukan itu berkali-kali. (Saya tidak akan menganjurkan anda melakukan sesuatu yang saya belum lakukan.) Tuhan tidak akan meninggalkan anda, apakah anda merasakan atau tidak merasakan hadiratNya.

Orang telah bertanya kepada saya berkali-kali apakah saya membutuhkan sesuatu. Saya menjawab, “Aku tidak memiliki kebutuhan apapun.” Mereka akan berkata, “Kau bohong.”

Tidak, saya tidak berbohong. Saya mengutip sebuah ayat. “Allahku akan memenuhi keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaanNya dalam Kristus Yesus” (Fil. 4:19). Karena Ia memenuhi keperluanku, saya tidak membutuhkan apapun! Anda lihat, dengan mempercayai Firman Tuhan seperti itu akan membuat Tuhan bertindak atas nama saya.

Ini bukanlah sesuatu yang bekerja dalam keadaan darurat. Ini adalah gaya hidup. Ini adalah cara anda seharusnya hidup.

Beberapa orang berkata, “Tuhan tahu kebutuhanku. Dan apapun yang Ia berikan akan saya terima.” Kedengarannya rendah hati. Tetapi waktu anda berkata atau berpikir seperti itu, anda berpindah ke wilayah iblis, dan iblis akan membuat anda kewalahan dan kalah!

Tidak. Alkitab berkata, “…barangsiapa berkata…tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka ia akan memiliki apapun yang ia katakan” (Markus 11:23).

Dimana orang percaya? Dalam hatinya. Dan apa yang ia percayai? Ia percaya “…hal-hal yang ia perkatakan akan terjadi.” Hal-hal yang ia katakan adalah perkatakan, bukan? Anda lihat, hal-hal itu belum terjadi. Ia percaya hal-hal itu akan terjadi.

Saya telah mengatakan ini lebih dari enam puluh lima tahun, dan saya tidak akan berhenti mengatakannya sekarang, karena ini adalah kebenaran: kalau anda tidak puas dengan apa yang anda miliki dan keberadaan anda, maka berhenti percaya apa yang anda percayai selama ini dan berhenti memperkatakan apa yang anda katakan selama ini. Anda telah menciptakan apa yang anda miliki dan keberadaan anda. Yesus berkata, “…ia akan memiliki APAPUN YANG IA KATAKAN.”

Alkitab berkata, “Atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan” (Mat. 18:16; 2 Kor. 13:1). Kita memiliki satu saksi dalam Markus 11:23. Saya tidak tahu saksi yang lebih baik dari Yesus. Ia yang mengatakan demikian. Tetapi mari kita lihat beberapa ayat lainnya.

Misalnya, perhatikan prinsip iman yang sama bekerja dalam Markus 5:25-34 dalam kasus perempuan dengan pendarahan. “Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan. Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk. Dia SUDAH MENDENGAR BERITA-BERITA TENTANG YESUS, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubahNya. SEBAB KATANYA: “Asal kujamah saja jubahNya, aku akan sembuh.” Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya. Pada ketika itu juga Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga [kata Yunaninya ialah “dunamis,” diseluruh Perjanjian baru diterjemahkan sebagai kekuatan] yang keluar dari diriNya, lalu Ia berpaling di tengah orang banyak dan bertanya: “Siapa yang menjamah jubahKu?” Murid-muridNya menjawab: “Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakkan dekatMu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menjamah Aku?” lalu Ia memandang sekelilingNya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu. Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan tersungkur di depan Yesus dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepadaNya” (Markus 5:25-33).

Sekarang lihat di Markus 5:34, “Maka kataNya kepada perempuan itu: ‘Hai anakKu imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!’”

Iman siapa yang menyembuhkan perempuan itu? Iman Yesus? Bukan, iman perempuan itu yang menyembuhkannya. Dan karena imannya menyembuhkannya, maka iman anda dapat menyembuhkanmu.

“Ya, tetapi saya tidak memiliki iman!” kata anda.

Tetapi perempuan itu memiliki iman, dan kalah anda temukan bagaimana ia mendapatkan iman, anda bisa mendapatkannya juga. Lihat ayat 27: “Dia SUDAH MENDENGAR BERITA-BERITA TENTANG YESUS, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubahNya.” Ia memiliki iman karena “ia sudah mendengar.” Kedengarannya sama seperti orang cacat di Listra dalam Kisah 14:9: “Ia duduk mendengarkan, ketika Paulus berbicara.”

Lihat ayat 28: “SEBAB KATANYA: ‘Asal kujamah saja jubahNya, aku akan sembuh.’” Sekarang baca ayat-ayat 28 dan 34. “SEBAB KATANYA: ‘Asal kujamah saja jubahNya, aku akan sembuh.’…maka kataNya kepada perempuan itu: ‘Hai anakKu, imanmu telah menyembuhkan engkau…” (Markus 5:28,34).

Apa yang ia katakan adalah imannya yang berbicara. Dan apa yang anda katakan adalah imanmu beicara!

Dalam tahun 1949, waktu saya pertama mulai dalam pelayanan, saya biasanya mengadakan kebaktian dalam gereja-gereja dalam berbagai ukuran. Saya mengadakan dua kebaktian setiap hari – pagi dan malam – hingga selama sembilan minggu setiap kali di setiap gereja. Dalam tahun 195, sebuah gereja Full Gospel dengan jemaat sebesar 800 hingga 1.200 adalah gereja besar. Jadi dengan pertemuan-pertemuan selama berminggu-minggu, saya punya waktu untuk menangani jemaat.

Dalam gereja-gereja yang lebih kecil, kami akan melayani orang sakit dengan menumpangkan tangan hanya pada malam hari setiap hari Selasa dan Jumat. Dalam gereja-gereja yang lebih besar, kami melayani orang sakit setiap malam.

Saya akan berbicara dengan setiap orang yang maju. Pertama, saya akan berkhotbah. Lalu saya akan memberikan panggilan altar untuk keselamatan, rededikasi, dan baptisan Roh Kudus, kemudian mengirimkan orang-orang ke ruang doa. Saya akan duduk di kursi di atas podium. (Dengan begitu saya bisa bertahan lebih lama. Kalau anda kecapaian, urapan akan terangkat dan anda tidak bisa melayani dengan baik.) Saya akan meminta orang antri untuk saya tumpangakan tangan untuk kesembuhan, dan sebagian dari mereka akan disembuhkan.

Kami akan memiliki 10 sampai 25 orang berbaris, atau di gereja yang besar, 50. Saya akan menanyakan kepada mereka satu persatu apakah mereka sudah lahir baru dan, jika sudah, untuk apa mereka maju ke depan. Saya akan bertanya apakah mereka mengharapkan untuk disembuhkan kalau saya menumpangkan tangan kepada mereka. Kalau mereka menjawab, “Ya, saya berharap begitu,” maka saya akan berkata kepada mereka, “Anda tidak akan sembuh.”

Karena pertemuannya berlangsung setidaknya selama tiga minggu, ketika jemaat di gereja-gereja kecil berkata seperti itu, saya akan berkata kepada mereka, “Jangan kembali untuk kesembuhan setidaknya sampai dua minggu mendatang.” Kalau kami ada di gereja yang lebih besar, untuk menumpangkan tangan kepada orang sakit setiap malam, saya akan mengatakan kepada mereka, “Jangan kembali untuk kesembuhan setidaknya sampai tiga malam kemudian, dan sebenarnya, lebih lama lebih baik.” Dalam semua kesempatan, saya akan mengatakan kepada mereka, “Datang di setiap pertemuan sebisamu, Didik dirimu ke dalam iman!

Anda dapat mendidik dirimu ke dalam iman seperti halnya anda dapat mendidik diri anda ke dalam ketidakpercayaan! Anda tahu bagaimana orang mendidik diri mereka ke dalam ketidakpercayaan? Mereka terus menerus membicarakannya. Perkataan anda bekerja seperti halnya iman bekerja.

Saya akan berkata kepada mereka, “Waktu anda pulang ke rumah malam ini, dan anda siap untuk pergi tidur, katakan, ‘Lain kali saya pergi untuk ditumpangi tangan agar sembuh, saya akan sembuh!’

“Waktu anda di tempat tidur, setelah anda berdoa, hal terakhir sebelum anda tertidur, katakan, ‘Lain kali saya pergi untuk ditumpangi tangan agar sembuh, saya akan sembuh!’ Kalau anda terbangun tengah malam, katakan hal itu lagi. Hal pertama yang anda lakukan setelah anda bangun di pagi hari – sebelum anda beranjak dari tempat tidur – katakan, ‘Lain kali saya pergi untuk ditumpangi tangan agar sembuh, saya akan sembuh!’

“Sekarang kalau anda bekerja di luar rumah, jangan katakan hal itu keras-keras di tempat kerja. Mereka akan berpikir anda gila, dan anda anda menjadi gila karena berkata seperti itu di hadapan mereka. Mereka tidak akan mengerti. Tetapi katakan hal itu kepada diri anda sendiri. ‘Lain kali saya pergi untuk ditumpangi tangan agar sembuh, saya akan sembuh!’ Katakan itu setiap saat anda memikirkannya. Kalau anda tidak memikirkannya, anda tidak wajib melakukannya. Malam berikutnya, lakukan hal yang sama. Begitu juga malam berikutnya dan pagi hari berikutnya, lakukan hal yang sama. Terus katakan itu.”

Sewaktu orang melakukan itu di pertemuan saya, tidak seorangpun dari mereka yang gagal menerima kesembuhan mereka. Dan pendekatan yang sama juga berlaku bagi baptisan Roh Kudus. Tidak seorangpun yang gagal menerima. Hal itu bekerja setiap saat. Firman Tuhan selalu bekerja!

Saya telah mengajarkan hal ini selama beberapa waktu ketika saya mengetahui bahwa ada banyak dukungan dalam Firman mengenai prinsip ini lebih dari yang saya sadari. Suatu waktu ketika saya mengajar di suatu tempat di dekat sebuah sekolah Alkitab, seorang dosen bahasa Yunani datang ke kebaktian. Malam itu saya berkhotbah dari Markus 5 tentang perempuan dengan pendarahan. Setelah kebaktian orang itu berkata kepada saya, “Pak Hagin, malam ini saya melihat sesuatu yang belum saya lihat sebelumnya.”

Ia mengeluarkan buku Perjanjian Baru Yunani-nya dan berkata, “Sewaktu anda membaca cerita tentang perempuan itu, dari Alkitab, saya mengikuti anda dalam buku bahasa Yunani ini. Terjemahan King James Version mengatakan dalam ayat 28, “SEBAB KATANYA: ‘Asal kujamah saja jubahNya, aku akan sembuh”(Markus 5:28). Sekarang kata Yunani yang diterjemahkan sebagai kata di sini memiliki arti tindakan yang berkesinambungan. Dengan begitu, terjemahannya adalah, ‘Sebab ia terus berkata…”

Saya lebih tepat dari yang saya sadari! Menurut bahasa Yunani, bahasa dimana Perjanjian Baru berasal, bagian ayat itu berkata, “Sebab ia terus berkata…” Dan itulah yang saya suruh orang-orang itu lakukan. Saya menyuruh mereka terus memperkatakan. Mengapa? Karena Markus 11:23 berkata, “Barangsiapa yang berkata dan percaya akan memiliki apa yang ia katakan.”

Beberapa orang telah berkata, “Ya, saya tidak percaya itu.”

Saya selalu berkata, “Baik. Pergilah dan hidup tanpanya.” Saya tidak berkata demikian karena saya jahat tetapi untuk mengejutkan mereka dan untuk melihat apakah saya bisa membuat mereka menyadari hal itu. Saya percaya bahwa kalau saya terus memperkatakan apa yang saya percaya dalam hati saya, saya akan memilikinya. Itu telah bekerja bagi saya semenjak saya disembuhkan saat remaja, puji Tuhan, dan saya akan terus menerus melakukannya!

Jadi, kesimpulannya, kita mengaktifkan iman kita atau melepaskan iman kita dengan perbuatan. Dan perbuatan-perbuatan itu termasuk perkataan kita. Begitu kita percaya sesuatu dalam hati kita, kita perlu memperkatakannya dengan mulut kita. Kita perlu bertindak atas apa yang kita percayai!

<Diterjemahkan atas seijin Kenneth Hagin Ministries, P.O. Box 50126, Tulsa, OK 74150-0126, U.S.A., The Word of Faith, Oktober ©2000>